Tuesday , February 18 2020
Breaking News
17 Hadis tentang Keutamaan Ilmu dan Orang Berilmu

17 Hadis tentang Keutamaan Ilmu dan Orang Berilmu

Seruan terpenting para nabi adaah anjuran untuk menuntut ilmu. Di mana pun mereka selalu menunjukkan permusuhan terhadap kebodohan. Di samping bersandar pada ayat-ayat suci Al-Quran setiap kali menjelaskan masalah teramat penting inl, sejumlah riwayat mengungkapkan betapa ilmu itu tak tertandingi.

Kebaikan Orang Berilmu

1. Dalam sebuah hadis diriwayatkan, Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada kehidupan yang baik kecuali bagi dua orang: orang berilmu yang pengetahuannya dijalankan dan bermanfaat, serta orang yang mau mendengarkan pelajaran.” (Al-Kafi, jilid 1, Bab Shifah al-ilmi wa Fadhllihi, hadis 7)

Pewaris Para Nabi

2. Imam Ja’far Shadiq as berkata, “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan baik dirham maupun dinar. Mereka hanya meninggalkan hadis. Maka barangsiapa mengambilnya, ia telah mendapatkan keuntungan besar. Perhatikanlah dari mana kamu memperoleh pengetahuanmu ini!, Sesungguhnya sejumlah orang adil dari Ahlulbait ada di setiap masa. Ia menjaga ilmu dari tahrif yang dilakukan orang-orang yang melampaui batas, klaim yang tak mendasar dan menyimpang, serta pemikiran dari orang-orang bodoh.” (Al-Kafi, jilid 1, Bab Shifah al-ilmi wa Fadhllihi, hadis 7)

Lebih Utama dari Syahid

3. Kita tahu bahwa dalam Islam, syuhada memiliki kedudukan tinggi. Meskipun demikian Rasulullah saw pernah bersabda: “Orang berilmu sederajat lebih utama dari syahid, syahid sederajat lebih utama dari hamba. Keutamaan orang berilmu atas semua manusia bagaikan keutamaanku atas orang yang memiliki keutamaan yang terendah dari mereka.” (Majma al-Bayan, 253/9)

4. Amirul Mukminin Ali as berkata: “Orang yang sedang menghadapi kematian dalam keadaan ia menuntut ilmu, maka antara dirinya dan para nabi hanya terpisah sederajat. (Majma al-Bayan, 253/9)

5. Kita tahu bahwa pada malam-malam bulan purnama, sang bulan akan menampakkan diri dengan sempurna sehingga membuat bintang gemintang tenggelam dalam cahaya bulan. Berkenaan dengannya, Rasulullah saw pernah menerangkan keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah, seraya bersabda: “Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama di malam-malam purnama terhadap bintang-bintang.” (Jawani al-Jami, 264/5)

Hal menarik dari hadis ini adalah, keterangan tentang ahli ibadah dengan ibadahnya yang dinyatakan sebagai tujuan penciptaan. Namun, dikarenakan ruh ibadah adalah ilmu dan makrifat, maka hal itu membuat keutamaannya (ahli ibadah) masih berada di bawah orang berilmu.

6. Maksud dari keutamaan orang berilmu di atas ahli ibadah seperti disebutkan dalam sejumlah hadis adalah bahwa antara orang berilmu dan ahli ibadah terpisah sangat panjang. Karenanya dalam hadis-hadis lain kata seratus derajat digunakan untuk menggantikan kata satu derajat, yaitu jarak antara satu derajat dengan derajat berikutnya sama dengan ukuran kecepatan lari kuda selama 70 tahun. (Jawani al-Jami, 264/5)

Pemberi Syafaat 

7. Kedudukan pemberi syafaat kelak di akhirat bukan milik setiap orang, melainkan hanya milik orang yang dekat dengan Allah Swt. Meskipun demikian, dalam sebuah hadis, Rasulullah saw pernah bersabda:”Pada hari kiamat, ada tiga orang yang akan memberi syafaat; yaitu para nabi, ulama, dan syuhada.” (Ruh al-Ma’ani, 26/28 dan Qurthubi, 6470/9)

Tak Ada Kelulusan

Dalam logika Islam, kata ‘lulus belajar’ itu tak bermakna. Menuntut ilmu bagi seorang muslim tak akan pernah berakhir. la selalu menyandang predikat pelajar, sekalipun telah menjadi seorang guru terbaik.

8. Dalam sebuah hadis, terjadi percakapan menarik antara Imam Ja’far Shadiq as dengan salah seorang sahabatnya. Imam Ja’far Shadiq as berkata, “Setiap malam Jumat, kami selalu merasakan kegembiraan dan kesenangan khusus.”

Sahabat itu bertanya, “Semoga Allah menambah kesenangan itu wahai Imam, kesenangan apa itu?”

Imam menjawab, “Setiap malam Jumat tiba ruh suci Rasulullah saw dan para imam maksum, kami bersama-sama naik menuju Arsy Allah. Ruh kami tidak akan kembali ke tubuh, tetapi kami telah memperoleh pengetahuan baru. Seandainya tak terjadi, itu menunjukkan pengetahuan kami telah berakhir.” (Tafsir Nur al-Tsaqalain, 397/3)

Keterangan ini juga disampaikan dalam riwayat-riwayat lain dalam ungkapan berbeda. Ini menunjukkan bahwa ilmu Rasulullah saw dan para imam maksum as akan terus bertambah hingga masa alam dunia ini berakhir.

Hari Tak Berkah

9. Rasulullah saw pernah bersabda: “Apabila hari yang kulalui tidak disertai penambahan ilmu untuk mendekatkan diriku kepada Allah, matahari yang terbit di hari itu tidak membawa keberkahan bagiku.” (Tafsir Majma al-Bayan, Nur al-Tsaqalain, al-Syafi: Keterangan tentang ayat 113-114 surat Thaha)

10. Rasulullah saw bersabda: “Orang yang paling berilmu ialah orang yang menguasai pengetahuan orang lain di samping pengetahuannya. Orang paling berharga ialah yang paling banyak ilmunya dan yang paling rendah nilainya ialah yang paling sedikit ilmunya!.” (Safinah al-Bihar, terkait dengan tema Ilmu)

11. Rasulullah saw pernah bersabda: “Apabila kematian menjemput penuntut ilmu yang sedang menuntut ilmu, ia meninggal sebagai seorang syahid.” (Safinah al-Bihar, terkait dengan tema Syahid)

12. Diriwayatkan oleh Jabir Anshari yang mengatakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: “Satu jam yang dilalui orang berilmu dengan berbaring di atas ranjang sambil merenungi pengetahuannya, jauh lebih baik dari ibadah ahli ibadah selama 7O tahun.” (Majma al-Bayan, keterangan tentang QS. Ali Imran: 18)

Penjaga Nilai Kebudayaan Islam

13. Imam Ja’far as-Shadiq as berkata: “Orang-orang berilmu dari pengikut kami adalah para penjaga yang bertugas di perbatasan untuk mengantisipasi serangan tentara lblis dan menjaga orang-orang selain mereka yang tidak memiliki kekuatan cukup untuk melawan serangan Iblis terhadap mereka.” (Ihtihaj Thabarsi, pasal pertama)

Penjelasan hadis ini ialah, kedudukan mereka lebih tinggi dari para penjaga perbatasan dari kemungkinan adanya serangan musuh Islam. Itu dikarenakan mereka adalah penjaga akidah dan nilai-nilai budaya Islam, sementara penjaga perbatasan semata-mata menjaga batas geografis suatu negara.

14. Amirul Mukminin Ali as berkata: “Ulama akan terus hidup hingga akhir zaman. (Artinya) meski diri mereka telah tiada namun peninggalannya terus tertanam di hati manusia.” (Nahj al-Balaghah, Aforisme ke-147)

15. Sebagian riwayat menyatakan bahwa doa kebaikan dan ampunan dari makhluk yang ada di langit dan bumi hingga ikan-ikan di air meliputi para penuntut ilmu. ”Sesungguhnya segala sesuatu yang ada di langit dan bumi termasuk ikan-ikan di laut, memohonkan ampunan bagi para penuntut ilmu.” (Ushul al-Kafi, Jilid 1, Bab Tsamuh al-Alim wa al-Muta’alim, hadis ke-1)

16. Rasulullah saw bersabda: “Ada tiga perkara yang dapat menghalau rintangan hingga ke hadapan Allah Swt; goresan pena ulama, langkah kaki para mujahid, dan suara roda pintalan benang yang digerakkan oleh wanita yang menjaga kesuciannya.” (Al-Shihab fi al-Hukmi wa al-Adab, hal. 22)

17. Amirul Muminin Ali as berkata: “Para pemikul arsy Allah adalah ulama, yaitu orang-orang yang Allah telah memberikan ilmu.” (Nur al-Tsaqalain, 405/5, hadis ke-26)

Tak Punya Batasan

Dalam pandangan Islam, tak ada batasan dalam menuntut ilmu. Tuntutan secara berlebihan pada banyak hal dinilai tak terpuji, kecuali dalam menuntut ilmu. Dengan kata Iain, meskipun sikap berlebih-lebihan tidak terpuji, tetapi hal ini tak ada artinya dalam menuntut ilmu. llmu tak memiliki batasan tempat. Kejarlah ilmu sekalipun sampai ke negeri Cina dan harus terbang ke langit. Demikian pula, ilmu tak memiliki batasan waktu. Menuntut ilmu telah dimulai sejak manusia dalam buaian hingga memasuki alam kubur.

Dalam pandangan Islam, guru tak mengenal batasan. itu dikarenakan ilmu adalah milik mukmin yang hilang. Seandainya ilmu ditemukan pada diri seseorang, ambillah, sebagaimana jika sebuah permata ke luar dari mulut orang berdosa sekalipun, ambillah. Kualitas upaya yang diberikan dalam menuntut ilmu pun tak mengenal batasan. Tuntutlah ilmu sekalipun harus menyelam ke dasar laut dan menjemput ajal.

Said Husain Husaini, “Bertuhan dalam Pusaran Zaman”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top