Monday , July 13 2020
Breaking News
Akidah Sang Pembebas dari Jeratan Hawa Nafsu (4/7)

Akidah Sang Pembebas dari Jeratan Hawa Nafsu (4/7)

Akidah Islam mengikat hati insan muslim dengan tali Allah dan alam akhirat. Dengan itu, akidah Islam berhasil membebaskannya dari jerat hawa nafsunya. Dalam pandangan Ahlulbait as, hawa nafsu merupakan titik ketergelinciran yang sangat berbahaya. Karena itu, mereka lebih banyak mencurahkan perhatian terhadap titik berbahaya ini.

Akidah Islam membekali akal seorang muslim dengan alat kontrol istimewa yang dapat mencegahnya dari penyelewengan atau lebih mementingkan dunia yang fana atas akhirat yang abadi (sebagai akibat mengikuti ajakan hawa nafsu). Atas dasar itu, kita mendapati pernyataan, hikmah, dan nasihat Amirul Mukminin as banyak berhubungan dengan masalah hawa nafsu dan pentingnya kita menguasainya.

Baca pembahasan sebelumnya Akidah Sang Pembebas Manusia dari Penindasan (3/7)

Beliau selalu aktif menggunakan setiap kesempatan untuk membahas masalah itu. Pasalnya, hawa nafsu merupakan satu poin penting yang harus diperhatikan dalam pembinaan insan. Al-Quran mengingatkan kita: Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan kepada suatu kaum sehingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.[QS, Al-Anfal: 53]

Berdasar itu, satu hal menarik yang kita perhatikan, di masa pemerintahannya, Imam Ali as senantiasa berwasiat kepada para panglima perang dan gubernurnya atas daerah-daerah kekuasaannya agar menguasai jiwa dan hawa nafsu mereka. Hal ini selalu beliau lakukan kendati beliau telah menyeleksi mereka secara cermat, dan mereka sendiri merupakan pribadi-pribadi ideal yang memiliki budi pekerti luhur dan akhlak mulia.

Ketika mengangkat Malik Asytar sebagai gubernur Mesir, beliau berpesan kepadanya dalam sepucuk surat, “Perintah ini dikeluarkan seorang hamba Allah, Ali bin Abi Thalib untuk Malik bin Harits Asytar… Ia memerintahkannya agar bertakwa kepada Allah Swt dan menaati-Nya… Ia juga memerintahkannya agar mengalahkan hawa nafsunya…, karena hawa nafsu itu selalu mendorong (manusia) mengerjakan kejelekan kecuali orang-orang yang dirahmati Allah Swt.

Kendalikan dan kekanglah hawa nafsumu dari hal-hal yang tidak dihalalkan bagimu. Dan cara untuk mengendalikannya adalah (engkau) harus selalu mengontrolnya agar tidak mengerjakan setiap yang disukainya atau enggan mengerjakan setiap yang dibencinya. Dan kasihanilah rakyatmu.”[Nahjul Balaghah : 427]

Di antara wasiat Imam Ali as kepada Syuraih bin Hani`, salah seorang komandan pasukan perang yang beliau kerahkan ke Syam (Suriah), “Ketahuilah, jika engkau tidak mampu mengekang hawa nafsumu dari setiap apa yang kau sukai karena engkau takut akan terjadi hal-hal yang tidak kau sukai (jika engkau mengekang hawa nafsumu itu), niscaya hawa nafsu tersebut akan menggiringmu ke arah bahaya yang lebih besar. Karena itu, kekang dan kendalikanlah hawa nafsumu.”[Nahjul Balaghah, Shubhi Shalih : 447]

Dalam sepucuk surat kepada Mu’awiyah, beliau membongkar rahasia pembelotannya dari kepemimpinan Islam yang disebabkan rayuan dan bujukan hawa nafsunya. Beliau berkata, “Sesungguhnya hawa nafsumu telah memaksamu bertindak jahat dan lalim, menjerumuskanmu ke jurang kebinasaan, dan mencemarkan jalan yang kau tempuh.”[Nahjul Balaghah: 390]

Berdasarkan semua itu, penyelewengan hawa nafsu memiliki resiko besar. Khususnya bagi orang-orang yang menduduki tampuk kepemimpinan namun tidak memiliki kelayakan untuk itu.

Kendati memiliki ‘ishmah yang mampu menjaga dari berbuat salah, Ahlulbait as masih selalu memohon pertolongan dari Allah Swt agar dapat menguasai hawa nafsunya. Fakta ini selayaknya kita jadikan pelajaran bagi diri kita.

Dalam selarik doa, Imam Ali Zainal Abidin as berkata, “Lemahkanlah kekuatan kami sehingga ia tidak dapat mengerjakan hal-hal yang menyebabkan murka-Mu, dan dalam hal ini, janganlah Kau biarkan hawa nafsu kami mengerjakan setiap yang disukainya. Karena ia akan selalu memilih yang batil, kecuali hawa nafsu yang Kau beri petunjuk, dan memerintahkan kepada kejelekan kecuali hawa nafsu yang Kau karuniai rahmat.” [Fi Dhilal as-Shahifah as-Sajjadiyah, SyaikhMughniyah : 100]

Kesimpulannya, pembinaan insan tidak akan sempurna kecuali jika disertai penguasaan hawa nafsu. Perkara ini akan kita bahas lebih lanjut.

Markaz Ar-Risalah, Peran Akidah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top