Opini
Donald Trump dan Politik “Ana Rabbukumul A‘la” di Abad ke-21
Oleh: Muhlisin Turkan
Ahlulbait Indonesia, 5 Januari 2026 — Dalam khazanah teologi politik, Firaun bukan figur yang berakhir di Mesir Kuno. Firaun adalah pola kekuasaan yang berulang, seorang penguasa yang tidak lagi puas menjadi kepala negara, lalu mengangkat dirinya sebagai penentu kebenaran dan hakim tertinggi atas nasib bangsa lain.
Pola ini kembali dipertontonkan oleh Donald Trump. Melalui Truth Social pada 2 Januari 2026, Trump menyatakan Amerika Serikat siap “datang menyelamatkan” demonstran Iran. “Jika Iran menembaki dan dengan kejam membunuh pengunjuk rasa damai, Amerika Serikat akan datang menyelamatkan mereka. Kami dalam kondisi siaga dan siap bertindak.”
Pernyataan tersebut mendahului serangan dan penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya dan pemindahan paksa ke New York pada 3 Januari 2026. Moralitas tidak lagi dilanggar, moralitas diperlakukan sebagai properti situasional, dikenakan ketika menguntungkan dan ditanggalkan saat menghalangi.
Logika Kekuasaan Absolut
Sejarah mencatat Firaun tidak runtuh karena kekurangan senjata, melainkan karena klaim ontologisnya sendiri, yakni keyakinan bahwa kebenaran bersumber dari dirinya dan hukum berakhir pada kehendaknya. Penculikan kepala negara di wilayah kedaulatannya sendiri, diadili di Amerika, tanpa mandat internasional dan tanpa proses hukum sebelumnya, merupakan ekspresi paling jujur dari logika tersebut.
Tidak ada upaya mencari legitimasi. Tidak ada kepura-puraan bertele-tele. Dunia hanya disodori satu pesan telanjang, hukum berlaku selama sejalan dengan kehendak Washington, dan gugur ketika menghalangi ambisi kekuasaan. Hukum internasional bernasib sama seperti hukum Tuhan di hadapan Firaun, dihormati dalam pidato, diinjak-injak dalam praktiknya.
Baca juga : KUHP Baru: Ujian Negara Hukum dan Masa Depan Perlindungan Warga
Mukjizat Modern
Serangan siber yang memadamkan listrik Caracas sebelum agresi militer bukan semata taktik teknis, melainkan pesan simbolik tentang kendali total. Jika Firaun di hadapan Musa memamerkan tongkat dan sihir, Firaun modern memamerkan satelit, drone, dan pemadaman digital, bukan untuk membebaskan manusia, melainkan menundukkan mereka.
Ratusan pesawat tempur dan puluhan pangkalan militer adalah ritual kekuasaan global, liturgi politik yang dirancang menanamkan satu keyakinan, bahwa tidak ada wilayah yang terlalu jauh, tidak ada pemimpin yang terlalu berdaulat, tidak ada batas yang benar-benar sakral.
Minyak sebagai Berhala
Setiap kekuasaan Firaunik membutuhkan berhala. Pada abad ke-21, berhala itu bukan patung emas, melainkan sumber daya strategis. Pernyataan pejabat Amerika tentang “mengembalikan minyak yang dicuri” terdengar bukan sebagai dalih, melainkan pengakuan terbuka. Minyak Venezuela diperlakukan bukan sebagai hak bangsa berdaulat, tetapi sebagai harta yang dianggap wajar dikuasai pihak yang merasa paling berhak mengatur dunia.
Demokrasi, narkoba, dan stabilitas global dijadikan mantra agar perampasan tampak bermoral dan berbudi luhur. Namun seperti anak sapi emas dalam kisah lama, berhala selalu menuntut korban. Dan korban itu bernama kedaulatan.
Ketika Kekuasaan Mengira Dirinya Abadi
Firaun selalu yakin kerajaannya kekal. Keyakinan inilah yang membuat kekuasaan tuli terhadap peringatan dan buta terhadap sejarah, sebuah sikap yang kembali tampak pada diri Donald Trump. Dalam kasus Venezuela, pesan Washington merupakan deklarasi simbolik tentang siapa yang merasa berhak menentukan legitimasi dan masa depan bangsa lain. Dalam bahasa teologi politik, inilah terjemahan praktis dari “ana rabbukumul a‘la”, aku Tuhanmu yang Mahatinggi.
Sebagaimana semua Firaun dalam sejarah, keyakinan paling berbahaya mereka selalu sama, bahwa laut tidak akan pernah terbelah, dan tidak akan pernah menenggelamkannya.
Namun sejarah, dengan ketenangan yang kejam, selalu membuktikan sebaliknya. []
Baca juga : Bahasa Cinta di Tengah Genosida Gaza: Strategi Digital Akun Pro-Israel di Indonesia
