Monday , July 23 2018
Breaking News
Duet Maut DDII-MUI untuk Pecah Belah Umat

Duet Maut DDII-MUI untuk Pecah Belah Umat

“SAYA bertanya kepada teman yang jadi pengurus MUI pusat, apakah buku penyesatan atas Syiah didanai Arab Saudi? Dia bungkam.

Saat bangsa Indonesia berduka di tengah rentetan musibah nasional yang menggerus seantero ibu pertiwi, sekelompok kecil massa intoleran tanpa rasa risau dan risih malah menggelar hajatan berisi hujatan terhadap sesama anak bangsa. Perhelatan beraroma provokasi yang diklaim sebagai “sosialisasi fatwa MUI tentang penyimpangan Syiah” dan dilangsungkan di Aula utama Pusat Informasi Haji (PIH), Batam, Minggu (2/2), itu diprakarsai dua lembaga yang belakangan mendadak gencar mendiskreditkan mazhab Islam Syiah: Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII).

Acara serupa, sebagaimana diakui pihak panitia, juga sebelumnya telah digelar di beberapa kota lain, sebut saja di Bogor, Bekasi, Bandung, Semarang, Makassar, dan lain-lain. “Memang, acara ini bagian dari serangkaian road-show di berbagai kota di Indonesia.” Kebanyakan hadirin berasal dari partai politik tertentu serta para simpatisan yang dikerahkan sendiri oleh pihak DDII dan MUI.

Formasi pembicara dalam acara promosi buku keluaran MUI yang (ditengarai sebagai pesanan Arab Saudi) lebih tepat disebut “ajang provokasi dan mobilisasi massa” ketimbang seminar atau diskusi ilmiah itu nyaris sama dengan sebelumnya. Pembicara langganan yang dibayar untuk tampil dalam acara itu adalah Muhammad Baharun dan Fahmi Salim.

Bila disimak lebih cermat, isi pembicaraan keduanya ternyata sama sekali tidak beringsut dari isu (baca: fitnah) kuno yang diulang-ulang dan jauh dari bermutu. Misalnya, seputar keyakinan kaum Syiah yang menyakini Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw sebagai figur paling utama di kalangan sahabat dan berhak didapuk sebagai pemimpin umat Islam, begitu pula dengan keturunan beliau yang tak lain dari anak-cucu Nabi saw. Juga tentang tudingan bahwa kaum Syiah memiliki versi al-Quran yang berbeda dengan yang dimiliki Muslim yang lain.

Tak puas dengan menciptakan fiksi tentang Syiah sesuai selera pemesannya, kedua pembicara juga menghasut hadirin bahwa Syiah adalah ancaman, baik secara akidah maupun ideologi. Ancaman akidah, kata mereka, karena Syiah menganggap para Imamnya terhindar dari dosa (maksum), berderajat lebih tinggi dari para nabi dan malaikat, serta menentang ayat al-Quran (?) dan mengkafirkan para sahabat Rasulullah saw.

Adapun ancaman ideologi, klaim mereka, mengarah pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Seperti tukang ramal yang sedang berkaca di depan cermin, mereka mendakwa bahwa kemunculan Syiah merusak persatuan negara dan mencipta perpecahan dalam tubuh umat Islam. Menurut keduanya, itulah alasan MUI menerbitkan buku panduan mengenai aliran dan paham Syiah pada September 2013 lalu, yang bertajuk “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia,” yang dibagi-bagikan kepada sekitar 300-an hadirin.

Pertanyaannya, siapa sebenarnya yang menggerogoti persatuan negara dan umat Islam di Indonesia? Sebagai mazhab keislaman mainstream bersama Ahlussunnah wal Jama’ah, usia Syiah sepanjang sejarah Islam itu sendiri dan telah melahirkan banyak figur besar dan genius dalam pelbagai tradisi keilmuan seperti filsafat, sains, politik, dan sebagainya: apakah mereka semua sesat sebagaimana diklaim kedua pembicara langganan tersebut?

Reporter Islamtimes sempat merekam beberapa kejadian menarik sepanjang acara itu berlangsung. Saat salah satu pembicara memaparkan fiksinya tentang Syiah, seorang hadirin yang menyebut dirinya berasal dari lembaga Front Pembela Islam (FPI) cabang Batam langsung protes dan melakukan interupsi. “Syiah juga bagian dari Islam,” tegasnya. Sementara beberapa perwakilan Nahdhatul Ulama cabang Batam melakukan aksi walkout sambil menggerutu, “Ini acara Wahhabi.”

Menariknya lagi, dalam ruangan acara terdapat kotak sumbangan berstiker/berlogo MUI. Entah mencatut atau memang resmi, menurut pihak penyelenggara, uang sumbangan itu nantinya akan digunakan untuk memperbanyak buku terbitan MUI tersebut. Namun, menurut beberapa pengamat, penerbitan buku itu sebenarnya didanai langsung oleh Arab Saudi. Pengamat toleransi keagamaan, Zuhairi Misrawi, sempat berkicau dalam akunnya (@zuhairimisrawi), “Saya bertanya kepada teman yang jadi pengurus MUI pusat, apakah buku penyesatan atas Syiah didanai Arab Saudi? Dia bungkam. #dilema” Lantas, dikemanakan hasil rencengan itu? (IT/rj)

sumbe: islamtimes.org

 

One comment

  1. Tiga alasan kenapa saya menolak buku
    “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia”
    Oleh. Ir. Mushaddaq

    Setelah membaca buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” yang ditulis oleh Tim Penulis MUI Pusat, saya merasa ingin menanggapi bahwa sebenarnya apa tujuan dan motivasi dari penulis tersebut. Kita sebagai umat manusia yang memiliki beragam budaya, dan perbedaan pandangan yang mendiami Republik tercinta ini tidak selayaknya mengklaim kebenaran sepihak dan mengecam pihak lain yang berbeda dengan kita. Syiah adalah bagian dari umat Islam, kaum Syiah adalah saudara bagi kaum Sunni. Baik Syiah maupun Sunni merupakan kekuatan umat Islam karena memiliki satu Tuhan, mengakui kenabian Muhammad saw, dan satu kiblat.
    Kita hidup dalam alam Indonesia yang terlalu rukun bila dibandingkan dengan Negara-negara lain. Berbagai perbedaan ada di antara kita, adalah rahmat dari Sang Kuasa, oleh sebab itu marilah kita terima perbedaan ini sebagai sebuah kultur dan keyakinan yang tetap satu dalam bingkai ukhuwah Islamiyah di bawah bingkai Negara Indonesia.
    Dengan demikian, setelah membaca buku itu kemudian membandingkan dengan realitas baik data referensi maupun fakta, maka ada tiga alasan kenapa saya menolak buku, “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia”. Tiga alasan itu adalah sebagai berikut:
    1. Buku tersebut tidak bisa dijadikan panduan bagi umat Muslim Indonesia khususnya dan dunia umumnya dalam merajut ukhuwah Islamiyah. Karena buku tersebut tidak memberikan penguatan pesan ukhuwah di tubuh umat Islam yang belakangan ini sedang didera berbagai fitnah sectarian. Buku ini lebih pantas dikatakan lahir dari adanya kelompok intoleran yang tidak menginginkan persatuan dan tidak mengakui Ahlulbayt sebagai saudara dalam Islam.
    2. Buku tersebut sebenarnya tidak mewakili MUI Pusat (bukan hasil kajian Tim yang dibentuk secara resmi oleh MUI Pusat). Buku tersebut diterbitkan tanpa sepengetahuan MUI Pusat, bahkan bertolak belakang dengan pandangan-pandangan mereka, seperti: Ketua Umum MUI Pusat (KH Sahal Mahfudz), Wakil Ketua MUI Pusat (Prof Din Syamsuddin), Ketua MUI Pusat (Prof Dr Umar Shihab) dan juga Sekjend MUI Pusat (Drs. H. Ichwan Sam) yang selama ini menjunjung tinggi persatuan umat Islam dan mendukung pendekatan antara mazhab Sunni-Syiah.
    3. Buku tersebut sangat bertolak belakang dengan 9 hasil konferensi Internasional Islam yang dilaksanakan di Hotel Barobudur, Jakarta pada tanggal 23-24 April 2013. Dimana dalam Konferensi tersebut dihadiri oleh sekitar 500 peserta dari Indonesia, Yordania, Jepang, Taiwan, Myanmar, Thailand, Kamboja, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Mesir, Oman, Arab Saudi, Sudan, dan Timor Timur. Konferensi ini dimotivasi oleh keinginan bersama untuk mempromosikan pesan suci Islam, yaitu persaudaraan, toleransi, peradaban, dan perdamaian. Konferensi juga bertujuan untuk merespon persepsi negatif tentang Islam di dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top