Sunday , December 15 2019
Breaking News
Al-Ghadir dan Imam Ali Pemersatu Umat

Al-Ghadir dan Imam Ali Pemersatu Umat

Peristiwa pengangkatan Imam Ali sebagai Wali dan Washi Nabi bagi seluruh kaum Muslimin pada saat Haji Wada, (haji terakhir Nabi Muhammad saw) merupakan salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Islam, momentum disempurnakannya Islam oleh Allah Swt sebagaimana firman-Nya: 

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”(Q.S. al-Maidah:3)  

Demikian Firman Allah Swt menegaskan arti penting hari Al-Ghadir.

Peristiwa Al-Ghadhir merupakan momen pamungkas penyempurnaan Islam. Penjamin terjaganya ajaran Islam dan umat Islam yang membuat setan menangis dan putus asa. 

Sementara dari sisi sejarah periwayatan, tercatat tidak ada satu hadis pun di kalangan Muslimin yang memiliki riwayat semutawatir hadis Al-Ghadir, dan peristiwa yang terjadi berkenaan dengannya. Khotbah Al-Ghadir dan peristiwa penting ini dalam sejarah Islam memiliki seratus dua puluh ribu saksi dan pendengar yang setiap orang dari mereka, menukil peristiwa tersebut dalam jumlah yang layak diperhatikan, baik dari jalur periwayatan Syiah, maupun jalur periwayatan Sunni.

Sebegitu besar dan pentingya peristiwa Al-Ghadhir ini, maka penolakan terhadapnya sama saja dengan menghancurkan salah satu fondasi dasar Islam. Jika hadis Al-Ghadhir yang paling mutawattir periwayatannya dalam sejarah hadis ini ditolak, maka konsekuensinya, hadis-hadis lain yang lebih lemah periwayatannya pun akan tertolak, dan hancurlah salah satu pilar agama Islam.

Tentang kemutawatirannya semua ulama Islam sepakat. Hanya saja dalam hal konsep Wali dan Maula, umat Islam Sunni dan Syiah memiliki dua pandangan yang sedikit berbeda dari sisi kepemimpinan administratif, berkenaan dengan hak Imam Ali sebagai penguasa masyarakat di ranah pemerintahan.

Tetapi dari sisi kepemimpinan religius, dari sisi kepemimpinan transendennya, sebagai pemimpin agama, mengenai posisi Imam Ali, Sunni dan Syi’ah sepakat. Semua mengakui bahwa Imam Ali as adalah seorang pemimpin religius yang menjadi rujukan nomor satu setelah wafatnya Rasulullah saw. Bahkan di masa Syaikhain pun, Imam Ali selalu dijadikan sebagai rujukan oleh dua Khalifah, Abu Bakar dan Umar bin Khattab, terkecuali Utsman bin Affan.

Pasca Utsman, dalam diri Imam Ali bergabung antara kepemimpinan administratif (Khilafah) dan kepemimpinan ilahiah (Imamah). Pada diri Imam Ali-lah menyatu antara konsep kepemimpinan Sunni dan Syiah. Karena itulah dikatakan Imam Ali adalah sosok pemersatu Sunni & Syiah. Bahwa Imam Ali as adalah Imam seluruh umat Islam sepeninggal Rasul saw yang diakui semua umat Islam, baik Sunni maupun Syiah.  (Muhammad/Yudhi) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top