Friday , December 6 2019
Breaking News
Agenda Teroris Kuasai Masa Depan dengan Memutus Sejarah Masa Lalu

Agenda Teroris Kuasai Masa Depan dengan Memutus Sejarah Masa Lalu

Kodisi di Timur Tengah terus bergolak terutama di Suriah dan Irak. Gejolak yang terjadi di negara tersebut tidak hanya mengancam kehidupan tapi juga keberlanjutan catatan sejarah peradaban manusia. Hal itu dapat dilihat dari aksi penghancuran sejumlah tempat dan peninggalan bersejarah oleh kelompok radikal ISIS yang bercokol di sana.

Dejavu: Mongol-ISIS

Penaklukan Baghdad oleh Mongol pada tahun 1258 telah menghancurkan Masjid, Rumah Sakit, Istana dan Perpustakaan. Salah satu perpustakaan yang dihancurkan adalah perpustakaan utama Baghdad berisi koleksi buku tentang Kedokteran, Pengobatan, Astronomi, dan lain-lain yang dibuang ke sungai Tikrit hingga seperti tertulis dalam sejarah: air sungai menjadi hitam karena tinta buku bercampur merah darah para ilmuwan dan Filosof yang dibunuh.

Kini setelah 7 abad berlalu, hal yang sama terulang kembali; aksi perusakan dilakukan ISIS dengan dalih untuk pemurniaan akidah dan menghindari Syirik. Mereka hancurkan sejumlah bangunan kuno bersejarah karena dianggap sebagai peninggalan mirip berhala.

Sepanjang 2014 ISIS telah menghancurkan sejumlah masjid, pemakaman, gereja, museum dan bangunan peninggalan abad pertengahan di Irak dan Suriah. 

Kini ISIS dikabarkan telah menguasai Palmyra, sebuah kota di timur laut Damaskus, tempat reruntuhan kota tua bekas pusat kebudayaan dunia pada abad ke-1 dan 2. Situs sejarah yang dikhawatirkan UNESCO, bakal dihancurkan oleh ISIS juga.

Menghapus Masa Lalu

“JASMERAH,” (Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah) adalah semboyan terkenal dari Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno dalam pidatonya pada HUT RI tanggal 17 Agustus 1966. Pesan tersebut tentu tidak hanya berlaku bagi Indonesia tapi juga berlaku di seluruh dunia termasuk di Timur Tengah.

Perusakan terhadap sejumlah peninggalan bersejarah, terutama perpustakaan bukan hanya bisa disebut melupakan, melainkan lebih dari itu justru menghapus sejarah itu sendiri. Sebab sejarah merupakan penghubung antara masa lalu dan masa kini.

“Artefak yang tidak pernah tuntas diteliti dan merupakan sebuah ikatan yang erat antara masa lalu dan masa sekarang,” jelas Dr. Muhammad Lutfi, ketua Prodi Kajian Timur Tengah dan Islam (KTTI) Pascasarjana Universitas Indonesia (UI), saat ditemui Tim ABI Press di UI Salemba, Jakarta.

Doktor Lutfi juga menerangkan bahwa apabila sebuah negara telah terputus hubungan sejarah dengan masa lalunya maka otomatis lambat laun akan kehilangan masa lalunya. Akibatnya masyarakat yang tinggal di negara tersebut akan lemah ikatan sejarahnya dan akan berpengaruh pada perkembangan pemikiran di negara tersebut.

Apalagi negara-negara yang saat ini dilanda konflik dan penghancuran tempat bersejarah adalah negara-negara pusat peradaban dunia, seperti Irak dan Suriah. Lebih jauh Doktor Lutfi mensinyalir adanya pihak-pihak yang tidak ingin negara di Timur Tengah maju.

“ISIS menjadi bagian dari perusakan dan kemunduran itu walaupun bukan satu-satunya sebab,” terang Lutfi.

Hal tersebut disampaikan juga oleh sejarawan Tom Holland kepada harian berita Inggris The Guardian dengan mengatakan bahwa penghancuran dan pengerusakan tempat-tempat bersejarah oleh ISIS dan kelompok-kelompok teroris adalah sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan.

“Nazi dan Khmer Merah melakukan itu, untuk menghancurkan masa lalu dan mengontrol masa depan,” kata Tom Holland.

Tentu kita tidak dapat membayangkan jika hal itu terjadi di Indonesia. Bagaimana jika sejarah Wali Songo sebagai pelopor syiar Islam damai di Indonesia akan diputus dengan anak cucu kita dan digantikan dengan sejarah yang ditulis oleh para pembuat kerusakan di muka bumi ini? (Lutfi/Yudhi)

Berikut antara lain sejumlah tempat bersejarah yang dihancurkan oleh kelompok teroris :

Masjid Al-Qubba Husseiniya di Mosul

Masjid Jawad Husseiniya dan Makam Saad bin Aqeel Husseiniya di Tal Afar

Makam Ahmed al-Rifai di distrik Mahlabiya

Makam Qabr al-Bint di Mosul

Makam Fathi al-Ka’en Masjid Al-Arba’een di Tikrit,

Masjid Khudr di Pusat Mosul

Masjid Imam Awn al-Din di Mosul

Masjid Hamou al-Qadu di Mosul

Gereja  Virgin Mary di Mosul

Gereja Hijau atau dikenal Gereja St. Ahoadamah di Tikrit

Gereja Katedral Khatolik St. Markourkas di Mosul

Gereja Virgin Mary di Tel Nasri, Suriah

Kolosal Kuno dari abad ke 8 (colossal ancient Assyrian gateway lion sculpture) Artifak Kuno di Museum Mosul.

Kota Nimrud dari abad 13 di kota Assyrian, Suriah.

Benteng Bash Tapia dari abad 12 di Mosul    
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top