Saturday , March 28 2020
Breaking News
Akidah Sang Pembebas Manusia dari Kemusyrikan (5/7)

Akidah Sang Pembebas Manusia dari Kemusyrikan (5/7)

Akidah Islam berhasil membebaskan manusia dari menyembah alam serta mengkultuskan dan bersikap takut terhadap pelbagai fenomena yang terjadi di dalamnya. Allah Swt berfirman: Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasan-Nya adalah malam, siang, matahari, dan rembulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan bulan. [QS. Al-Fushshilat: 37]

Pembahasan sebelumnya Akidah Sang Pembebas dari Jeratan Hawa Nafsu (4/7)

Manusia pernah mengalami kebingungan dan rasa takjub saat menghadapi fenomena-fenomena alam yang luar biasa ini. Ia tidak mengetahui rahasia tersembunyi di balik keluarbiasaan itu. Karenanya, ia lantas mengkultuskannya dan mempersembahkan binatang-binatang kurban yang berlimpah untuknya dengan harapan dirinya akan aman dari sergapan lahar gunung berapi yang berkobar, guncangan gempanya yang memporak-porandakan (setiap yang ada di muka bumi ini), banjirnya yang dahsyat, dan rangkaian kilatan apinya yang siap menghanguskan (setiap yang disentuhnya). Maka, datanglah akidah yang menyingkap tabir-tabir penutup akalnya dan membuka jalan di hadapannya lebar-lebar supaya ia memfungsikan alam ini semaksimal mungkin dan hidup damai berdampingan dengannya. Dengan itu, nyatalah baginya bahwa alam semesta ini dan segala ciptaan dalamnya diciptakan Allah Swt demi kepentingan manusia. Dan tugas utamanya adalah memanfaatkannya serta merenungkan asal-usulnya sehingga dengan itu dapat menemukan Khaliqnya.

Allah SWT berfirman: Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bagaimana bumi dihamparkan?. [QS. Al-Ghasyiyah: 17-20]

Perlu diketahui bahwa metode akidah Islam dalam membina insan itu berkarakter universal dan mencakup semua aspek kehidupan manusia (manhaj syumuli), baik yang berhubungan dengan diri, Tuhan, maupun alam sekitarnya. Hubungan manusia yang dekat dengan Tuhannya akan berdampak positif terhadap sikapnya dalam merespon alam di sekitarnya. Dengan itu, ia akan merasa tenang dan tentram hidup di dalamnya.

Tatkala kaum Nabi Hud as ditimpa paceklik selama tiga tahun karena mengingkari ajakannya, Nabi Hud as menganjurkan mereka meminta ampun kepada Tuhan dan bertobat kepada-Nya atas dosa-dosa yang pernah mereka lakukan dengan jalan memperbaiki hubungan mereka dengan-Nya. Berkat itu, alam berdamai dengan mereka dan menurunkan hujan dan berkah. Nabi Hud as disinyalir al-Quran- berkata kepada mereka, “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan menambahkan kekuatan pada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.[QS. Hud:52]

Atas dasar ini, ibadah sejati hendaknya dilakukan hanya lantaran Allah Swt semata, dan kita harus takut terhadap dosa-dosa yang menyebabkan murka dan pembalasan-Nya. Karena saat murka, Allah Swt dengan mudah akan menggunakan kekuatan alam ini sebagai sarana untuk menyiksa manusia, sebagaimana Dia menenggelamkan Fir’aun ke perut lautan dan mengirimkan badai dahsyat yang memporak-porandakan kaum ‘Aad. Begitu pula dengan kebanyakan siksaan yang telah menimpa orang-orang kafir, yang terjadi melalui kekuatan alam. Semua itu menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara manusia dan alam. [Ushulul Kafi 2 : 374/2, kitab al-Iman wal Kufr]

Imam Ja’far Shadiq as, putra beliau as, juga pernah berkata, “Jika perzinaan telah merajalela, niscaya akan terjadi gempa dan bencana alam; jika zakat tidak dikeluarkan, niscaya akan binasalah seluruh binatang melata; dan bila para penguasa telah berlaku curang dan lalim dalam memutuskan suatu perkara, niscaya air hujan tidak akan turun dari langit.”[Al-Khisal, Syaikh Shaduq 1-2 : 242, bab al-arba’ah]

Ringkasnya, seyogyanya manusia hanya takut terhadap dosa dan kesalahan yang dapat memicu kehancuran masyarakat dan terangkatnya berkah. Adapun jika takut terhadap alam dan meyakini sebagian fenomenanya sebagai keburukan yang tidak sesuai dengan aturan alam dan hikmahnya, maka (asumsi) ini sebenarnya muncul dari pandangan yang sempit terhadap masalah-masalah ini. Jika memandang peristiwa-peristiwa itu dalam kaca mata undang-undang alam yang universal, niscaya akan diakui bahwa semua itu adalah kebaikan mutlak. Betul, kali pertama peristiwa-peristiwa itu terlihat merugikan. Namun, orang yang mau merenungkan itu, akan memahami bahwa semua itu merupakan kebaikan dan kemaslahatan absolut yang sarat dengan hikmah, keadilan, dan terjadi berdasar undang-undang yang eksak.

Pembahasan berkenaan dengan hikmah musibah dan bala ini dapat anda telaah lebih cermat lagi dalam ilmu teologi. Namun, yang perlu kami tekankan di sini, akidah Islam telah berhasil mengubah pandangan manusia terhadap alam sekitarnya menjadi perkara yang dapat memberikan kebebasan kepadanya, dan dengan itu, dapat lebih leluasa berinteraksi dan bersahabat dengannya.

Markaz Ar-Risalah, Peran Akidah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top