Wednesday , January 24 2018
Breaking News
Bancakan Multinasional “Rasa Mazhab”

Bancakan Multinasional “Rasa Mazhab”

Oleh: Purkon Hidayat

Maraknya isu konflik Sunni-Syiah di media-media Islam dalam beberapa tahun belakangan ini semakin membuncah seiring meluasnya peran sosial media di tengah masyarakat. Dalam kacamata analisis media setidaknya ada sepuluh poin yang bisa diurai dari fenomena tersebut.

Pertama, isu yang mengemuka dalam berbagai berita tentang Syiah yang dimuat sejumlah media Islam seperti Arrahmah, Islam pos, Era Muslim, Voa-Islam, Hidayatullah, Fimadani dan situs sejenisnya hampir memiliki pola seragam, “Menempatkan Syiah sebagai Mazhab Sesat”. Dengan asumsi stigmatis tersebut, maka Syiah bagi mereka harus dikeluarkan dari “Rumah Islam”, karena dianggap menodai agama yang dibawa Nabi Muhammad Saw itu. Untuk mewujudkan tujuan itu, media-media Islam tersebut setiap hari menayangkan berita-berita mengenai Syiah dari sumber yang mereka akui benar, tanpa mencantumkan  kebenaran dari sumber pihak Syiah sendiri yang mereka tuduh. Prinsip cover both side tidak berlaku bagi media-media Islam tersebut.

Kedua, stigma sesat yang dijatuhkan sejumlah media Islam tersebut terhadap Syiah berpusat pada masalah cabang agama, bukan pokok. Tapi mereka mengklaimnya sebagai perbedaan krusial yang tidak bisa disatukan, seperti minyak dan air. Situs Arrahmah misalnya, mengemukakan 35 alasan mengapa Syiah sesat, yang semuanya bertumpu pada tudingan keliru yang tidak diakui oleh orang syiah sendiri. Tudingan paling keras menyebutkan bahwa  syiah mencaci atau mengafirkan sahabat dan istri Rasulullah Saw. Jelas tudingan tersebut salah alamat, sebab orang Syiah dilarang melakukannya sesuai fatwa Ayatullah Udzma Sayid Ali Khamenei yang telah mengeluarkan fatwa haram bagi penganut Syiah mencaci sahabat dan istri Rasulullah Saw, apalagi mengafirkannya.

Selain itu, isu yang paling santer dilancarkan media-media ini terhadap Syiah adalah perbedaan dalam masalah fikih yang merupakan cabang agama, bukan pokok. Tapi bagi media-media Islam seperti Islam pos, perbedaan fikih itu dilihat bukan sebagai rahmat tapi menjadi sengketa, dan solusinya harus diseragamkan dengan tafsir tunggal atas pemahaman Islam. Padahal faktanya, empat mazhab Sunni pun berbeda pandangan dalam sejumlah masalah fiqih seperti shalat pakai qunut atau tidak, bismillah dikeraskan atau tidak, dll. Tampaknya media-media Islam tersebut gagal menempatkan masalah ushul (prinsip) dan furu (cabang), karena menilai mazhab lain dengan neraca tunggal versi Wahabisme yang menjadi mazhab resmi Arab Saudi.

Ketiga, media-media Islam seperti Arrahmah mendapatkan dana tidak kecil dari Arab Saudi. Tentu saja tidak bisa dipungkiri media-media itu juga membawa kepentingan pihak donor, dalam hal ini  pemerintah Riyadh. Berbagai sumber menyebutkan suntikan dana Arab Saudi terhadap media Islam seperti Era Muslim dan berbagai media Islam lainnya yang gencar menyerang Syiah dalam berbagai beritanya. Bukan hanya Syiah yang diserang, bahkan Wahabisme menyesatkan NU karena menerima faham tawasul.

Keempat, Studi Critical Discourse Analysis terhadap isi media Islam garis keras semacam Arrahmah, Era Muslim, Islam pos, Voa-Islam dll, menunjukkan pola yang hampir mirip sekaligus membongkar keberpihakan media tersebut. Selain meyesatkan Syiah, mereka juga menempatkan stigma negatif apapun atas peristiwa yang menimpa Timur Tengah terhadap Syiah. Misalnya, rezim Assad di Suriah  dipandang sebagai pemerintahan Syiah yang membantai Sunni. Bahkan al-Sisi di Mesir yang menjadi arsitek tergulingnya  Mursi dituding sebagai Syiah dan mengaitkannya dengan Iran.

Meski berita ini jauh panggang dari api karena dibangun dari data yang tidak valid, tapi banyak orang Indonesia yang  kurang selektif terhadap validitas berita malah memercayainya. Padahal kenyataannya justru Arab Saudi yang aktif terlibat dalam kudeta militer terhadap Mursi.  Di saat negara-negara Barat masih berhati-hati untuk menyatakan sikapnya terhadap kudeta militer negeri Piramida itu, Arab Saudi langsung menyatakan pengakuannya atas pemerintahan al- Sisi. Bahkan dukungan itu disertai gelontoran bantuan keuangan dari Riyadh untuk Kairo. Tapi ironisnya, media-media Islam semacam Arrahman tidak pernah mempersoalkan dukungan Riyadh tersebut, dan mengalihkannya dengan mengulang tudingan Klise “Syiah di balik Kudeta Militer Mesir” tanpa menyodorkan bukti yang valid.

Kelima, hingar-bingar media Islam garis keras yang mengangkat isu konflik Sunni-Syiah meningkat intensitasnya dan frekuensinya dalam dua tahun terakhir pasca meletusnya konflik Suriah. Media Islam semacam Arrahmah, yang pemiliknya pernah ditahan polisi karena dituduh terlibat dalam membiayai aksi terorisme di Indonesia, menempatkan isu Suriah sebagai perang Sunni-Syiah.  Media-media Islam yang menyebut Taliban sebagai Mujahid  ini, menempatkan rezim Assad sebagai pemerintahan Syiah  yang membantai rakyat yang Sunni. Untuk itu, media ini menjadikan Suriah sebagai medan Jihad bagi kaum Sunni Indonesia. Akibat provokasi media Islam garis keras ini setidaknya puluhan orang Indonesia terjun di Suriah melawan rezim Assad dengan bendera jihad. Sebagian mereka adalah alumni atau kaderan alumni perang Afghanistan yang notabene termasuk milisi Taliban dan al-Qaeda, yang termasuk organisasi teroris internasional.

Keenam, jika Syiah, sebagaimana yang dituduhkan media Islam garis keras sebagai mazhab sesat dan harus dilenyapkan, mengapa isu ini baru muncul dalam beberapa tahun terakhir. Mengapa ulama-ulama besar dahulu di Nusantara dan dunia sendiri tidak pernah menyesatkan Syiah. Mereka justru mengakui Syiah sebagai bagian dari Islam. Salah satu komitmen internasional yang mengakui Syiah sebagai mazhab Islam adalah Deklarasi Amman di Yordania tahun 2004 yang dihadiri para ulama dari seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, para ulama seperti Quraish Shihab mengakui Syiah sebagai mazhab resmi dalam Islam. Demikian juga dengan ketua PB NU, Said Aqil Siradj dan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin. Bahkan almarhum Gusdur dengan berseloroh pernah menyebut NU sebagai Syiah minus imamah. Ternyata hanya ulama Wahabi yang mengklaim mewakili Sunni, yang mengafirkan Syiah.

Menurut sejarawan muda Minangkabau, Muhammad Ilham Fadhil, penyesatan terhadap Syiah baru terjadi dalam dua dekade terakhir, dan sebelumnya tidak pernah terjadi, bahkan di masa Buya HAMKA ketua MUI pertama. Dosen sejarah universitas Islam terkemuka di Padang ini menilai kepentingan politik berada di balik gencarnya penyesatan terhadap Syiah belakangan ini.

Ketujuh, gelombang penyesatan Syiah semakin mengalir deras seiring meningkatnya jumlah alumni sekolah maupun pondok pesantren Arab Saudi yang mengadopsi ajaran Wahabisme dan diterapkan di Tanah Air secara kaku dengan memandang mazhab lain salah dan sesat.

Kedelapan, isu konflik mazhab yang dihembuskan media-media Islam termasuk di Indonesia, seiring dengan tujuan kekuatan Barat untuk melemahkan kekuatan Islam dan menjaga kepentingan Israel yang semakin rapuh. Untuk itu, kian berkobarnya api konflik antarmazhab Islam, maka semakin besar keuntungan yang diraih negara-negara Imperialis untuk mengeruk sumber daya alam seperti minyak dan barang tambang lainnya yang berada di negara-negara Muslim. Semakin lemah dan terpecah belahnya kekuatan negara-negara Islam yang sibuk mengurusi konflik internalnya, maka semakin besar cengkeraman negara-negara adidaya terhadap sumber daya alam negara dunia ketiga, yang sebagian besar berpenduduk Muslim.

Kesembilan,  Kepentingan hegemoni negara-negara adidaya Barat terhadap negara-negara Muslim berkelindan dengan kepentingan politik Arab Saudi yang merasa terancam dengan naiknya Iran sebagai negara independen di kawasan Timur Tengah. Pada saat yang sama Arab Saudi dilanda friksi internal kompetisi antarpangeran yang mencapai ribuan orang untuk memperebutkan posisi putera mahkota di negeri petrodollar itu. Isu konflik Sunni-Syiah bisa mengalihkan opini npublik dunia dan rakyat Saudi atas perseteruan yang menimpa singgasana Al Saud. Bila sudah demikian, agama hanya menjadi penyedap rasa untuk membenarkan tujuan politik.

Sepuluh, negara-negara Barat bersama korporasi multinasional terutama perusahaan senjata meraup keuntungan besar dari konflik Sunni-Syiah yang dihembuskan media-media Islam, termasuk yang menjamur belakangan ini di Tanah Air. Faktanya Arab Saudi merupakan negara pembeli senjata terbesar dari AS dan negara Barat lainnya. Sebagian senjata itu dipasok untuk membunuh sesama Muslim di negara-negera Arab sendiri seperti Suriah dan Irak sebagaimana yang dimainkan pengeran Bandar Bin Sultan. Pada saat yang sama, korporasi energi dunia bisa mengeruk emas hitam Arab Saudi dan negara Muslim lainnya dengan harga yang murah. Isu senjata kimia di Irak, dan demokrasi serta terorisme di Afganistan adalah bahasa lain AS bersama sekutunya untuk mengeruk sumber daya alam dua negara Muslim itu.

Sejatinya, menelan mentah-mentah informasi dari berita media-media kompor seperti Arrahmah, Era Muslim, Islampos, VOA-Islam, dll bukan hanya bentuk kegagalan menyerap informasi yang benar. Tapi Lebih dari itu, kita ikut menyebarkan kehancuran untuk diri sendiri dengan mengamini “Bancakan Multinasional Rasa mazhab”. Mari jaga dan selamatkan keutuhan NKRI dari serangan isu sektarian yang akan mencabik-cabik bangsa kita sendiri.[]

Sumber: iribindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top