Saturday , March 28 2020
Breaking News
20 Hadis Pilihan; Kedudukan Imam Ali di Sisi Nabi Muhammad saw

20 Hadis Pilihan; Kedudukan Imam Ali di Sisi Nabi Muhammad saw

Nabi Muhammad saw mewajibkan kecintaan pada Ahlulbait as atas umat ini. Beliau menegaskan bahwa berpegang teguh pada mereka menjadi faktor yang mengamankan dari kehancuran. Rasul saw bersabda, “Bintang-gemintang menjadi pengaman bagi penduduk bumi dari tenggelam. Dan Ahlulbaitku adalah pengaman bagi umatku dari pertentangan dan pertikaian. Apabila salah satu kabilah Arab menentang mereka, ini berarti mereka telah bertikai. Akibatnya, mereka menjadi pengikut Iblis.”[Mustadrak Al-Hâkim, Jil. 3/ 149; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/116]

Buku-buku literatur hadis, baik Shihâh maupun Sunan, dipenuhi hadis-hadis Nabi saw yang menegaskan keutamaan  Imam Ali as dan mengangkat kedudukan Imam Ali as setinggi-tingginya di tengah masyarakat Islam kala itu. Setiap orang yang mau merenungkan hadis-hadis termasyhur dan tersebar di kalangan perawi hadis itu pasti memahami tujuan utama Nabi saw di baliknya. Yakni, mengangkat Imam Ali as sebagai penerus tongkat estafet kenabian dan tempat rujukan umat yang bertugas menegakkan tonggak kehidupan mereka, memperbaiki kondisi mereka, dan menuntun mereka menapaki jalan kehidupannya sehingga umat Islam menjadi pelopor bagi bangsa-bangsa lain di dunia.

Berikut 20 hadis pilihan yang berasal dari ucapan suci Nabi Muhammad saw sebagaimana terekam abadi dalam banyak hadis yang disepakati kedua mazhab besar dalam Islam.

  1. At-Turmudzî meriwayatkan dengan sanad dari Abdullah Ibn Umar yang berkata, “Rasulullah saw telah mempersaudarakan para sahabatnya. Kemudian datanglah Ali as dengan air mata berlinang seraya berkata, ‘Ya Rasulullah, engkau telah mempersaudarakan para sahabatmu. Tetapi mengapa Anda tidak mempersaudarakanku dengan siapa pun?’ Rasulullah saw bersabda, ‘Engkau adalah saudaraku di dunia dan di akhirat.” [Shahîh At-Turmudzî, Jil. 2/299; Mustadrak Al-Hâkim, Jil. 3/14]
  2. Anas bin Malik berkata, “Rasulullah saw naik ke mimbar. Seusai berpidato, beliau bertanya, ‘Di manakah Ali bin Abi Thalib?’ Ali as segera bangkit dan berkata, ‘Aku di sini, ya Rasulullah.’ Tak lama kemudian, Nabi saw memeluk Ali as dan mencium keningnya seraya bersabda dengan suara lantang, ‘Wahai kaum Muslimin, Ali adalah saudaraku dan putra pamanku. Ia adalah darah dagingku dan rambutku. Ia ayah kedua cucuku, Hasan dan Husain, penghulu para pemuda penghuni surga.’”[Dzakha’ir Al-‘Uqba,  hal. 92]
  3. Dalam sebuah riwayat, Ibn Umar berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda saat melaksanakan haji Wadâ‘ dengan menunggangi unta sembari menepuk pundak Ali as, ‘Ya Allah, saksikanlah. Ya allah, aku telah menyampaikan seruan-Mu bahwa orang ini adalah saudaraku, putra pamanku, menantuku, dan ayah kedua cucu-ku. Ya Allah, sungkurkanlah orang yang memusuhinya ke dalam api neraka.’”[Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 3/61]
  4. Dalam sebuah hadis, Jâbir bin Abdillah berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda kepada Ali as, ‘Hai Ali, sesungguhnya umat manusia berasal dari berbagai pohon yang berbeda. Sementara engkau dan aku berasal dari satu pohon yang sama.’ Kemudian beliau membacakan ayat: Dan di atas bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan (tapi berbeda-beda), dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama….” (QS. ar-Ra’d: 4)Rasulullah saw bersabda, “Aku dan Ali as. berasal dari satu pohon, sedangkan umat manusia berasal dari pohon yang berbeda-beda.”[Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/154]
  5. Dalam sebuah hadis, Asma binti Umais berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berkata sebagaimana saudaraku, Musa berkata: Ya Allah, jadikanlah untukku seorang wazir dari keluargaku, yaitu saudaraku Ali. Kokohkanlah aku dengannya, sertakanlah ia dalam urusanku agar kami banyak bertasbih kepada-Mu dan senantiasa mengingat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui kondisi kami’”[Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/163]
  6. Nabi saw memproklamasikan bahwa Ali as adalah pemimpin sepeninggalnya, sejak beliau saw memulai berdakwah. Itu terjadi manakala Nabi saw mengundang kaum Quraisy agar memeluk Islam. Di akhir pertemuan itu, beliau berkata kepada mereka, “Dengan demikian, orang ini—yaitu, Ali as—adalah saudaraku, washî-ku, dan khalifahku setelahku untuk kalian. Dengarkan dan taatilah dia!” [Târîkh At-Thabarî, Jil. 2/127; Târîkh Ibn Atsîr, Jil. 2/22; Târîkh Abi Al-Fidâ’, Jil. 1/116; Mus-nad Ahmad, Jil. 1/331; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/399]
  7. Nabi saw bersabda kepada Ali as, “Tidakkah engkau rela bahwa engkau di sisiku laksana kedudukan Hârûn di sisi Mûsâ as, hanya saja tak ada nabi setelahku?”[Musnad Abu Daud, Jil. 1/29; Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 1/182] 
  8. Sa‘îd bin Mûsâyyib meriwayatkan hadis dari ‘Âmir bin Sa‘d bin Abi Waqqâsh, dari ayahnya, Sa’d yamg berkata, “Rasulullah saw pernah bersabda kepada Ali as, ‘Engkau di sisiku laksana kedudukan Hârûn di sisi Mûsâ as, hanya saja tidak ada nabi setelahku.’”

    Sa‘îd berkata, “Aku ingin menyampaikan informasi itu kepada Sa‘d. Aku menjumpainya dan kuceritakan apa yang diceritakan ‘Âmir. Sa‘d berkata, ‘Aku pun telah mendengarnya.’ Aku bertanya: ‘Sungguh engkau telah mendengarnya?’ Ia meletakkan jarinya di kedua telinganya seraya berkata, ‘Ya, aku telah mendengarnya. Jika tidak, berarti aku tuli.” [Shahîh Muslim, kitab Fadhâ’il Al-Ashhâb, Jil. 7/ 120]

  9. Jâbir bin Abdillah berkata, “Dalam peristiwa Hudaibiyah, aku mendengar Rasulullah saw bersabda sambil memegang tangan Ali as, “Orang ini adalah pemimpin orang-orang saleh, pembasmi orang-orang zalim, akan ditolong siapa yang membelanya, dan akan terhina siapa yang menghinanya.’ (Lalu, Nabi saw mengeraskan suaranya), ‘Aku adalah kota ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya. Barangsiapa ingin memasuki rumah, hendaklah masuk melalui pintunya.’”[Târîkh Bagdad, Jil. 2/ 377]
  10. Ibn Abbâs berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya. Barangsiapa ingin memasuki kota, hendaklah mendatangi pintunya.’”[Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/ 401]
  11. Rasulullah saw bersabda, “Ali adalah pintu ilmuku dan penjelas risalahku kepada umatku sepeninggalku nanti. Mencintainya adalah iman, memurkainya adalah kemunafikan, dan memandangnya adalah kasih sayang.”[As-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 73]
  12. Musâwir Humairî meriwayatkan hadis dari ibunya. Ibunya berkata, “Ummu Salamah datang menjumpaiku dan aku mendengar ia mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang munafik tidak akan mencintai Ali dan orang mukmin tidak akan membencinya.’”[Shahîh At-Turmudzî, Jil. 1/ 299]
  13. Ibn Abbâs pernah meriwayatkan sebuah hadis dengan berkata, “Rasulullah saw memandang kepada Ali as seraya bersabda, ‘Tidak mencintaimu melainkan orang mukmin dan tidak membencimu kecuali orang munafik. Barangsiapa mencintaimu, berarti mencintaiku. Barangsiapa membencimu, berarti membenciku. Kekasihku adalah kekasih Allah dan pendengkiku adalah pendengki Allah. Sungguh celaka orang yang mendengkimu setelahku nanti.’”[Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 9/ 133]
  14. Dalam sebuah riwayat, Abu Sa‘îd Khudrî berkata, “Rasulullah saw pernah bersabda kepada Ali as, ‘Mencintaimu adalah keimanan dan membencimu adalah kemunafikan. Orang yang pertama masuk surga adalah pecintamu dan orang pertama yang masuk neraka adalah pendengkimu.’”[Nûr Al-Abshâr, hal. 72]
  15. Rasulullah saw bersabda kepada Imam Ali as, “Pada Hari Kiamat kelak, engkau akan berada di hadapanku. Ketika itu aku diberi bendera pujian, lalu bendera itu kuserahkan kepadamu. Sementara engkau sedang mengusir orang-orang (yang tidak berhak) dari telagaku.”[Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/ 400]
  16. Rasulullah saw bersabda, “Ali bin Abi Thalib as adalah pemilik telaga Haudh-ku kelak di Hari Kiamat. Di sekelilingnya berjejer gelas-gelas sebanyak bilangan bintang di langit. Luas telaga Haudhku itu sejauh antara Jâbiyah dan Shan’a.”[Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 1/ 367]
  17. Zaid bin Arqam meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya aku tinggalkan dua pusaka berharga untuk kalian. Jika memegang teguh keduanya, kalian tidak akan tersesat selamanya sepeninggalku kelak. Salah satunya lebih agung dari yang lain. Yaitu, Kitab Allah, tali yang membentang dari langit ke bumi, dan yang kedua adalah ‘Itrahku, Ahlulbaitku. Keduanya itu tidak akan pernah berpisah hingga menjumpaiku di telaga Haudh kelak. Perhatikanlah bagaimana kalian memperlakukan keduanya sepeninggalku kelak.”[Shahîh At-Turmudzî, Jil. 2/ 308]
  18. Nabi saw menyampaikan hadis ini saat sedang melaksanakan haji Wada’ di hari Arafah. Jâbir bin Abdillah Anshârî meriwayatkan hadis seraya berkata, “Aku melihat Rasulullah saw pada haji Wada’ di hari Arafah. Ketika itu, beliau berpidato dengan berdiri di atas punggung untanya yang bernama Qashwâ’. Aku mendengarnya berkata, ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian sesuatu yang jika kalian mengikutinya, niscaya kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah dan ‘Itrahku, Ahlulbaitku.’”[Shahîh At-Turmudzî, Jil. 2/ 308; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 1/ 84]
  19. Rasulullah saw  pernah berpidato di hadapan para sahabat saat berada di peraduan menjelang wafat. Beliau saw bersabda, “Wahai manusia, sebentar lagi nyawaku akan diambil dengan cepat, lalu aku pergi. Dan sebelum ini aku pernah menyampaikan suatu ucapan kepada kalian. Yaitu, aku tinggalkan untuk kalian Kitab Tuhanku yang Mulia nan Agung dan ‘Itrahku, Ahlulbaitku.” Kemudian beliu saw memegang tangan Ali as seraya berkata, “Inilah Ali yang selalu bersama al-Quran dan al-Quran pun senantiasa bersamanya. Keduanya tidak akan pernah berpisah hingga mendatangiku di telaga Haudh.”[Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 75]
  20. Dalam sebuah riwayat, Abu Sa‘îd Khudrî berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. Bersabda, ‘Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbaitku di tengah-tengah kalian bagaikan bahtera Nuh as. Selamatlah orang yang menaikinya, dan binasalah orang yang meninggalkannya, karena akan tenggelam. Dan perumpamaan Ahlulbaitku di tengah kalian bagaikan pintu Hiththah (pengampunan) bagi Bani Israil. Barangsiapa memasukinya, dosanya akan diampuni.”[Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 9/168; Al-Mustadrak, Jil. 2/ 43; Târîkh al-Baghdad, Jil. 2/120; Al-Hilyah, Jil. 4/ 306; Adz-Dzakâ’ir, hal. 20]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top