Thursday , October 19 2017
Breaking News
Maarif Institute Rilis Hasil Penelitian Indeks Kota Islami

Maarif Institute Rilis Hasil Penelitian Indeks Kota Islami

Setelah setahun melakukan penelitian Indeks Kota Islami (IKI) di 29 kota di Indonesia, akhirnya, Maarif Institute merilis hasil penelitiannya di Jakarta, (17/5).

Ahmad Imam Mujadid Rais, Direktur Riset Maarif Institute mengatakan ada tiga variabel serta berbagai turunannya yang dijadikan indikator penilaian. Rilis menyebut, “Kota Islami adalah kota yang aman, sejahtera, dan bahagia”.

Dalam variabel “aman”, yang menjadi indikator adalah kebebasan beragama dan berkeyakinan, perlindungan hukum, kepemimpinan dan pemenuhan hak politik perempuan, hak anak dan difabel. Dalam variabel “sejahtera”, yang menjadi indikator adalah Pendidikan, Pekerjaan, Pendapatan, Kesehatan. Dalam variabel “bahagia”, yang menjadi indikator adalah berbagi dan kesetiakawanan, dan harmoni dengan alam.

Metode pengumpulan data dilakukan dengan dua cara. Pertama, data obyektif dengan merujuk data resmi instansi terkait tahun 2014. Kedua, data subyektif dengan narasumber melalui wawancara.

Dari hasil penelitiannya di 29 kota, kota Yogyakarta, Bandung dan Denpasar menempati peringkat tertinggi dari tiga unsur variabel tersebut. Sedangkan Makassar, Padang, serta Kupang menempati urutan paling rendah.

Ahmad Mujadid berharap, dengan adanya penelitian ini, dengan terbukanya informasi, dapat memberi kontribusi bagi pemerintah untuk melakukan perbaikan-perbaikan.

Yudi Latif salah satu penanggap yang diundang dalam rilis Maarif Institute menilai upaya Maarif dapat memberikan wawasan baru melalui penelitiannya. Contohnya, kota yang sebelumnya diklaim agamis, faktanya dalam riset Maarif justru menempati posisi rendah.

Yudi Latif juga memberikan masukan dalam kaitannya dengan variabel “bahagia”. Spiritual menurutnya juga unsur penting kebahagiaan seseorang. “Sejahtera belum tentu bahagia,” ucapnya.

Nilai spiritualitas itu menurutnya teraktualisasi dalam diri seseorang melalui 3 hal; hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan manusia (sosial), dan relasi dengan alam.

Masih menurut Yudi Latif, dalam penelitian ini mestinya juga harus dicari data mengenai kesenjangan sosial untuk menemukan korelasi khususnya dengan variabel “sejahtera”. (Malik/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top