Thursday , November 21 2019
Breaking News
Arti Merdeka Di Mata Kaum Tertindas

Arti Merdeka Di Mata Kaum Tertindas

Tanggal 17 Agustus sebentar lagi tiba. Bangsa Indonesia akan merayakan 70 Tahun kemerdekaannya, penuh sukacita memperingati hari bersejarah terbebasnya Indonesia dari cengkeraman penjajah. Kini tak ada lagi perang, tak ada agresor yang mengarahkan moncong meriam dan meluncurkan bom dari pesawat tempur. Konon karena itu Indonesia sudah disebut merdeka.

Tapi apakah Indonesia sudah benar-benar merdeka? Bagaimana dengan sekelompok warganegaranya di beberapa pelosok negeri yang hingga kini masih teraniaya, terusir, terampas hak-hak asasinya? Terlunta-lunta menunggu keadilan?

Tengoklah Nurman, dari Suku Anak Dalam, Jambi. Lelaki yang mewakili suara 1800 KK warga Suku Anak Dalam ini bersama 7 orang petani bertekad akan tetap di Jakarta mencari keadilan karena terusir dari tanah mereka.

“Kami kecewa dengan pemerintahan Batanghari Jambi. Sampai kami aksi jalan kaki, dari Jambi ke Jakarta selama 43 hari. Satu meninggal, satu lumpuh hingga kini, dan lima sakit keras. Tapi dari oktober 2014 sampai saat ini belum ada instansi pemerintah yang bisa menyelesaikan ini,” keluh Nurman.

“Kami terlunta-lunta di Jakarta. Tapi sudah tekad kami sebelum ada titik terang penyelesaian yang bisa menyelesaikan permasalahan ini, kami belum mau pulang ke Jambi.”

Nurman masih berjuang dan akan terus berjuang. Mari kita dengar bagaimana kemerdekaan dari kacamatanya sebagai anak Bumi Pertiwi yang terusir dari tanahnya sendiri.

“Hari kemerdekaan artinya perjuangan tahun 45 dengan pejuang-pejuang kita harusnya diteruskan oleh pejabat pemerintah sekarang ini dengan betul-betul menegakkan arti perjuangan. Yaitu UUD 45, jangan malah Undang-Undang dilecehkan. Cuman sekarang Undang-Undang itu tidak dipraktikkan ke masyarakat,” ujar Nurman.

“Seperti keadilan, keadilan itu berpihak bagi orang kaya, bagi pejabat, bagi yang banyak uang. Tapi keadilan itu tak berpihak kepada masyarakat kecil. Ini contohnya kita sekarang Pak. Tanah masyarakat digusur tanpa keadilan, tanpa penegakan hukum benar-benar berlaku di negara kita.”

“Ya sekarang ini betul sudah merdeka, tapi isinya belum merdeka. Masih banyak kemiskinan, rakyat tergusur, dianiaya, ditindas gitu Pak,” tambah Nurman.

Muslim Syiah Sampang Yang Teraniaya

Nasib ratusan warga Muslim Syiah Sampang juga tak jauh beda dengan nasib warga Suku Anak Dalam. Tiga tahun mereka terlunta di pengungsian, terusir dari kampung halaman karena fitnah sektarian. Bagaimana pandangan mereka mengenai hari Kemerdekaan?

“Ya menurut saya, hari kemerdekaan itu kemerdekaan hidup,” ujar Ustaz Iklil, koordinator pengungsi Syiah Sampang yang juga ikut terusir dari kampung halamannya. “Tapi kenyataannya kita ini kan tidak merdeka dalam berkeyakinan.”

“Padahal semua warganegara itu harus merdeka dari ketidakadilan siapa pun. Terutama dari penjajahan negara lain, atau penjajahan mayoritas terhadap minoritas. Semua warganegara harus mendapatkan kemerdekaan hakiki. Jadi tidak ada mayoritas dan minoritas. Semua warganegara harus mendapatkan hak-haknya itu. Itulah arti merdeka menurut saya.”

Iklil mengaku, mereka dan warga Sampang yang dipaksa menjadi pengungsi di negerinya sendiri, faktanya memang belum mendapatkan kemerdekaan dan kebebasan berkeyakinan yang menjadi hak asasinya.

“Menurut saya kemerdekaan yang dulu itu belum kita dapatkan. Hak hidup layak, hak bebas berkeyakinan dalam agama, hak dalam kehidupan sehari-harinya. Baru ketika semua rakyat itu tak mendapat kesusahan di negeri ini, itu merdeka. Jadi menurut saya di situ makna kemerdekaan sejatinya.”

“Kita tidak boleh egois. Tak boleh itu. Apalagi Indonesia itu mayoritas Islam. Dan Islam itu rahmat. Kita harus buktikan bahwa Islam itu bener-bener jadi rahmat bagi seluruh rakyat Indonesia, apapun agamanya, apapun sukunya,” pungkas Iklil.

Perasaan terjajah oleh saudara sebangsa sendiri ini pun dialami oleh Pendeta Palti Panjaitan dari HKBP Filadelpia, Bekasi yang gerejanya menjadi korban serangan massa.

“Ya, memang kita harus bersyukur bahwa kita sudah merdeka dari bangsa asing. Tapi kita juga harus bersedih karena kita merasakan penjajahan oleh saudara sendiri, bangsa kita sendiri. Kita sebenernya mesti besedih karena masih banyak hak-hak kita yang ditindas oleh sesama bangsa sendiri,” ujar Pendeta Palti.

Begitu juga Maria Sano, ibu dari Stefanus Sano, anaknya yang hanya tinggal abunya saja saat diketemukan saat Tragedi Mei 98 pun menyatakan bahwa saat ini Indonesia belum benar-benar merdeka.

“Ya kita sih belum merdeka. Sama sekali kalau saya bilang belum merdeka,” ujar Maria. “Apaan, masih ada kerusuhan di sana-sini kok merdeka. Sembako masih mahal ya belum merdeka. Yang namanya merdeka itu apa-apa murah, kerusuhan gak ada, gitu. Aman damai. Kalau masih ada kerusuhan, berantem sana-sini, tawuran, ya bukannya merdeka namanya. Tambah semrawut negara kita namanya.”

Sementara bagi Kusnendar, salah seorang korban Tragedi 65 yang telah merenggut nyawa jutaan anak bangsa, kemerdekaan artinya adalah kedaulatan bangsa.

“Arti merdeka itu, harus dijunjung tinggi, hasil perjuangan para pejuang terdahulu. Yaitu melalui demokrasi rakyat. Trisakti dijalankan. Bebas berdaulat dalam bidang politik, budaya dan ekonomi,” ujar Kusnendar.

Bagi Kusnendar kemerdekaan sejati adalah ketika Trisakti dijalankan sepenuhnya.

“Merdeka mungkin iya dikit, sekarang. Tapi ekonominya dikuasai siapa? Bung Karno waktu itu saat ada Freeport bilang gimana pembagian fee-nya? Fifty-fifty Amerika bilang. Gak, 60 Indonesia 40 untuk Anda, kata Soekarno. Kalau gak mau ya silakan go to hell! Itu kata Bung karno.”

“Karena itu harapan saya kepada generasi muda kita, tengoklah sejarah, apa kata-kata Bung Karno. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Jasmerah!” pesan Kusnendar. (Muhammad/Yudhi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top