Sunday , August 19 2018
Breaking News
Keadilan Sahabat Menurut Alquran dan Al-Sunnah Al-Nabawiyah

Keadilan Sahabat Menurut Alquran dan Al-Sunnah Al-Nabawiyah

Dalam perang Uhud, ketika mendengar kabar bahwa Rasulullah terbunuh, banyak di antara sahabat yang kembali lemah imannya, bahkan mengarah ke arah kemurtadan, sehingga turunlah ayat,

_baca_blob

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau terbunuh, kalian akan berbalik ke belakang (murtad)? (QS. Âli ‘Imrân [3]: 144)

Ibnu Katsir mengatakan bahwa ayat ini turun untuk peristiwa perang Uhud, untuk sahabat setelah mendengar Rasulullah telah terbunuh.  (1)

Ayat di atas menjelaskan tentang kemungkinan berpaling dan goyahnya keimanan sahabat (hanya setelah mendengar berita bohong terbunuhnya Rasul). Mungkinlah kita menyifatkan mereka dengan ‘adil mutlak’ kepada yang berpotensi untuk murtad?

Ibnu Katsir menulis tentang sahabat yang meninggalkan Rasul yang sedang khutbah Jum’at hanya karena perdagangan. Dia berkata bahwa Imam Ahmad berkata, Ibnu Idris dari Hushain bin Salim dari Jabir, ia berkata, “Aku sering masuk ke Madinah dan ketika Rasulullah Saw sedang berkhutbah orang-orang meninggalkan beliau dan tersisa hanya dua belas orang saja, kemudian turunlah ayat  QS. Al-Jumu’ah [62],  (2)

tulisan-arab-alquran-surat-al-jumuah-ayat-11

Dan apabila mereka melihat perdagangan (yang menguntungkan) atau permainan (yang menyenangkan) mereka bubar dan pergi ke sana meninggalkan engkau berdiri (berkutbah). (QS. Al-Jumu’ah [62]: 11)

Untuk penelitian dan eksplorasi yang mendalam tentang kritik Alquran terhadap sahabat, silahkan membuka kitab-kitab berikut:
Tafsir surah Ali ‘Imrân ayat 161 oleh Ibnu Katsir, Tafsîr Al-Qur’ân Al-’Azhîm, juz 3, h. 237-250 dan Al-Thabari, Tafsîr Al-Thabari, juz 7, h. 348-365.
Tafsir surah Al-Anfâl ayat 1 oleh Ibnu Katsir, Tafsîr Al-Qur’ân Al-’Azhîm, juz 7, h. 5-14, tafsir surah Al-Hujurât ayat 6 oleh Ibnu Katsir, Tafsîr Al-Qur’ân Al-’Azhîm, juz 13, h. 144-147.

Lihat juga tafsir surah Ali ‘Imrân ayat 103, Al-Ahzâb ayat 12-13, Al-Taubah ayat 60 dan 101-102, Al-Hujurât ayat 14, dan lain-lain yang tidak memungkinkan kita urai dan tulis satu persatu pada tempat ini.

Baca juga Klasifikasi Sahabat Nabi Saw di Hadapan Hukum, Akal dan Sejarah

Alquran, sebagaimana telah kita uraikan, melihat sahabat sebagaimana tabi’in, yang di antara mereka ada yang adil dan yang fasiq, yang shaleh dan thaleh dan lain-lain. Sekarang marilah kita menengok sahabat dalam hadis-hadis Nabi Saw.

Al-Hakim dalam Al-Mustadrak meriwayatkan bahwa Rasulullah tidak (mau) menyalati seorang sahabat yang meninggal karena bunuh diri. (3)

Rasulullah berlepas tangan dari Khalid bin Walid, karena membunuhi Bani Juzaimah yang telah menerima Islam, sebagian yang hidup lalu ditawan, tapi kemudian para tawanan itu pun dibunuh juga. Rasul mengangkat tangan ke langit “Ya Allah, aku berlepas tangan dari yang diperbuat Khalid” beliau mengatakannya dua kali. (4)

Rasulullah Saw melaknat Hakam bin Ash bin Umayyah bin Abd Al-Salam, paman Ustman bin Affan dan ayah Marwan dan melaknat apa yang terdapat dalam tulang rusuknya (keturunannya).

Rasulullah bersabda, “celaka bagi umatku dari apa yang terdapat pada tulang rusuk orang ini (keturunan Hakam bin Ash).” Dalam hadis, ‘Aisyah berkata kepada Marwan bin Hakam, “Aku bersaksi bahwa Rasulullah melaknat ayahmu, sedangkan engkau ketika itu berada pada tulang rusuknya.” (5)

Bukhari dan Muslim meriwayatkan banyak sahabat Nabi dimasukkan ke dalam neraka dan tertolak dari kelompok Nabi Saw. Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi telah bersabda,

“Tatkala aku sedang berdiri, muncullah segerombolan orang yang kukenal dan muncul pula seorang lelaki di antara diriku dan rombongan itu. Lelaki itu berkata, “Ayo.” Aku bertanya, ‘Kemana?’ Ia menjawab, ‘Ke neraka, demi Allah!’ Aku bertanya, ‘Ada apa dengan mereka?’ Ia menjawab, ‘Mereka berbalik setelah engkau wafat.’ Dan yang lain dari Asma’ binti Abi Bakar yang berkata, Nabi bersabda, “Takala berada di Al-Haudh, aku tiba-tiba melihat ada di antara kamu yang mengingkariku, yang mengikuti selain diriku.” Aku berkata, ‘Ya Rabbi, dari diriku dan umatku?’ Dan terdengar suara, ‘Apakah engkau mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu? Demi Allah mereka terus mengingkarimu.’

Dari bab yang sama yang berasal dari Sa’id bin Musayyib yang berasal dari para sahabat Nabi bahwa Nabi bersabda,

“Di Al-Haudh sejumlah sahabat berbalik dan aku bertanya, ‘Ya Rabbi mereka adalah sahabatku!’ Dan Nabi mendapat jawaban, ‘Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan sesudahmu. Mereka telah berbalik mengingkarimu!’ Riwayat ini juga disampaikan oleh Sahl bin Sa’d. Bukhari juga meriwayatkan yang berasal dari Ibnu Abbas, Nabi Saw bersabda, “Dan sejumlah sahabat mengambil jalan kiri dan aku berseru, ‘Sahabatku, sahabatku!’ dan terdengar jawaban, ‘Mereka tak pernah berhenti berbalik ingkar sejak berpisah denganmu.’” (6)

Muslim juga meriwayatkan, Nabi bersabda, “Sebagian orang menjadikan aku sebagai sahabat akan berbalik dariku di telaga Haudh, yaitu tatkala dengan tiba-tiba aku melihat mereka dan me-reka melihat kepadaku, kemudian meninggalkanku dan aku benar-benar akan bertanya, ‘Wahai Rabbi, para sahabatku.’ Dan terdengar, ‘Engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan sesudahmu.’” (7)

(Dikutip dari Buku “Syiah Menurut Syiah” Tim Penulis Ahlulbait Indonesia)

 

Catatan kaki

  1. Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’ân Al-’Azhîm, juz 3, h. 201, cet. 1, Muassasah Qurtubah, Jizah, Mesir, 2000 M (1421 H). Ibnu Qayyim, Zâd Al-Ma’âd, h. 253.
  2. Kejadian ini juga direkam dalam Al-Shahîhain. (lih. Tafsir Ibnu Katsir 4/378, Al-Suyuthi, Al-Durr Al-Mantsûr, h. 220-223. Shahîh Al-Bukhârî, h. 222, hadis 936, Shahîh Muslim, h. 392, hadis 1881.
  3. Imam Bukhari, Shahîh Al-Bukhâri, h. 300, hadis 1269, kitab Al-Janaiz, bab Al-Kafan fi Al-Qamish, Dar Al-Fikr, Beirut, Lebanon, 2000.
  4. Imam Bukhari, Shahîh Al-Bukhâri, h. 1057, hadis 4339, kitab Al-Maghazi, bab Ba’atsa Al-Nabi Khalid bin al-Walid, Dar Al-Fikr, Beirut, Lebanon, 2000.
  5. Al-Nasa’i, Kitab Al-Sunan Al-Kubra, juz 10, h. 257, hadis 11427, cet. 1, Muassasah Al-Risalah, Beirut, Lebanon, 2001 M (1421 H). Al-Suyuthi, Al-Durr Al-Mantsur, juz 13, h. 328, tafsir QS. Al-Ahqaf [46]: 17.
  6. Imam Al-Bukhari, Shahîh Al-Bukhârî, h. 1656-7, hadis 6587, kitab Al-Riqâq, bab Fî Al-Haudh. Bandingkan juga dengan hadis 6576, 6582, 6583, 6584, 6585, 7048, 7049, 7050, 7051. Juga lihat dua buah hadis dalam riwayat Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal, j. 38, hadis 23290 dan 23393; j. 21, hadis 13991.
  7. Imam Muslim, Shahîh Muslim, h. 1152, hadis 5890, kitab Al-Fadhail, bab Itsbat Haudh Nabiyyina wa Shifatihi, cet. 1, Dar Al-Fikr, Beirut, Lebanon, 2002. Bandingkan dengan hadis-hadis sebelumnya. Lihat juga Musnad Al-Imâm Ahmad bin Hanbal pada catatan kaki sebelum ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top