Ikuti Kami Di Medsos

Kajian Islam

Ketua Umum ABI Nilai Bulan Rajab sebagai Momentum Pengendalian Diri dan Komitmen Sosial

Published

on

Jakarta, 17 Januari 2026 — Ketua Umum Ahlul Bait Indonesia (ABI), Ustadz Zahir Yahya, menekankan pentingnya menjadikan Bulan Rajab tidak semata-mata sebagai momentum ritual, tetapi juga sebagai ruang evaluasi moral dan penguatan komitmen praktis dalam kehidupan personal maupun sosial. Hal tersebut disampaikan dalam sambutannya pada Rapat Reguler Dewan Pimpinan Pusat (DPP) ABI yang digelar di Jakarta, Selasa (13/1/2026).

Dalam sambutannya, Ustadz Zahir mengingatkan bahwa Bulan Rajab merupakan salah satu dari empat bulan suci (asyhurul hurum) dalam kalender Islam, bersama Muharram, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah. Rajab, menurut beliau, memiliki keutamaan khusus karena sejak masa pra-Islam telah dihormati sebagai bulan tanpa peperangan, dan dalam ajaran Islam dimaknai sebagai bulan curahan rahmat, taubat, serta kembalinya manusia kepada Allah SWT.

“Cara terbaik menghormati Bulan Rajab bukan hanya dengan memperbanyak zikir, shalat, dan puasa, tetapi terutama dengan menjaga diri dari perbuatan dosa. Al-Qur’an dengan tegas melarang kezaliman terhadap diri sendiri pada bulan-bulan suci, dan dosa adalah bentuk kezaliman paling nyata,” ujar Ustadz Zahir.

Beliau menegaskan bahwa nilai ibadah tidak ditentukan semata oleh kuantitas amal, melainkan oleh ma’rifat, yakni tingkat pengenalan dan kesadaran seorang hamba terhadap Tuhan. Tanpa ma’rifat, amal-amal lahiriah dinilai kehilangan bobot spiritualnya.

Bulan Rajab, lanjut beliau, juga semakin dimuliakan oleh sejumlah peristiwa keagamaan penting, di antaranya kelahiran Imam Muhammad al-Baqir dan Imam Ali bin Abi Thalib. Momentum tersebut, menurut Ustadz Zahir, seharusnya memperdalam kesadaran umat akan nikmat besar perwilayahan kepada Imam Ali dan Ahlul Bait.

“Wilayah kepada Ali bin Abi Thalib dan para Imam Ahlul Bait adalah nikmat terbesar yang tidak diberikan kepada semua orang. Ini bukan rahmat umum (rahmaniyah), tetapi rahmat khusus (rahimiyah) yang hanya dianugerahkan kepada hamba-hamba pilihan,” tegas beliau.

Namun demikian, Ustadz Zahir mengingatkan bahwa pengakuan terhadap wilayah tidak cukup berhenti pada pengetahuan sejarah, hafalan nama para imam, atau praktik ritual belaka. Beliau menekankan bahwa perwilayahan sejati harus melahirkan komitmen praktis dan menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan.

“Tidak cukup mengenal Imam hanya secara konseptual. Pengenalan itu harus diwujudkan dalam komitmen nyata: dalam kehidupan pribadi, keluarga, sosial, bahkan dalam peran kita di masyarakat dan ruang publik. Islam tidak menerima komitmen yang bersifat selektif,” katanya.

Ustadz Zahir mencontohkan, pengetahuan tentang keutamaan Imam Ali tanpa konsistensi moral dan sosial tidak dapat disebut sebagai kesyiahan yang utuh. Menurut beliau, sikap memilih-milih ajaran, menerima sebagian dan menolak sebagian lainnya, bertentangan dengan prinsip keimanan yang diajarkan Al-Qur’an.

Dalam penutup sambutannya, Ustadz Zahir mengajak seluruh pengurus ABI untuk menjadikan nikmat wilayah sebagai dasar etika kolektif dalam membangun komunitas, berkontribusi bagi masyarakat, serta aktif menghadirkan nilai-nilai ajaran Ahlul Bait dalam realitas sosial.

“Wilayah bukan simbol, melainkan tanggung jawab. Jika kita benar-benar mencintai dan meyakini para Imam, maka ajaran merekalah yang harus hadir dan hidup dalam seluruh lini kehidupan kita,” pungkas beliau. [HMP/ABI]