Monday , June 18 2018
Breaking News
Gus Mus: Semangat Berlebihan dalam Beragama Tanpa Diimbangi Pemahaman Akan Jadi Masalah

Gus Mus: Semangat Berlebihan dalam Beragama Tanpa Diimbangi Pemahaman Akan Jadi Masalah

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang yang juga dikenal sebagai budayawan KH Ahmad Mustofa Bisri mengatakan, orang beragama dengan semangat berlebihan tanpa ngaji itu menjadi masalah, jadi apapun harus ngaji.

Gus Mus, begitu ia kerap disapa menyampaikan, siapa yang ingin dunia, maka harus ngaji, bila ingin akhirat maka harus ngaji, siapa ingin keduanya juga harus ngaji .

“Semangat berlebihan dalam agama tanpa diimbangi pemahaman mendalam terhadap agama akan jadi masalah,” ujar Gus Mus saat tampil menjadi narasumber Mengaji Indonesia di UIN Surabaya, Senin (05/03) malam.

Ia katakan, di atas langit ada langit, di atas orang pintar ada yang lebih pintar. Ia menyampaikan kritiknya, sejauh ini kita tidak mendidik tapi hanya mengajar.

Dikatakan Gus Mus, mengaji itu dari lahir hingga liang lahat. Boleh berhenti sekolah tapi tidak boleh berhenti belajar.

Gus Mus menyampaikan, kita itu dari berbagai manusia yang mempunyai kedudukan sendiri-sendiri. Permasalahasan-permasalahan tentang menjaga keindonesiaan segala macam, menjaganya juga berbeda-beda

“Ada persoalan-persoalan di masyarakat kita, dan paling saya hanya mampu ngomong atau menulis, pemerintah itu berbeda atau lain dengan saya, kalau saya mengimbau, itu pantas, tapi kalau pemerintah itu mengimbau itu kurang pantas. (pemerintah) bisa melaksanakan, mempunyai wewenang,” ucap Gus Mus.

“(menangani ) persoalan-persoalan ini pemerintah harus di depan karena yang mempunyai tanggung jawab melayani umat ini hanya pemerintah. Jadi soal halal haram, diskriminasi dan lainnya, kalau sekedar pak rektor apalagi saya, itu tidak bisa,” lanjut Gus Mus.

Menurut Gus Mus, pemerintah harus tegas. Karena ini negara hukum, maka harus taat hukum, siapapun harus taat hukum.

“Jadi harus ada yang langsung melakukan eksekusi karena memiliki wewenang, ada yang mengimbau, dan semuanya bareng-bareng mendandani rumah kita,” kata Gus Mus.

Dengan demikian, lanjut Gus Mus, kita saling mendukung untuk kepentingan Indonesia ini, dalam rumah ini tentu saja berbeda-beda , isinya macam-macam. Intinya sudah diajarkan agama, yaitu dengan rahmatan atau kasih sayang.

“Asal kita mendahulukan kasih sayang, kita tidak hanya akan masuk surga, tapi kita sudah di surga itu sendiri,” ujar Gus Mus.

Abdul A’la dalam uraiannya menyampaikan, mengutip salah satu hasil penelitian, bahwa yang mengikat bangsa Indonesia adalah agama.

Menjawab pertanyaan sesi dialog yang dipandu Menag yang tampil menjadi host Mengaji Indonesia, praktisi media Rosianna Silalahi mengatakan, media itu menggunakan hukum pasar, karena alasan bisnis, hukumya seperti itu.

“Tapi ada yang lebih penting dari sekedar hukum pasar, rating, yaitu menjaga harmonisasi. Media harus juga memiliki tujuan penting kehadirannya, kalau hanya karena rating, tentu pertaruhannya besar buat bangsa ini,” ujarnya.

Menag selaku host menyampaikan apresiasinya kepada peserta Mengaji Indonesia yang tetap bertahan mesti malam semakin larut.

Menag menyampaikan sejumlah poin penting dari Mengaji Indonesia perdana ini yang disampaikan narasumber, antara lain; pertama, Indonesia hakekatnya adalah rumah kita , rumah milik kita bersama yang karenanya tidak perlu diajari, diperintah untuk bagaimana menjaga rumah kita sendiri.

“Tapi itu hakekatnya harus muncul dari kesadaran masing-masing dari kita, karena itu adalah rumah kita,” kata Menag.

Kedua, poin yang menarik adalah kita memiliki peluang yang lebih besar menanamkan nilai-nilai yang tidak kalah pentingnya dari hanya sekedar pengajaran yaitu nilai-nilai budi pekerti, etika, karena itu adalah salah satu hahekat agama, karena inti agama itu adalah akhlak.

“Dan akhlak itu adalah bagaimana kita memperlakukan sesama kita denga sebaik-baiknya , sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain dengan baik,” ujarnya.

Ketiga, ujar Menag, kalau selama ini merasakan dan menemui adanya gesekan-gesekan atau konflik, kita cenderung ekplosif, sensitif, juga karena pengaruh sosial media, terkesan hitam putih, mudah menyalahkan dan lainnya.

“Maka mari kita jadikan itu semua tantangan bagi kita, khususnya civitas akademika, orang-orang yang sebenarmya (mengutip ungkapan Gus Mus) memiliki peluang untuk mengaji, memiliki wawasan lebih dari yang lain untuk lebih proaktif mengisi ruang publik khususnya di sosmed, sehingga paham keagamaan Islam khususnya yang senantiasa menebarkan kedamaian lebih mewarnai ruang wacana kita, sehingga keindonesiaan kita adalah Indonesia yang ramah, santun dan senantiasa menebarkan perdamaian dan tetap bisa kita jaga dengan baik,” tutup Menag.

Gelaran Mengaji Indonesia perdana ini mendapat atensi dan apresiasi dari masyarakat yang hadir memenuhi halaman gedung Twins Tower UIN Surabaya. Panita juga menyediakan ahli bahasa isyarat bagi hadirin yang berkebutuhan khusus, selain penampilan menghibur kelompok musik Jaguar dan tim shalawat UIN Surabaya. (Kemenag)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top