Wednesday , February 21 2018
Breaking News
Urgensi Seni-Budaya dalam Pembentukan Karakter Bangsa

Urgensi Seni-Budaya dalam Pembentukan Karakter Bangsa

Muhammadiyah menjadikan momentum akhir tahun untuk merefleksikan pentingnya menjaga nilai seni dan kebudayaan dalam menjaga dan membentuk karakter bangsa.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, Prof. Muhajir Effendy, MAP dalam sambutannya di acara Refleksi Akhir Tahun yang mengangkat tema Saatnya Seniman, Budayawan dan Olahragawan Bicara, di kantor pusat PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Selasa (23/12).

“Pendidikan kita hanya memiliki satu domain saja, yaitu cuma baca-tulis-hitung saja. Aspek estetik dan kinestetik sangat kurang, sehingga tidak seimbang,” ujar Muhajir.

“Cara berpikir seperti ini celakanya tak hanya mempengaruhi pemerintah, guru, murid, dan juga orang tua. Ini membuat anak didik tak bisa mengekspresikan dirinya.”

Menurut Muhajir, potret anak-anak didik yang keras dan kasar sekarang ini, adalah akibat dari kurangnya aspek seni dan sportivitas ini dalam pendidikan.

“Pendidikan seni yang ekspresif itu penting untuk membentuk mental anak-anak kita. Pendidikan kinestetis juga penting untuk menumbuhkan sportivitas, agar anak menghargai keunggulan teman dan sportif. Kalau kita lihat banyak yang kasar dan keras, harus kita akui itu karena kurangnya seni di keseharian anak didik kita,” papar Muhajir. 

“Kalau di luar negeri, di negara-negara maju itu orangtua justru kalau kasih les ke anaknya itu les musik, les lukis, les karate. Karena mereka paham nilai penting seni dan olahraga untuk membentuk karakter anak-anaknya,” lanjut Ketua PP Muhammadiyah ini. 

KH. Shalahudin Wahid dari Nahdlatul Ulama yang juga hadir dalam acara ini menyayangkan kurangnya perhatian pemerintah dan masyarakat kepada para seniman dan budayawan. Padahal mereka memiliki sumbangsih besar membentuk karakter bangsa.

“Indonesia masih belum punya tradisi menghormati seniman dan olahragawan. Dari 168 olahragawan tak ada satu pun yang jadi Pahlawan Nasional. Seniman pun hanya 8 orang. Padahal mereka amat berpengaruh pada bangsa Indonesia,” ujar pria yang akrab dipanggil Gus Sholah ini.

“Ibu Soed misalnya, ia telah membangun karakter anak-anak Indonesia seumuran saya. Termasuk saya berhutang budi kepada Ibu Soed.”

Gus Sholah menekankan pentingnya bangsa Indonesia menjaga dan menghargai budaya. Karena pada gilirannya budaya itu pula yang akan menjaga bangsa Indonesia dari ancaman-ancaman globalisasi dan liberalisasi. (Muhammad/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top