Monday , July 23 2018
Breaking News
Agama Mutlak dan Agama Relatif

Agama Mutlak dan Agama Relatif

Kata “agama” dalam bahasa Sansekerta adalah “kumpulan aturan”. Dengan akar kata “gam” yang berarti “pergi” dan awalan “a” berarti “tidak”. Maka “agama” berarti “tidak pergi” atau “yang tidak berubah”. Kalau “gama” diartikan “kacau”, maka “agama” artinya “yang tidak kacau” atau “teratur”. Berangkat dari pengertian terminologis ini, agama merupakan pedoman dasar untuk membuat manusia pemeluknya hidup teratur sesuai dengan yang diajarkan agama itu. Agama diklaim sebagai “kebenaran mutlak” karena dipercayai ajarannya bukan berasal dari manusia melainkan ilmu dan aturan Tuhan yang diturunkan kepada manusia melalui utusan-Nya.

Agama mutlak adalah wahyu Tuhan yang diturunkan berupa Alquran dan Sunnah Nabi. Karena itu, keduanya akan tetap mutlak dan suci berdasarkan asumsi keempat. Ketika disampaikan kepada yang tidak suci dan tidak mutlak, maka ia bukan lagi wahyu, namun persepsi yang relatif. Itulah “mazhab” yang merupakan interpretasi terhadap wahyu suci dan mutlak. Dengan kata lain, mazhab adalah agama relatif.

Agama Mutlak

Agama mutlak adalah wahyu suci yang diturunkan oleh Allah kepada manusia suci. Substansinya adalah keberserahan.Secara etimologis (asal-usul kata, lughawi) kata “Islam” berasal dari bahasa Arab: salima yang artinya selamat. Dari kata itu terbentuk aslama yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh.Sebagaimana firman Allah Swt, Bahkan, barang siapa aslama (menyerahkan diri) kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati. (QS. Al-Baqarah [2]: 112)

2_112

Dari kata aslama itulah terbentuk kata Islam. Pemeluknya disebut Muslim. Orang yang memeluk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah dan siap patuh pada ajaran-Nya. Kata “Islam” berasal dari akar kata Arab, S L M (Sin, Lam, Mim) yang berarti kedamaian, kesucian, penyerahan diri, dan ketundukkan.

Hammudah Abd Al-’Ati, menerangkan Islam dalam pengertian religius, “Kata Islam bermakna penyerahan diri kepada kehendak Tuhan dan ketundukkan atas hukum-Nya”(Submission to the Will of Allah and obedience to His Law). Hubungan antara pengertian asli dan pengertian religius dari kata Islam adalah erat dan jelas. Hanya melalui penyerahan diri kepada kehendak Allah Swt dan ketundukkan atas hukum-Nya, maka seseorang dapat mencapai kedamaian sejati dan menikmati kesucian abadi. (1)

Ada juga pendapat, akar kata yang membentuk kata “Islam” setidaknya ada empat yang berkaitan satu sama lain:
 Aslama, artinya menyerahkan diri. Orang yang masuk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah Swt. Ia siap mematuhi ajaran-Nya.
 Salima, artinya selamat. Orang yang memeluk Islam, hidupnya akan selamat.
 Sallama, artinya menyelamatkan orang lain. Seorang pemeluk Islam tidak hanya menyelematkan diri sendiri, tetapi juga harus menyelamatkan orang lain (tugas dakwah atau amar ma’ruf nahi munkar).
 Salam, artinya; aman, damai, sentosa. Kehidupan yang damai sentosa akan tercipta jika pemeluk Islam melaksanakan aslama dan sallama.

Secara terminologis (istilah, maknawi) dapat dikatakan, Islam adalah agama wahyu berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia, di mana pun dan kapan pun, yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.

Agama Relatif (Mazhab)

Agama wahyu yang dibawa oleh Muhammad putra Abdullah Saw ini secara prinsip tidaklah berbeda jauh dengan dua agama wahyu sebelumnya; Yudaisme dan Kristianisme. Perbedaan yang paling mencolok adalah terletak pada prinsip keesaan (monoteisme) dan prinsip kenabian. Bagi Muhammadisme, siapa pun selain Tuhan Swt, tidak layak dianggap sebagai Tuhan, anak Tuhan, menjelmakan Tuhan, atau menjadi tumbal Tuhan, meskipun, sebagian agamawan Kristen memberikan makna metafora untuk kata anak. Bagi Muhammadisme, Moses (Musa) dan Yesus (Isa) adalah para pewarta dan penerima wahyu Ilahi yang agung dan mulia, namun Nabi pemungkas dan termulia dan teragung adalah Muhammad Saw.

Para pengikut Muhammad sangat menghormati dan mengagungkan Musa dan Isa, namun orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Musa atau pengikut Isa tidak pernah menunjukkan sikap yang sama. (2) Ratusan ribu buku telah ditulis tentang Muhammad dan ajarannya baik oleh para tokoh Islam maupun non-muslim. Jumlah pengikutnya mencapai satu milyar dan menempati wilayah-wilayah strategis di planet bumi.

Namun sejarah para pengikut Muhammad tidak pernah sepi dari konflik berkepanjangan sejak detik beliau menghembuskan nafas terakhir, bahkan jauh hari sebelum beliau wafat. Sinisme dan kecemburuan tokoh-tokoh di sekitar pribadi agung Muhammad terhadap Ali bin Abi Thalib konon menjadi awal perpecahan dalam tubuh umat Islam. Dalam perkembangan sejarah berikutnya, dua kelompok itu akhirnya mengkristal dan menjadi realitas yang tak dapat dipungkiri. Para penganut Muhammadisme (Islam) terbagi menjadi dua himpunan besar; Islam Sunni dan Islam Syiah. Meski demikian, akhir-akhir ini para tokoh kedua kelompok besar tersebut senantiasa menyerukan persatuan, toleransi dan dialog.   (Dikutip dari Buku “Syiah Menurut Syiah” Tim Penulis Ahlulbait Indonesia)

 

Catatan Kaki

  1. Pluralisme Agama-agama, 46.
  2. Ibnu Manzhur, Lisân Al-’Arab, h. 1522, Dar Al-Ma’arif, Kairo, Mesir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top