Nasional
UNISNU–Darut Taqrib Gelar Seminar Internasional Harmoni Sunni–Syiah sebagai Modal Kebangsaan
Jepara, 20 Januari 2026 — Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara (UNISNU Jepara) bekerja sama dengan Pondok Pesantren Darut Taqrib Jepara (Ponpes DATA) menggelar seminar internasional bertema From Difference to Solidarity: Strengthening Sunni–Shia Relations in Contemporary Muslim Societies, Senin (19/1/2026), di Ruang Seminar Pascasarjana UNISNU Jepara.
Seminar ini menghadirkan Hujjatul Islam DR. Mohammad Sharifani, Direktur Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta, serta Prof. Abdul Djamil, Rektor UNISNU Jepara, sebagai narasumber. Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 40 peserta yang terdiri atas pimpinan struktural dan sivitas akademika UNISNU, serta perwakilan Dewan Pimpinan Wilayah Ahlulbait Indonesia Jawa Tengah dan Dewan Pimpinan Daerah Ahlulbait Indonesia Jepara. Diskusi dipandu oleh Dr. Fathur Rohman sebagai moderator.
Dalam sambutan pembuka, Rektor UNISNU Jepara Prof. Abdul Djamil menegaskan bahwa Jepara memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi contoh nasional dalam membangun relasi harmonis antara Sunni dan Syiah. Menurutnya, praktik kebersamaan yang telah tumbuh di Jepara dan wilayah sekitarnya merupakan wujud konkret persatuan umat Islam yang patut dikembangkan dan direplikasi.
“Keberagaman bukan beban, melainkan modal strategis bagi kemajuan bangsa,” ujarnya. Ia juga membagikan pengalaman akademiknya saat berkunjung ke Iran, termasuk dialog dengan pimpinan Jamiah al-Musthofa Internasional yang mendorong penguatan kerja sama pendidikan lintas mazhab. “Persatuan Sunni–Syiah telah kita mulai dari ruang-ruang akademik seperti ini,” tegasnya.
Sebagai pemateri pertama, Prof. Abdul Djamil memaparkan tema “Local Context of Harmony in Indonesia”. Ia menekankan pentingnya membumikan nilai-nilai harmoni keagamaan sesuai konteks lokal dengan mengedepankan dialog, pendidikan, dan keteladanan sebagai fondasi kehidupan beragama. Menurutnya, banyak perbedaan yang selama ini dipersoalkan sejatinya bersifat terminologis, bukan substantif.
Sementara itu, pemateri kedua, Hujjatul Islam Syaikh Mohammad Sharifani, memaparkan perspektif global mengenai solidaritas Sunni–Syiah melalui tema Global Perspective on Sunni-Shia Solidarity. Ia menyinggung peringatan 27 Rajab yang dalam tradisi Syiah diperingati sebagai hari bi’tsah Nabi Muhammad SAW, sementara di Indonesia dikenal sebagai peristiwa Isra Mikraj. “Kita merayakan kegembiraan pada hari yang sama. Ini adalah simbol persatuan umat,” ujarnya.
Mengutip Surah Ali Imran ayat 103, ia menegaskan bahwa persatuan merupakan nikmat terbesar umat Islam yang harus dijaga. Menurutnya, konflik dan perpecahan justru menjauhkan umat dari tujuan utama ajaran Islam yang menekankan persaudaraan dan keadilan.
Moderator diskusi, Dr. Fathur Rohman, dalam pemaparannya menyoroti banyaknya irisan antara tradisi Sunni dan Syiah dalam praktik keislaman di Indonesia, seperti tahlil, maulid, tawasul, serta kecintaan kepada Ahlul Bait. Ia juga mengulas kesamaan silsilah keilmuan para ulama klasik, termasuk relasi antara Imam Abu Hanifah dan Imam Ja’far ash-Shadiq, serta kedekatan antara tradisi tasawuf Sunni dan irfan dalam Syiah.
Diskusi berlangsung dinamis dan interaktif, ditandai dengan antusiasme peserta dalam sesi tanya jawab hingga penutupan. Melalui kegiatan ini, UNISNU Jepara bersama Pondok Pesantren Darut Taqrib menegaskan komitmennya untuk terus menjadi ruang dialog akademik yang inklusif dan berkontribusi nyata dalam merawat harmoni intraumat Islam, baik di tingkat lokal maupun global. [HMP/ABI]




