Sunday , September 22 2019
Breaking News
Ada Tabut di TMII

Ada Tabut di TMII

Tabut-BengkuluSebagai miniatur budaya Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) merangkum berbagai macam budaya di dalamnya. Termasuk juga budaya Tabut yang kini populer dan dilestarikan masyarakat Bengkulu. 

Meskipun Tabut di TMII ini hanya sebatas miniatur belaka, namun setidaknya, hal ini bisa menjadi sarana untuk memperkenalkan lebih luas lagi tentang budaya Tabut di kancah Nasional.

Memperingati bulan Muharam, atau juga dikenal sebagai Tahun Baru Islam, masyarakat Bengkulu menyambut bulan ini sebagai bulan Tabut. 

“Tabut sudah berkembang dan masuk dalam kalender wisata, dan merupakan even tahunan,” kata Ali Paseh selaku Kepala Anjungan Bengkulu TMII. 

Dia menjelaskan bahwa setiap tanggal 1 hingga 10 bulan Muharam masyarakat Bengkulu merayakan even budaya ini dengan ritual-ritual khusus di dalam perayaan budaya yang menyimpan nilai sejarah dan seni yang tinggi ini. Salah satu dari nilai sejarahnya adalah mengenang kesyahidan dan perjuangan cucu tercinta Rasulullah Muhammad saw. 

“Dilaksanakan dalam rangka mengenang  Husein cucu Nabi Muhammad saw,” kata Ali Paseh kepada ABI Press di Anjungan Bengkulu, TMII (14/10).

“Kalau kita lihat, kekuatannya ini adalah bagaimana para pendahulu memperjuangkan nilai-nilai budaya, nilai agama yang betul-betul dijunjung tinggi,” ungkapnya. 

Di tengah budaya yang kian tergerus dengan pengaruh budaya Luar, Tabut kian lestari dan justru dianggap makin berkembang. 

“Kalau dulu hanya dilaksanakan oleh orang-orang tertentu, dari awal mula satu keluarga saja, kini sudah berkembang. Bahkan ribuan orang turut mengarak, menyaksikan,” Ali Paseh menjelaskan.

Prosesi ritual Tabut mangandung beberapa tahapan, dilaksanakan secara berurutan selama sepuluh hari berturut-turut. Ringkasnya, ritual-ritual itu erat kaitannya dengan peristiwa yang dialami Imam Husein as saat menyambut kesyahidannya. 

“Ada (dalam ritual itu) yang mengumpulkan sorban, potongan-potongan jasad, dikumpulkan jadi satu, diarak lalu puncaknya dimakamkan,” jelas Ali Paseh.

Sementara Tabut sendiri menurut Ali Paseh berasal dari nama sebuah kotak, sebuah keranda tempat mengumpulkan bagian-bagian tubuh yang berserakan tadi.

Dalam buku panduan yang diterbitkan Dinas Pariwisata Pemprov Bengkulu terkait Tabut pada Festival Tabut 2008 dijelaskan lebih rinci terkait maksud dan tujuan Tabut ini. Di antaranya; Tabut dimaksudkan untuk memperingati kesyahidan cucu Nabi Muhammad saw, Husein bin Ali bin Abi Thalib yang dibunuh di Padang Karbala, Irak oleh Yazid bin Muawiyah.

Dalam buku panduan itu juga disebut bahwa Tabut berasal dari upacara berkabung kaum Syiah atas gugurnya Syahid Agung Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah dari puteri beliau Fathimah Az Zahra. Lalu para pemimpin Syiah (keluarga Nabi) dan kaumnya yang mengumpulkan bagian-bagian dari jenazah Husein as, mengaraknya setelah terkumpul dan memakamkannya di Padang Karbala. Seluruh upacara berlangsung selama 10 hari dari tanggal 1 sampai dengan 10 Muharam.

Ketokohan Husein as dalam membela Islam dari penguasa Yazid bin Muawiyah terus melegenda hingga saat ini. Selain dalam Tabut, Muslimin bermazhab Syiah yang senantiasa setia pada ajaran Nabi Muhammad dan keluarganya juga memperingati peristiwa ini setiap tahunnya termasuk juga di Indonesia.

Sementara itu, di pusara makam Imam Husein as di Karbala senantiasa dikunjungi peziarah dari belahan dunia. 

Kesyahidan Imam Hesein as dalam melawan ketidakadilan penguasa Yazid bin Muawiyah saat itu menjadi magnet spirit bagi umat Islam, bahkan hingga saat ini daya tarik magnet itu makin besar, meluas hingga ke berbagai penjuru dunia. 

Kesyahidan Imam Husein as mempertegas posisi Islam yang benar, yakni Islam yang dibawa Imam Husein as. di hadapan Islam palsu ala penguasa yang dicontohkan oleh Yazid bin Muawiyah di zamannya. 

Berkenaan dengan momen peringatan Muharam, di berbagai media massa baru-baru ini menyebut setidaknya ada 20 hingga 30 juta peziarah berkumpul di Karbala dalam satu musim setiap tahunnya. Ini cukup menjadi bukti bahwa kesyahidan Imam Husein as tak sekadar cerita dongeng yang akan berlalu begitu saja dari perhatian kaum Muslimin. (Malik/Yudhi) 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top