Wednesday , January 24 2018
Breaking News
Mari Belajar Toleransi Kepada Koki

Mari Belajar Toleransi Kepada Koki

Makanan lezat butuh koki handal. Koki yang dapat meramu dan memadukan berbagai bahan makanan dan bumbu, lalu memasaknya dengan cara khas sehingga semua orang suka menyantapnya.

Air liur siapa takkan menetes jika dari baunya saja, sudah dapat membuat kita membayangkan betapa sedapnya bila lidah kita menyentuh butiran-butiran rasa masakan yang sedap semerbak? Terlebih bila masakan itu tersaji dalam kondisi hangat.

Masakan yang lezat, sudah pasti memerlukan banyak bahan dan aneka bumbu, tak hanya satu. Begitupun dengan kehidupan kita. Kehidupan akan terasa nikmat jika beragam perbedaan yang berserakan di tengah masyarakat dapat kita ramu dan kita padukan dengan baik layaknya kepiawaian koki yang jago masak. Ibarat aneka bumbu penyedap diperlukan di antara aneka macam masakan, begitu pula halnya keniscayaan perbedaan di tengah kita. Karena itu diperlukan kearifan dalam menyikapinya.

Pesanlah seporsi masakan yang lezat kepada seorang koki kawakan, tapi coba paksa dia hanya membumbui masakan itu dengan garam. Ya, benar-benar hanya garam saja dan tanpa bumbu lain. Mungkinkah masakan lezat yang kita pesan bakal tersaji? Terlebih jika si koki kita paksa lagi hanya boleh mencampur masakan itu dengan puluhan butir cabe. Alih-alih lezat, asin dan pedas sudah pasti!

Sama halnya dengan rasa masakan lezat mesti berawal dari racikan bumbu yang pas, oleh koki yang berpengalaman, urusan beragama dan berkeyakinan bagi setiap orang pun tentu tak jauh beda. Diperlukan pemahaman sempurna sebagai hasil proses belajar yang tak sekejap mata, hingga diperoleh keyakinan yang kuat dalam jiwa. Karenanya akan tampak aneh (kalau tak dapat disebut di luar nalar) jika saja masih ada sekelompok orang yang anti keragaman memaksakan kehendaknya sendiri kepada kelompok lain untuk memeluk keyakinan yang sama dan seragam, tanpa memberi ruang sama sekali bagi keyakinan yang berbeda dengannya.

Mungkin sudah saatnya para pemaksa dan penyeragam keyakinan itu belajar kepada para koki, agar mereka bisa mengerti apa arti toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Bahwa perbedaan itu bisa menciptakan harmoni, asal saja kita mampu meramunya dengan baik dengan hati lapang tanpa benci.

Maka pantaskah mereka yang meyakini bahwa perbedaan itu rahmat seperti tertera dalam hadis dan riwayat, masih berani berlaku kasar, kerap memaksakan kehendak didasari watak jahat?

Allah Swt berfirman: Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. an-Nahl:125)

Ya, jika Alquran pun menganjurkan agar setiap perbedaan pandangan dan keyakinan mesti disikapi dengan kearifan, dengan hikmah dan pengajaran. Bukan dengan upaya paksa disertai ancaman, apalagi dengan tindakan kekerasan berujung permusuhan dan pertengkaran. Maka kepada siapakah para pemaksa keyakinan yang merasa paling benar sendiri itu selama ini telah belajar dan mengambil pelajaran? (Lutfi/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top