Sunday , August 19 2018
Breaking News
Pangeran Dipanagara, Jawa Kuno dan Ahlulbait

Pangeran Dipanagara, Jawa Kuno dan Ahlulbait

Membuka catatan sejarah perjuangan Pangeran Dipanagara (lebih dikenal sebagai Diponegoro), kita akan menemukan tak hanya betapa inspiratif epos kepahlawanan dan kolosalnya perang besar yang mampu membuat Belanda pailit ini. Babad Perang Dipanagara sekaligus menjadi titik tolak perubahan sejarah Jawa dan Islam Nusantara yang kita lihat sekarang ini.
 
Menurut peneliti Jawa, Herman Sinung Janutama, Perang Diponegoro merupakan titik tolak perubahan Jawa dan Islam Nusantara. Artinya, kekalahan Pangeran Diponegoro itulah yang telah mengubah Jawa Kuno menjadi New Java yang kita kenal sekarang ini.
 
Selain epos kepahlawanan Pangeran Dipanagara, satu fakta yang tak banyak orang ketahui bahwa kebesaran nama Pangeran Dipanagara adalah karena peranan kunci Paku Buwono (PB) ke-6.
 
“Tanpa peran PB ke-6, tak mungkin Pangeran Dipanagara mampu berperang 5 tahun lamanya. Karena PB ke-6 lah yang menyuplai Pangeran Dipanagara,” terang Pangeran Puger saat ABI Press temui di Kraton Solo.
 
“Falsafahnya begini, andaikata kamu naik kereta, yang di depan itu kan kuda, tapi yang mengarahkannya kan kusir di belakang. Nah PB ke-6 itulah yang mengarahkan, yang mendesain, yang menyuplai. Jadi, kudanya Pangeran Dipanagara,” tutur Pangeran Puger.
 ABI Press_Pangeran Diponegoro
“Ketika Dipanagara berbuat sendiri tentu tidak kuat. Tapi ketika dia diayomi oleh raja, dia di bawah PB ke-6 sebagai raja tanah Jawa. Ini yang paling penting. Jadi jangan hanya belajar sejarah keheroan, tapi juga sejarah legal standing. Raja itu siapa? Pangeran itu siapa? Ini yang paling penting,” tegas Pangeran Puger.
 
Penjelasan Pangeran Puger ini dibenarkan oleh peneliti Jawa, Herman Sinung. “Memang iya, aktor utamanya bukan Dipanagara tapi PB ke-6. Cuma karena PB ke-6 ada di singgasana, harus jadi raja, Pangeran Dipanegara itu yang jadi eksekutor di lapangan.”
 
Ratu Adil di Balik Perang Dipanagara
 
Menurut Pangeran Puger, Pangeran Dipanagara pergi berperang dilatari oleh tindakan Belanda meratakan tanah leluhurnya dan menjadikannya jalan kereta. Sehingga ia ke Solo meminta bantuan PB ke-6 memerangi Belanda. Tetapi menurut Herman, itu bukan penyebab utama terjadinya peperangan.
 
“Kalau di Babad Pangeran Dipanagara Jogja itu terjadi perang karena perintah Ratu Adil,” terang Herman. 
 
“Bagi orang Jawa ada Jangka Jayabaya. Orang Jawa tanpa Jangka Jayabaya bukan orang Jawa,” lanjut Herman. “Jadi Pangeran Dipanagara adalah orang yang menjalankan Jangka itu. Jadi wajar ditimbali (ditemui) Ratu Adil, karena sejak kecil beliau dididik untuk jadi pemimpin Jawa yang tunduk pada Jangka Jayabaya.” 
 
“HB ke-6 juga adalah orang yang menjalankan Jangka ini dan di bawah perintah Ratu Adil saat berperang menyuplai Pangeran Dipanagara di belakang layar,” tambah Herman.
 
Keislaman Pangeran Dipanagara

Dalam didikannya sebagai seorang calon raja, Pangeran Dipanagara selain juga diajari pendidikan Barat, Pangeran Dipanagara juga dibesarkan dalam kultur pendidikan Islam yang sangat kental.

Saat ABI Press wawancarai, Herman mengeluarkan manuskrip kuno ijazah dari Kraton Solo untuk ulama-ulama Jawa.
 
Dalam ijazah Sjahadah Mamba’oeloeloem ini Herman menunjukkan daftar kitab-kitab Islam sebagai syarat dasar para ulama di zaman itu. Mulai dari al-Qur’an, Fathul Karib, Tafsir Badrul Munir, Safinatul Balaghah, Hadis, Nahwu, Falak, dan lainnya (lihat foto).
ABI Press_Daftar Syarat
“Nah, ini baru ulama dan kiai biasa. Pangeran Dipanagara tentu lebih ketat lagi karena dia kan dididik menjadi Raja. Pangeran Dipanagara itu bahkan hafal Ihya Ulumuddin,” terang Herman.
 
“Buku-buku tentang PB ke-10, di Kesultanan Solo dan Jogja itu kan baju-baju putra-putrinya pake janggan, kurung, lurik, kebaya. Itu semua kan baju-baju tertutup, lehernya tertutup dan panjang. Cuma karena Jawa ada ornamennya,”ujar Herman. “Kemudian pake kerudung. Rambut digelung tapi pake kerudung. Seragam sultan itu selalu ada seragam putih-putih (seperti sufi). Dan di masyarakat ya baju seperti itu yang dipakai. Kemben yang dada kelihatan itu kan bikinan Belanda, setelah masa Pangeran Dipanagara.”
 
Jejak Ahlulbait di Tanah Jawa
 
Menurut Herman, Jawa kuno yang dulu tak terpisahkan dari Islam. Sekarang saja orang memisahkan antara Jawa dengan Islam. Seperti John Kerry yang membagi dua periode Jawa, The Old Java (Jawa Kuno) dan The New Java (Jawa saat ini).
 
Jawa kuno inilah yang menurut Herman dan juga ditegaskan oleh PB ke-10 sebagai Islam itu sendiri, tak terpisah satu sama lain. Dan corak ke-Islamannya pun sangat kental dengan corak Islam Ahlulbait.
 
“Lah iya, itu Islam di Nusantara itu begitu itu. Jadi merujuknya kepada Baginda Ali, pada Sayyidah Fathimah, Sayyidina Hasan, Sayyidina Husein,”ujar Herman.“Orang Jawa meyakini bahwa Baginda Ali itu pernah secara fisik datang ke tanah Jawa,”ujar Herman.“Dan dibabar pertama kali itu ya Kitab Topah yang menjadi rujukan bangsawan-bangsawan Jawa.”
 
“Dalam Nahjul Balaghah sendiri, di pidato ke 164, Baginda Ali itu ada khutbahnya tentang burung hijau, yaitu burung merak. Dan burung merak hijau itu adanya hanya di Nusantara, ya di Jawa ini,”lanjut Herman.“Ini membuktikan bahwa Baginda Ali pernah secara fisik datang ke tanah Jawa. Di Kitab Topah juga disebutkan beliau hadir secara fisik di Jawa.”(lihat foto)

ABI Press_Baginda Ali bin Abi Thalib

Dalam al-Qur’an Jawa pun, terjemahannya menyebutkan bahwa yang dimaksud Ahlulbait dalam Q.S. al-Ahzab itu adalah Keluarga Nabi Muhammad Saw (lihat foto).“Di Jawa di masa itu, nama Ahlulbait, Baginda Ali, Sayyidina Hasan, Sayyidina Husein, li khomsatun, bubur Syura, dan lainnya itu amat akrab di telinga rakyat Jawa. Sekarang saja orang pada lupa,”terang Herman.
 ABI Press_Kitab Topah
Upaya Menghapus Sejarah Islam Jawa
 
Hal ini menurut Herman makin menegaskan bahwa Jawa itu adalah Islam dan Islam itu adalah Jawa. Herman menolak jika ada pemisahan antara Jawa dan Islam. Namun menurutnya saat ini ada upaya yang amat masif dan sistematis untuk menghilangkan jatidiri keislaman Nusantara ini.
 
“Saya gak tahu, tendensi apa saya gak paham. Cuma bagi saya upaya untuk menghilangkan bahwa Jawa adalah Islam, Islam adalah Jawa, itu gerakannya itu besar sekali. Gerakannya sangat sistematis, dibiayai sangat besar, tak terbatas. Saya merasakan itu,”keluh Herman.

“Mereka ingin biar kita lupa pada jatidiri kita. Bahwa Islam lahir di tanah Timur Tengah iya. Tapi Islam menyebar ke seluruh dunia ya di Nusantara. Karena apa? Karena Jalur Sutra laut, kan? Karena jalur perdagangan internasional itu di Nusantara. Sejak zaman Nabi Nuh. Maka kalau Islam ditaruh di Nusantara, tersebar di seluruh dunia.”
 
“Jadi yang harus diperbaiki adalah mindset kita tentang kebudayaan Nusantara. Kebudayaan Nusantara itu ya Islam itu sendiri. Persis orang Melayu, Naqib Alatas bilang Melayu adalah Islam, Islam adalah Melayu. Ahli Sundanologi mengatakan Sunda adalah Islam, Islam adalah Sunda. Maka Jawa, dalam statemen HB IX, orang Jawa yang bukan Islam bukan orang Jawa,”papar Herman.
 
“Orang Barat ingin menghilangkan itu, orang Arab Timur Tengah juga ingin menghilangkan itu dengan dalil agama supaya kita tidak percaya diri bahwa kita adalah salah satu genre Islam di seluruh dunia ini,”keluh Herman. (Muhammad/Yudhi) 

One comment

  1. Bambang Sindoro

    Menurut pendapat saya, proses akulturasi terjadi di seluruh dunia, ketika budaya asing masuk ke suatu wilayah yang telah memiliki budaya lokal. Hal ini dialami oleh berbagai budaya yang dibawa oleh bangsa2 dengan cara saling berinteraksi dengan bangsa lain di wilayah baru. Akulturasi yang baik terjadi melalui proses percampuran/asimilasi yang berjalan selaras, tanpa paksaan, kemudian melahirkan corak budaya baru. Islam di Indonesia yang disebarkan antara lain oleh Walisongo menggunakan cara2 asimilasi dengan budaya lokal, sehingga tidak banyak mengakibatkan cultural shock, atau yang lebih parah menimbulkan konflik dan peperangan panjang, seperti terjadi di wilayah lain di dunia. Memang, nilai2 kearifan lokal di wilayah Timur Tengah, tidak otomatis sesuai bila diterapkan begitu saja di wilayah Indonesia yang berbeda kondisi alamnya. Jadi perlu ada proses asimilasi yang berbasis budaya dan nilai2 lokal. Dan kalau diteliti, maka di antara nilai2 kearifan lokal yang tumbuh dari berbagai wilayah di dunia tentu ada nilai2 yang sama, yang bersifat universal, misalnya kejujuran, kebaikan, kesantunan, dll. Nilai2 universal itulah yang semestinya menjadi perekat antarbangsa dan budaya, dan menjadi inti ajaran moral kebaikan dari agama2, karena yang selebihnya merupakan ekspresi ego dari identitas kelompok/bangsa/mazhab belaka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top