Friday , April 20 2018
Breaking News
Opini – Kapan Mulai Menjadi Guru?

Opini – Kapan Mulai Menjadi Guru?

Menjadi guru dimulai saat ada seorang atau beberapa orang menyatakan diri menjadi muridnya. Proses seseorang menjadi guru amatlah lama. Memerlukan waktu untuk dapat dipercayai oleh seseorang atau beberapa orang yang menjadikannya tempat bertanya dan mengambil pengetahuan serta kearifan.

Kualifikasi sosok seperti ini berangkat dari kepribadian yang mulia, keluasan pengetahuan, dan berbagai kecakapan yang jarang dimiliki masyarakat luas. Seluruhnya diperoleh sejak usia amat belia hingga dewasa. Saat itulah ia akan tampil menjadi suluh dalam kegelapan budaya manusia.

Narasi ini adalah rangkaian bentangan fakta tentang sosok guru masa lampau. Pengetahuan masih disalurkan dengan cara yang amat sederhana. Hasilnya? Datanglah ke berbagai perpustakaan yang masih menyimpan buku-buku klasik. Berjilid-jilid buku yang ditulis oleh para guru itu justru saat hidup dalam keterbatasan perangkat teknis seperti saat ini. Mereka yang mengakhiri hidup dengan setumpuk karya intelektual adalah hasil bimbingan dari guru-guru agung, sekaligus mereka juga menghasilkan murid-murid gemilang.

Kapan menjadi guru? Jika pertanyaan ini dijawab sesuai dengan kenyataan saat ini maka jawabannya adalah tatkala seseorang sudah mendapatkan surat keputusan pengelola sekolah atau pemegang otoritas lembaga pendidikan yang menyatakan bahwa dirinya adalah guru di sekolah itu. Saat ini justru ditambah lagi, harus menjadi pemegang sertifikat profesi guru. Mengapa demikian? Saat itulah ia memiliki kewenangan untuk berdiri di depan kelas.

Adakah perbedaan guru dalam narasi pertama dengan sosok guru saat ini? Guru tempo dulu adalah sosok yang didatangi oleh orang yang hendak belajar, sedangkan guru saat ini adalah sosok yang dipertemukan dengan orang yang hendak belajar di suatu tempat bernama ruang kelas. Guru tempo dulu memiliki kedekatan jiwa yang amat dalam dengan muridnya, sedangkan guru saat ini kebanyakan memiliki jarak dengan muridnya. Guru yang harus menyiksa muridnya atas nama mendidik hanya terjadi di era ini, demikian juga murid yang menganiaya gurunya. Saat terjadi kekerasan antara murid dan guru maka saat itulah sang guru sebenarnya telah berhenti menjadi guru.

Apakah guru era dulu tidak pernah menghukum muridnya? Jamak di kalangan orangtua yang saat ini sudah berusia 70 tahun atau lebih cerita tentang cambuk seorang guru. Namun reaksi muridnya adalah perubahan sikap dan ketaatan. Disusul pula dengan rasa terima kasih setelah bertahun-tahun lamanya.

Guru era dulu, menampung muridnya dengan hati serta mengajar mereka lewat inspirasi-inspirasi dengan administrasi yang amat sederhana atau nyaris tanpa administrasi yang rumit. Saat guru dikepung oleh administrasi dan berbagai beban kompetensi tempelan, maka guru kekeringan proses untuk menginternalisasi kualifikasi utuh sosok guru ideal. Mereka tak menjadi guru lagi tatkala sertifikatnya dicabut.

Tidak harus seekstrim ini cara melihat guru, andai pada diri tiap guru sudah lebih dahulu menghadirkan kecintaan kepada setiap murid di awal interaksinya. Mungkin itulah makna membangun suasana di dalam konsep dasar pendidikan. Faktor terpenting di dalam pendidikan adalah terciptanya suasana belajar. Hanya guru yang dapat melakukannya. Mereka adalah sosok yang berhasil menghilangkan penolakan dan merapatkan jarak dengan para murid. Guru yang memulai pembelajaran saat masih ada bibit penolakan pada diri murid belumlah menjadi guru. Wallahu a’lam (Abu Mufadhdhal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top