Tuesday , August 22 2017
Breaking News
Muslim Indonesia dan Iran Banyak Kesamaan

Muslim Indonesia dan Iran Banyak Kesamaan

Pelayan makam Imam Ali Ridha dari kota Masyhad, Iran bersilaturahmi ke kampus Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara, pada Rabu (10/8). Dalam kesempatan itu, Prof. Dr. Muhammad Jawad Nejawad Yazdi, selaku pimpinan rombongan disambut hangat Rektor UNISNU, Dr. Sa’dullah Assa’idi.

“Saya bergembira dengan kedatangan tamu dari Iran ini. Saya berharap bisa menjalin kerja sama budaya dan perabadaan keislaman,” kata Dr. Sa’dullah Assa’idi dalam sambutannya.

Rektor asal Jember ini juga berharap bahwa peluang kerjasama ini bisa terealisasi di masa depan.

“Kedepannya bisa kerjasama antar universitas, baik dalam bidang kebudayaan maupun pendidikan,” lanjutnya.

Sementara itu, Ustaz Miqdad Turkan dalam pengantarnya mengatakan bahwa banyak persamaan antara NU di Indonesia dengan Mazhab Syiah yang ada di Iran.

“NU yang Ahlisunnah dan Muslim Iran yang Syiah, sama-sama melakukan ziarah kubur dan memuliakan para wali. Para tamu yang datang ini adalah para pelayan di kuburan wali dari keturunan Nabi Muhammad saw, Imam Ridha di Masyhad,” terang Pimpinan Pesantren Darut Taqrib itu.

Menurut Kiai asli Jepara ini, silaturahmi semacam ini ampuh melawan gerakan intoleran dan merupakan cara terbaik menghilangkan prasangka sesama kaum Muslimin.

Ustaz Miqdad juga menyebutkan bahwa yayasan makam Imam Ridha sangat kaya, memiliki Rumah Sakit, Universitas, Pondok Pesantren dan juga mempekerjakan ribuan karyawan di samping ada juga para relawan yang berkhidmat.

“Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran adalah salah satu relawan di makam wali tersebut,” katanya.

Prof. Dr. Muhammad Jawad, dalam sambutannya memuji keramahan masyarakat Muslim Indonesia. Menurutnya Muslim Indonesia adalah Muslim yang mempraktikkan Islam rahmatan lil ‘alamin.

“Dengan melihat secara langsung masyarakat Indonesia yang ramah, maka apa yang saya dengar sejak lama ternyata benar. Dan kita sebagai kaum Muslimin adalah saudara, dan sesama saudara harus sering bertemu dan bertukar pengalaman,” kesannya.

“Persaudaraan Muslim antara Indonesia dan Iran karena berasal dari ayah yang sama yaitu Nabi Muhammad saw,” katanya. “Sebab jika sesama saudara akur dan saling menyapa tentunya akan menyenangkan orang tuanya. Dan kesenangan Nabi adalah kesenangan Allah SWT,” lanjut ulama bersurban itu.

“Saat ini kaum Muslimin membutuhkan persaudaraan dan persatuan, karena pusaka dan warisan Islam sekarang ini telah diserang oleh musuh-musuh Islam,” lanjutnya. “Maka kita harus memikirkan bagaimana mewariskan persatuan ini ke generasi setelah kita.”

“Muslimin Indonesia dan Iran banyak persamaannya, kita meyakini Alquran yang sama dan sama-sama mencintai Ahlul Bait Nabi saw. Dan mencintai keluarga Nabi adalah perintah Alquran.”

“Persamaan lain, adalah ziarah kepada para auliya yang merupakan ajaran Alquran. Para walilah yang mengingatkan kita kepada Allah, maka oleh karenanya, ziarah kita kepada wali hakikatnya mengingatkan kita kepada Allah.”

“Menjaga makam para wali adalah menjaga zikir kepada Allah. Dan sikap inilah yang harus kita wariskan kepada anak cucu kita,” terang ulama yang juga peneliti ini.

Ulama Iran ini juga mengingatkan, bahwa Imam Ridha bukan hanya milik Muslim Syiah semata akan tetapi milik semua kaum Muslimin. Karena kakeknya adalah Rasulullah, dan Imam Ridha mempraktikkan apa yang dilakukan kakeknya, yaitu menyebarkan rahmat kepada masyarakat di sekitarnya.

“Jutaan peziarah tiap tahun menziarahi makamnya, bahkan dari kalangan Kristen. Imam Ridha di masanya adalah seorang pejuang pemikiran, karena saat itu terjadi pergulatan pemikiran di tengah umat Islam,” tambahnya.

Dr. Muhammad Jawad juga mengingatkan, bahwa saat ini musuh-musuh Islam membiayai sekelompok  kecil umat Islam untuk merusak Islam dari dalam. Mereka menampakkan Islam yang buruk, kasar dan intoleran.

“Saya berharap semoga persaudaran di antara kita terbina dengan baik, dan bisa bersama-sama melawan kelompok intoleran,” pungkasnya.

Acara silaturahmi selesai menjelang Zuhur, diakhiri saling menukar cindera mata dan peluk erat persaudaraan seolah tak ingin berpisah. (Muh/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top