Monday , July 23 2018
Breaking News
Iman Mutlak dan Iman Relatif (Bagian 1)

Iman Mutlak dan Iman Relatif (Bagian 1)

Iman Mutlak

Iman mutlak dimulai dari kesadaran diri. Diri adalah entitas abstrak yang tidak akan pernah bisa dikonsepsikan. Diri adalah poros kesadaran yang tidak dimulai dari konsep atau pengetahuan. Karena itu, setiap orang menyadari dirinya (‘arafa, ya’rifu).[1]  Karena menyadari dirinya, ia melakukan korespondensi dengan segala sesuatu di luar dirinya. Dari situlah tercetak konsep-konsep. Itulah yang disebut pengetahuan (‘ilm, ‘alima, ya’lamu).[2] Iman mutlak bersifat privat dan tidak bisa dijelaskan dengan frase dan metode apa pun. Yang bisa dijelaskan adalah sifat-sifat ontologis iman mutlak. Iman mutlak didekati secara filosofis dan mistik. Tuhan adalah mutlak dan Suci, sedangkan manusia adalah relatif dan tidak suci. Ketika Yang mutlak dan suci berhubungan dengan yang tidak mutlak dan tidak suci, maka Yang mutlak dan suci akan menjadi tidak suci atau sebaliknya. Jadi, tidak ada hubungan langsung antara Yang mutlak dan suci dengan yang relatif dan tidak suci. Tuhan yang mutlak dan suci tidak akan pernah berhubungan secara logis dengan manusia yang relatif. Begitu pula halnya dengan agama sebagai wahyu yang berasal dari Tuhan kepada manusia.

Iman Relatif

Iman relatif adalah iman yang diperoleh melalui konsepsi yang melahirkan pengetahuan. Disebut relatif karena subjek penerimanya relatif dan terbatas, yaitu manusia:

  1. Iman Pertama: Tauhid
    Pengetahuan konseptual tentang keesaan Tuhan adalah iman universal utama. Ketika ketuhanan dikembalikan sebagai dasar, maka kita akan bertemu dengan seluruh Iman Universal yang meniscayakan adanya Tuhan, apa pun agamanya. Dan tidak mesti yang bertuhan itu beragama. Kita tidak perlu mencampuradukkan keduanya karena banyak orang mempunyai faith without religion. Biar bagaimana pun, Tuhan lebih dahulu daripada agama itu sendiri.

    Ia terdiri atas dua prinsip. Pertama, prinsip bahwa Dzat Tuhan adalah sederhana (homogen), tidak terdiri atas bagian-bagian. Kedua, prinsip bahwa Tuhan tidak berbilang (Al-Ahadiyyah wa Al-Wahîdiyyah).[3] Sedangkan bukti-bukti ketidak-berbilangan Tuhan sebagai berikut:

    Pertama: Keterbilangan meniscayakan ketersusunan. Penjelasan: Seandainya ada sesuatu yang wajib (pasti ada dengan sendirinya), maka niscaya kedua entitas wajib tersebut berlainan. Seandainya masing-masing yang sama-sama wajib itu memiliki ciri khas, maka berarti masing-masing terdiri dari dua unsur; unsur persamaan (sama-sama wajib), dan unsur perbedaan karena masing-masing berjumlah dua.

    Kedua: Eksistensi tak terhingga tidak berbilang. Penjelasan: Sesuatu yang pasti ada dengan sendirinya tentu tidak berhingga, karena keterbatasan (keberhinggaan) wujud meniscayakan ketiadaan (kekosongan). Atas dasar inilah, zat (substansi) Tuhan tidak dapat diasumsikan sebagai wujud yang terbatas

    Ketiga: Wujud yang murni tidak berbilang. Penjelasan: Sebagaimana telah diketahui bahwa sesuatu yang wajib ada de-ngan sendirinya tidak mempunyai esensi (quiditas, keapaan) karena, setiap realitas yang bebas campuran (aksiden, genus, predikat, difrentia) bertentangan dengan dualitas dan pluralitas.

  2. Iman Kedua: Kerasulan
    Ketika keimanan kepada Rasul sebagai mediator itu ditambahkan sebagai dasar, maka titik temu itu mengerucut pada Islam Universal Pertama. Di situ terhimpun semua yang percaya kepada Rasul, apa pun keyakinannya.[4] Kerasulan mempertemukan semua pengiman agama kerasulan (Ahlul Kitab), Yahudi, Nasrani dan Islam, disebut Kerasulan Universal.

    Sampai di sini, kita dapat membedakan agama dalam dua dimensi, mutlak dan relatif. Agama yang diterima oleh seorang Rasul adalah mutlak dan agama yang dipahami oleh manusia terhadap ajaran seorang Rasul adalah relatif.

    Ketika agama disampaikan oleh Rasul kepada selain Rasul, maka hukum relativitas dan spekulasi berlaku. Dari sinilah manusia membentuk pemahaman relatifnya terhadap sesuatu yang mutlak itu yang kemudian disebut sebagai mazhab.

    Mazhab adalah cara pandang orang-orang yang tidak mutlak dan tidak suci ini terhadap yang suci dan mutlak. Dari seseorang yang tidak memiliki proteksi spiritual sebagaimana Rasul, mencoba memahami sesuatu yang disampaikan kepada Rasul. Sederhananya, mazhab itu adalah agama yang relatif, sebagaimana akan dibahas pada bagian selanjutnya.

  3. Iman Ketiga: Kerasulan Muhammad
    Prinsip kedua di atas melahirkan prinsip ketiga, yaitu kerasulan Muhammad Saw. Konsep yang mempertemukan semua pengiman kerasulan Muhammad Saw, disebut Islam Universal Kedua.

    Tiga prinsip inilah yang tersimpul dalam dua inti kalimat syahadat, Lâilâhaillallâh dan Muhammad Rasûlullâh. Inilah yang mestinya disebut Islam universal. Iman kepada kerasulan Muhammad secara otomatis memenuhi prinsip pertama dan prinsip kedua. Pengimannya disebut Muslim, yaitu orang yang berserah kepada Tuhan melalui mediasi kesucian Muhammad.

    Bagaimana sesuatu yang bersifat relatif bisa terhubung kepada Yang Mutlak? Karena Yang Mutlak dan yang relatif tidak bisa berhubungan, maka agama menjelaskannya dengan cara yang lebih mudah, yaitu melalui perantara seorang Rasul yang dianggap memiliki dimensi kemutlakan karena bisa berhubungan dengan Tuhan, sekaligus memiliki dimensi kerelatifan karena bisa berhubungan dengan manusia. Selain itu, prinsip ini bersifat filosofis epistemologis, yang disebut konsep gradasi.Seorang Rasul secara ontologis, merupakan afinitas eksistensial Tuhan, sesuai dengan prinsip emanasi menurut Ibnu Sina dan tasykîk al-wujûd menurut Mulla Shadra. Seorang Rasul inilah yang bisa menangkap wahyu Tuhan dan dianggap suci agar wahyu yang difirmankan kepadanya tidak terdistorsi dan tetap mutlak dan suci. Sedangkan manusia di bawah Rasul, yang tidak punya kesucian, secerdas dan sepandai apa pun dia tidak bisa menangkap wahyu yang mutlak dan suci itu.

    Islam adalah agama wahyu yang disampaikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Setiap Muslim pasti meyakini hal itu dan memastikan bahwa ajaran beliau adalah kebenaran wahyu yang suci. Kebenaran dan kesucian serta kemutlakan wahyu Allah diterima oleh orang yang suci. Kesucian beliau menjamin terjaganya wahyu suci dari Yang Mahasuci. Karena kesucian itulah, posisi beliau sangat istimewa dan tidak mungkin disejajarkan dengan siapa pun selamanya. Dan karena beliau suci, maka wahyu yang suci itu tetap akan suci dan benar secara mutlak, semutlak dan sesuci yang ada pada sisi Allah Swt.

    Karena itu pula, umatnya yang terdiri dari orang-orang yang tidak suci dan tidak bisa menangkap wahyu mutlak, pemahaman dan penafsiran terhadap wahyu yang tersampaikan melalui Alquran dan Sunnah beliau tidak akan pernah sama seperti wahyu yang diterima Nabi Saw. Sampai di sini, seluruh umat Islam, baik Sunni maupun Syiah, sepakat akan adanya penghubung antara umat dengan Rasul mereka. (Dikutip dari Buku “Syiah Menurut Syiah” Tim Penulis Ahlulbait Indonesia)

 

Catatan Kaki

  1. Ibnu Al-Manzhur, Lisân Al-’Arab, h. 2897-8, Dar Al-Ma’arif, Kairo, Mesir.
  2. Ibnu Al-Manzhur, Lisân Al-’Arab, h. 3082-3, Dar Al-Ma’arif, Kairo, Mesir.
  3. Ja’far Subhani, Al-Ilâhiyyât, Mu’assasah Al-Nasyr Al-Islami, 1990.
  4. Termasuk ‘Ahmadiyah’, terlepas apakah Ahmadiyah meyakini ada nabi lain setelah Nabi Muhammad Saw. Yang jelas titik temunya adalah Lâilâhaillallâh dan Muhammad Rasûlullâh. Ini tidak berarti kita menerima pandangan Ahmadiyah tentang adanya Nabi setelah Muhammad Saw sebagai sebuah kebenaran. Menerimanya sebagai sebuah kebenaran dengan menerimanya sebagai sebuah persepsi itu berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top