Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Ketua Persatuan Ulama Perlawanan Dunia Kritik Respons Dunia Islam atas Krisis Gaza

Published

on

Ketua Persatuan Ulama Perlawanan Dunia Kritik Respons Dunia Islam atas Krisis Gaza
Ketua Persatuan Ulama Perlawanan Dunia, Sheikh Maher Hamoud. Foto: IRNA

Ahlulbait Indonesia, 4 Januari 2026 — Ketua Persatuan Ulama Perlawanan Dunia, Sheikh Maher Hamoud, mengkritik lambannya respons dunia Islam terhadap krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di Jalur Gaza. Ia menilai penderitaan warga Gaza tidak semata-mata disebabkan faktor alam, melainkan akibat kemerosotan nilai moral dan keagamaan di dunia Islam.

Pernyataan tersebut disampaikan merujuk pada kondisi kritis penduduk Gaza yang terus memburuk akibat agresi rezim Zionis Israel, terutama di tengah musim dingin dengan curah hujan tinggi. Sheikh Maher Hamoud menegaskan bahwa situasi mengerikan yang dialami warga Gaza merupakan cerminan kegagalan moral kolektif umat Islam dalam merespons kezaliman yang berlangsung.

Menurut laporan Kantor Berita Shahab yang dikutip IRNA pada Minggu, 4 Januari 2026, Hamoud menyatakan bahwa penderitaan penduduk Gaza bukan disebabkan oleh cuaca dingin, hujan ekstrem, atau hancurnya rumah-rumah mereka semata, melainkan oleh runtuhnya nilai-nilai moral dan agama yang telah menyeret umat Islam ke kondisi ini.

Baca juga : Iran Resmikan Patung “Penakluk Khaybar”, Simbol Kemenangan dan Kehormatan

Ia juga menyoroti minimnya fasilitas hidup paling mendasar di Gaza, termasuk ketiadaan listrik, peralatan pemanas, layanan kesehatan, serta sarana kehidupan dasar lainnya. Menurutnya, ribuan warga Palestina terpaksa bertahan hidup di bawah tenda-tenda darurat yang tidak layak, dengan air hujan merembes masuk dan tanpa perlindungan memadai.

“Bagaimana mungkin kita mengaku bersimpati kepada rakyat Gaza, sementara penderitaan mereka terus dibiarkan tanpa tindakan nyata?” ujar Hamoud.

Peringatan serupa sebelumnya disampaikan oleh Hasni Mahna, juru bicara Pemerintah Kota Gaza, yang menyebut wilayah tersebut menghadapi bencana kemanusiaan dan lingkungan yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat cuaca ekstrem dan badai beruntun.

Mahna menegaskan bahwa kondisi Kota Gaza telah mencapai titik kritis, mengingat sekitar 85 persen infrastruktur kota mengalami kerusakan parah, sementara kapasitas operasional pemerintah kota hampir lumpuh.

Ia menjelaskan bahwa setelah hancurnya 135 unit kendaraan dan peralatan layanan publik, kapasitas operasional pemerintah kota saat ini hanya tersisa sekitar 15 persen dibandingkan sebelum perang.

Mahna juga memperingatkan bahwa hujan lebat dan angin kencang mengancam keselamatan ribuan pengungsi yang tinggal di tenda-tenda rapuh serta bangunan-bangunan yang telah rusak dan tidak layak huni. [HMP/ABI]

Baca juga : Ayatullah Ali Khamenei Tanggapi Protes di Iran: Kami akan Bicara dengan Pemprotes, Pengacau Harus Ditertibkan