Sunday , December 15 2019
Breaking News
110 Masalah Akidah: Apakah Agama Nabi Muhammad SAW Sebelum Diutus sebagai Nabi?

110 Masalah Akidah: Apakah Agama Nabi Muhammad SAW Sebelum Diutus sebagai Nabi?

Tidak syak lagi bahwa sebelum diutus menjadi nabi (bi’tsah), Nabi SAW tidak pernah sujud kepada berhala dan menyimpang dari garis tauhid. Dan sejarah kehidupannya dengan baik merefleksikan makna ini. Akan tetapi, ajaran manakah yang dianut Nabi SAW sebelum periode pengutusan? Hal ini masih menjadi bahan dialog di antara ulama.

Pembahasan sebelumnya Mengenal Allah: Mengapa Kita Perlu Membahas Masalah Marifatullah?

Sebagaian berpendapat bahwa Nabi SAW mengikuti ajaran Nabi Isa As lantaran sebelum periode bi’tsah, ajaran yang resmi dan belum dihapus oleh ajaran lain adalah ajaran Nabi Isa.

Sebagaian yang lain berpendapat bahwa Nabi SAW adalah pengikut ajaran Nabi Ibrahim As karena Nabi Ibrahim merupakan Syaikh Al-Anbiyâ’; bapak para nabi. Sebagian ayat pun menerangkan Islam sebagai ajaran Nabi Ibrahim “… agama orang tuamu Ibrahim ….” (QS. Al-Hajj [: 78)

Sebagian lagi mengungkapkan ketidaktahuan mereka dan berkata, “Kita tahu bahwa Nabi SAW memiliki ajaran. Namun, ajaran apa? Hal ini tidak jelas bagi kita.”

Meski masing-masing pendapat itu memiliki alasan, tetapi tidak satu pun yang dapat dipastikan. Namun, yang lebih mendekati kebenaran di antara ketiga pendapat di atas adalah pendapat yang keempat; bahwa Nabi SAW secara pribadi memiliki program khusus dari sisi Allah Swt dan beramal berdasarkan program tersebut. Program khusus ini adalah ajaran khusus Nabi SAW hingga masa Islam diturunkan untuknya.

Dalil pendapat ini bertolak dari sebuah hadis yang terdapat di dalam Nahjul Balâghah: “Sejak masa Rasul SAW disapih, Allah menugaskan malaikatnya yang terbesar guna membinanya sesuai jalan-jalan kemuliaan dan budi pekerti, siang dan malam.” Penugasan malaikat ini adalah dalil atas adanya program khusus bagi Nabi SAW.

Dalil lain adalah tidak satu pun sejarah yang melaporkan bahwa Nabi SAW sibuk beribadah di dalam sinagog (peribadatan agama Yahudi) dan gereja. Beliau tidak pernah berada di samping seorang kafir, dan juga tidak di sisi Ahli Kitab untuk beribadah di tempat-tempat ibadah mereka. Sementara itu, beliau harus melanjutkan tongkat estafet dari nabi-nabi sebelumnya di atas jalan tauhid. Dan Nabi SAW konsisten pada prinsip akhlak mulia dan penyembahan kepada Tuhan.

Di samping itu, terdapat riwayat yang mutawatir sebagaimana yang dinukil oleh Allamah al-Majlisi dalam Bihâr al-Anwâr, bahwa Nabi SAW sejak usia belia ditopang oleh Ruhul Kudus. Berkat penopangan ini, beliau hidup berdasarkan ilham dari Ruhul Kudus.

Allamah Al-Majlisi secara pribadi meyakini bahwa Nabi SAW sebelum memegang kedudukan risalah telah menjadi seorang nabi. Terkadang para malaikat bercakap dengannya dan beliau juga mendengarkan suara mereka. Dan terkadang beliau memperoleh ilham dari Allah Swt. dalam mimpi. Setelah genap berusia empat puluh tahun, beliau mencapai kedudukan pengemban risalah, dan Alquran serta Islam secara resmi diturunkan kepada beliau. Allamah Al-Majlisi mengajukan enam dalil atas pendapat yang terakhir ini. Sebagian dalil-dalil tersebut sesuai dengan apa yang telah kami uraikan di atas.

Menjawab 110 Masalah Akidah, Ayatullah al-Uzhma Makarim Syirazi

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top