Monday , August 26 2019
Breaking News
Arti Penting Dua Muktamar

Arti Penting Dua Muktamar

Dua perhelatan besar di Indonesia saat ini sedang terjadi. Bukan masalah politik, baik pemilu atau pilkada tapi ini menyangkut nasib umat Islam di Indonesia dan perannya di dunia Internasional.

Ya, dua ormas besar yang menjadi payung umat Islam Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, di minggu yang sama, tengah mengadakan Muktamar mereka di dua kota berbeda di Indonesia.

Lalu sejauh mana arti penting dua muktamar ini mempengaruhi kehidupan Muslim Indonesia dan dunia di kemudian hari?

Berikut adalah wawancara tim ABI Press dengan Cendekiawan Muslim Dr. Muhsin Labib.

Apa arti penting dari dua muktamar kali ini?

Ini adalah suatu peristiwa unik, mungkin baru kali ini Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah mengadakan Muktamar berbarengan. Yang satu di Jombang, Jawa Timur yaitu Muktamar NU ke-33 dan yang satu di Makassar, Sulawesi Selatan, Muktamar Muhammadiyah ke-47. Memang Muhammadiyah itu lebih dulu, usianya lebih tua dari NU sebagai organisasi tapi kita harus melihat NU itu dengan dua cara.

Pertama NU sebagai organisasi itu memang muda, lebih muda daripada Muhammadiyah tapi NU sebagai cara pandang beragama itu lebih dulu daripada Muhammadiyah. Jangan sampai salah, orang disebut NU kadang-kadang bukan karena dia anggota organisasi NU, tapi cara pandang beragamanya yang menunjukkan dia itu NU. Misalnya bermazhab Syafii yang murni yang tidak dicampur-campur, terus mengikuti tradisi tahlil dan sebagainya, itu sebutan NU .

Yang kedua adalah NU secara organisasi, ormas yang sekarang bermuktamar ini di Jombang adalah NU sebagai organisasi dan tentunya orang-orang yang ikut terlibat bermuktamar, nanti mengikuti salah satu agenda terbesarnya adalah memilih Ketua Rais Aam dan Ketua PBNU. Itu dari sisi organisasi.

Kemudian yang satu lagi Muhammadiyah. Muhammadiyah ini sekarang ini memang kelihatan lebih pasif dari sejak beberapa tahun lalu karena hilangnya figur-figur yang menonjol sejak kita pernah ingat tokoh seperti Amien Rais dan Buya Safii Maarif. Tokoh seperti Buya, lebih kelihatan diharapkan menjadi representasi guru bangsa dari Muhammadiyah, seperti halnya juga NU mempunyai seorang Gus Dur. Gus Dur itu adalah pemikir yang buah pikirannya itu sudah mencetak generasi muda NU yang cerdas yang sekarang bisa dianggap kelompok seperti Gusdurian, itu warisan Gus Dur yang paling nyata.

NU dan Muhammadiyah adalah dua realitas Islam di Indonesia yang satu mewakili cara pandang beragama yang lebih tradisional yang satu cenderung lebih modern. Meskipun penyebutan tradisional atau modern kadang-kadang tidak ketat lagi karena ternyata banyak intelektual muda NU yang cara berpikirnya lebih modern. Jadi saya tidak setuju istilah tradisional dan modern, istilah itu tidak boleh ketat sekarang. Kadang malah yang Muhammadiyah terkesan sebagian tidak modern.

Sekarang kalau kita mau melihat umat Islam di Indonesia, kita tidak bisa hanya melihat NU, kita juga harus melihat Muhammadiyah. Kenapa Muktamar itu sekarang penting ? Karena kita berada dalam situasi yang sangat krusial sekarang ini; sangat sensitif dan menentukan. Situasi sulit yang saya maksud di sini adalah perubahan politik yang terjadi baik di skala Internasional atau global dunia Islam maupun Indonesia.

Jadi ada tigal hal yang memengaruhi cara pandang kita, cara kita mengenali sesuatu, mengapa ? Karena kalau kita hendak melihat Indonesia itu NU dan Muhammadiyah. Karena Indonesia memiliki posisi yang sangat penting sebagai negara Islam dengan jumlah terbesar maka apapun yang terjadi terutama di dunia Islam maka sangat dipengaruhi dan mempengaruhi posisi Indonesia.

Karena itu, apa yang terjadi di Timur Tengah, baik yang digambarkan sebagai sebuah konflik agama, konflik pemikiran, konflik sektarian maupun mazhab itu sebetulnya adalah konflik politik yang jelas Indonesia terbawa-bawa juga. Fenomena ISIS, fenomena munculnya gerakan-gerakan teror, gerakan fundamentalis ekstremis yang sudah menjadi sebuah sistem yang rapi itu juga menjadi persoalan, kenapa?

Karena itu bukan hanya terjadi di Timur Tengah tapi juga menyebar kemana saja termasuk itu di Indonesia. Karena itu penting bagi kita untuk melihat apakah gerakan ekstremisme ini bisa menyusup masuk ke dalam dua organisasi Islam di Indonesia ini ataukah tidak?

Itu pertanyaan yang sangat penting. Oleh karena itu langkah yang diambil oleh NU maupun Muhammadiyah maupun di luar organisasi itu untuk mempertegas identitas ke-Indonesiaan melalui Islam Nusantara itu harus dipandang sebagai sebuah upaya untuk memproteksi diri dari pengaruh-pengaruh ekstremisme yang memang sudah ada kemudian direspon oleh kecenderungan-kecenderungan yang besar dari luar dan masuk ke sini. Nah, NU sebagai sohibul bait Islam di Indonesia itu pasti merasa bertanggungjawab untuk menyelamatkan Islam ini jangan sampai terpengaruh oleh arus radikalisasi dan lain sebagainya. Kalau ternyata Muktamar ini mampu menjaga atmsofer Islam toleran oleh tokoh-tokoh toleran yang kita kenal, jadi tidak sampai terpengaruh oleh kelompok-kelompok ekstremis atau penumpang gelap yang menggunakan nama NU dan lain sebagainnya. Nah, jika itu yang terjadi maka kita bisa optimis Isam di Indonesia tidak akan banyak dipengaruhi oleh gerakan-gerakan ektremisme dan intoleransi yang menggunakan nama Islam. Begitu juga dengan Muhammadiyah, kalau Muhammadiyah dipegang oleh tokoh muda pengganti semacam Pak Din, ya insya Allah akan lebih baik daripada kemasukan oleh orang –orang dari unsur ekstremis atau penyusup yang mengatasnamakan Muhammadiyah.

Apa benar masa depan Umat Islam saat ini berada di tangan kedua Muktamar ini?

Ya, dua Muktamar kali ini lebih penting dari sebelumnya dan memang respon masyarakat juga besar melihat dari yang hadir di Muktamar ini, dan ada even-even yang selama Muktamar NU dilaksanakan kali ini, belum ada sebelumnya. Serta jangan lupa lagi atmosfer persaingan dalam Muktamar itu juga mirip persaingan ketua umum partai. Sampai terjadi perang isu dan lain sebagainya untuk memojokkan satu tokoh dan memunculkan tokoh yang lain. Tapi memang seperti yang Anda pertanyakan tadi, Muktamar kali ini memang penting, mengapa?

Karena kita tidak bisa menutup mata ada unsur-unsur intoleran di dalam dua organisasi ini. Ada orang-orang yang berambisi untuk menempati posisi-posisi tertinggi di dalam organisasi ini padahal pandangan-pandangannya jelas bertentangan dengan toleransi, bertentangan dengan prinsip kebhinnekaan, bertentangan dengan konstitusi negara. Begitupun sikap-sikapnya. Itu kan mengkhawatirkan kalau seandainya sampai diterima dalam masyarakat. Karena itu kalau Ketua PBNU dan Rais Aam adalah mereka yang memiliki kepedulian terhadap toleransi, saya optimis NU akan menjadi garda terdepan untuk membela Islam yang toleran yang memang menjadi ciri khas Islam Aswaja yang memiliki minimal dua ciri khas utama.

Pertama tasamuh yaitu toleran dan kedua tawasuth yaitu moderat. Tapi kita kan juga dengar belakangan ini ada orang-orang yang menggunakan nama NU. Yaitu sekelompok orang intoleran yang maunya tampil sebagai ultra NU, maksudnya. Padahal malah mencemari NU, bertentangan dengan visi dibentuknya NU. Nah, mereka ini juga orang-orang yang gigih dan boleh jadi ada suporter-suporter di belakangnya sehingga meskipun tidak terlalu khawatir tapi mereka bekerja keras untuk itu. Apalagi ada satu hal, Jawa Timur itu bisa dikatakan daerah yang paling intoleran saat ini, padahal Jawa Timur adalah basis besar NU. Kita juga tidak bisa menutup mata bahwa sikap sebagian tokoh-tokoh NU di Jawa Timur itu justru berperan membuat suasana toleransi itu tidak terasa di beberapa tempat baik di tingkat provinsi maupun di tingkat cabang-cabang. Nah, kalau ternyata aroma intoleransi di Jawa Timur itu kemudian berpengaruh terhadap atmosfer di Muktamar, saya ndak tau apa yang akan terjadi.

Tapi bukankah itu berarti bertentangan dengan tema yang mereka angkat sebagai “Islam Nusantara” yang toleran dan damai?

Maka itu, sekarang ini ada tarik menarik di Muktamar, tentang mekanisme pemilihan bagaimana memilih seorang Rais Aam dan Ketua Umum, dari dua kubu, yaitu kubu yang mempertahankan voting, pemgambilan suara, semuanya mendapatkan hak suaranya dan ada yang berusaha untuk apa yang disebut dengan ahwa, yaitu cukup dibatasi hanya pada sistem musyawarah yang sudah pernah dilakukan dan memang itu menjadi tradisi sebetulnya.

Intinya secara umum sangat disayangkan kalau sampai NU jatuh ke tangan kelompok-kelompok intoleran atau kelompok yang tidak terlalu peduli pada intoleransi.

Ada tiga kelompok terkait toleransi. Ada kelompok toleran, ada kelompok kedua yang tidak punya respon positif juga tidak punya pernyataan yang positif tentang toleransi, artinya ndak punya greget. Nah, yang ketiga adalah kelompok yang intoleran. Kalau sampai yang ketiga ini yang berkuasa ya ndak ada lagi ceritanya Islam Nusantara itu. Itu menurut saya. Begitu juga di Muhammadiyah, kita juga tidak bisa menutup mata ada orang-orang tertentu atau bisa dikatakan ada unsur di Muhammadiyah, yang intoleran, yang getol dan sekarang sedang gigih untuk mengambil posisi Ketua PP Muhammadiyah. Saya tidak tahu atmosfernya bagaimana yang terjadi di Makasar itu. Tapi saya yakin insya Allah kedua organisasi ini dalam Muktamarnya akan melahirkan pemimpin yang toleran, karena kesadaran orang tentang pentingnya toleransi itu sudah sangat luas. Jadi, mudah-mudahan saja begitu.

Islam Nusantara dianggap sebagai role model Islam perdamaian, tapi pada kenyataannya di Indonesia sendiri kenapa ada sejumlah pertikaian antar mazhab yang sampai saat ini belum terselesaikan?

Jadi begini, memang Islam Nusantara yang dimunculkan itu meskipun saya lebih setuju dengan Islam Indonesia daripada Islam Nusantara sebetulnya, tapi mungkin Nusantara itu N dan U nya itu lebih punya arti. Punya kesamaan dengan NU. Tapi maksudnya pasti Islam Indonesia. Mana mungkin kita masuk ke Malaysia, Brunei, yang karakternya sudah beda dengan kita?

Islam Nusantara ini sebetulnya sudah ada di Indonesia jauh sebelum ada istilah Islam Nusantara. Sepertinya itu yang membuat orang otomatis ketika memahami agama dia pasti menerapkan Nusantaranya itu kerena konteksnya konteks tempat, ruang dan waktu. Jika ditegaskan begitu, Islam Nusantara itu sebetulnya respon terhadap apa yang sedang terjadi di Timur Tengah. Mengapa di Timur Tengah? Karena di sana malah terjadi konflik, orang berbeda mazhab, berbeda pandangan akhirnya saling bunuh dan lain sebagainya. Nah, Islam Nusantara ingin menegaskan bahwa Islam di Indonesia tidak berkarakter seperti itu, tapi Islam yang santun, toleran kemudian berbasis pada karakter masyarakatnya, kan itu maksudnya. Karena konon masyarakat kita karakternya adalah masyarakat santun.

Meskipun begitu kita tidak bisa menggeneralisir bahwa Timur Tengah semuanya konflik. Itu juga berlebihan. Saya juga tidak ingin ketika kita bilang kita Islam Nusantara, lalu diartikan kita merendahkan Islam di luar Nusantara, itu chauvinisme namanya. Tidak semua negara Timur Tengah itu konflik, iya kan? Dan konflik itu datang dari luar negara Arab. Nyatanya yang meramaikan konflik-konflik itu datang dari Indonesia, Malaysia, dan dari negara-negara lain juga ada. Jadi tidak bisa kita bebankan bahwa Arab itu identik dengan keburukan. Ndak mungkin lah.

Maka chauvinisme ini juga harus dihindari di dalam penyebutan Islam Nusantara. Anda menjadi Islam Nusantara, jadi hargai juga Islam yang ada di tempat lain. Kita harus bangga dengan Islam Nusantara dengan karakter kita. Karena Islam ke Indonesia masuk dengan pendekatan budaya. Ini yang perlu diperkuat. Jelaskan Islam Nusantara tanpa menjelekkan Islam di luar Nusantara. Ini yang saya maksud.

Nah, yang kita bilang Islam Nusantara supaya menjadi contoh bagi Islam, maunya kan begitu. Boleh saja memberi contoh masyarakat Islam lain bahwa di Indonesia ini ada Islam Nusantara yang toleran, meskipun menurut saya itu baru harapan belum fakta. Artinya kalau ingin menjadi contoh masih belum bisa. Mengapa? Lho kita ini masih kocar-kacir. Kita masih punya, terutama NU secara moral paling bertanggung jawab, pemerintah bertanggung jawab secara konstitusional untuk menegakkan hukum, tapi NU sebagai umat Islam terbesar, organisasi terbesar, terutama di Jawa Timur terkait dengan kasus Sampang dan apa yang menimpa Ahmadiyah di beberapa daerah, menurut saya ya kalau ingin memberi contoh kepada dunia Islam lain, tentang Islam yang santun, tentang Islam yang toleran, yang moderat, ya kita bersih-bersih rumah sendiri dulu lah.

Nyatanya orang diusir jumlahnya tidak lebih dari 200 saja itu justru diusir dan tidak diperbolehkan pulang oleh oknum-oknum yang mengatasnamakan dirinya ulama-ulama NU. Nah, bukankah ini persoalan? Silakan Anda berbangga dengan Islam Nusantara tapi barengi dengan aksi-aksi nyata untuk menegakkan toleransi, bukan cuma ngomong, bukan sekadar terbitkan buku, bukan sekadar launching slogan tapi juga aksi nyata. Karena itu saya yakin NU di bawah pemimpin yang benar-benar pengusung sejati prinsip Islam Nusantara, saya yakin mereka punya komitmen untuk menyelesaikan konflik-konflik termasuk Sampang meskipun tidak mudah. Karena ada sejumlah variabel yang harus diperhatikan. Tapi yang mengkhawatirkan, kalau sampai kepemimpinan di NU dan Muhammadiyah itu jatuh pada kelompok yang kedua tadi itu? Toleran tapi tidak peduli, artinya tingkat kepeduliannya terhadap toleransi itu rendah, ah lebih tidak optimis saya. Apalagi sampai jatuh ke tangan yang intoleran, wah bisa lebih banyak lagi kasus intoleransi yang akan kita lihat nanti ke depan.

Karena itu Islam Nusantara itu adalah sebuah keniscayaan. Orang harus mendukung itu karena diniati atau didasari kesadaran bahwa tidak semua orang berislam dengan caranya, sesuai dengan karakter masyarakat di sekitarnya, hingga nanti ada Islam Malaysia, ada Islam Thailand, Islam India, dan Pakistan. Bukan Islamnya yang berkurang, Islamnya tetap, mungkin dalam konteks penerapannya yang di situ ada beda antara satu masyarakat dengan masyakarat yang lain. Jadi kesimpulannya, kita tunggu setelah jargon Islam Nusantara, kita tunggu aksi nyata bagaimana Islam yang santun, yang moderat itu benar-benar bisa diterapkan dan baru bisa menjadi contoh. Sebab kalau belum ada contohnya, belum bisa membuktikan, lalu bagaimana bisa menjadi contoh?

Apa tantangan dari dua Ormas Islam ini ke depannya?

Tantangan terbesar organisasi ini adalah terletak pada spirit awalnya sebagai sebuah organisasi agama, jadi karakternya jangan karakter politik. Jangan ditarik-tarik untuk memberikan dukungan politik. Kemudian pola-pola pembentukan opininya itu jangan sampai ada titipan-titipan yang akhirnya mencemari kekudusannya, kesakralan organisasi yang dibangun karena spirit agama. Maka itu sangat memprihatinkan apabila dalam Muktamar itu ada aksi-aksi yang sebenarnya tidak patut terjadi antara pendukung ini dan pendukung itu, apalagi sampai saling fitnah atau bully atau menyebar selebaran negatif untuk memojokkan kelompok ini dan kelompok itu.

Masyarakat minoritas sangat berharap kepada NU baik minoritas antar agama, seperti minoritas dalam kelompok Islam, seperti Syiah dan Ahmadiyah, sangat berterimakasih kepada NU terutama kepada Gus Dur. Gus Dur itu adalah sebuah karunia bagi NU. Karena berkat keberaniannya membela kaum minoritas, NU harum namanya. Warga NU yang menganggap Gus Dur itu sebagai karunia bagi umat Islam di Indonesia dan seluruh dunia Islam. NU mestinya berani untuk mengambil langkah, kalau di Sampang ada tokoh-tokoh yang mengatasnamakan NU dan mengatasnamakan ulama, saya yakin NU dengan semua kemampuannya, dengan semua kemegahan dan wibawanya mampu untuk menyelesaikan masalah.

Nah, sekarang tantangan kedua NU, ini lebih besar bagi NU-nya daripada Muhammadiyah. Bagaimana organisasi ini benar-benar strukturnya itu sampai ke bawah bukan hanya nama, sebab jangan-jangan yang di Pusat itu sudah memberikan pandangan-pandangan yang jelas, sikap-sikapnya tentang toleransi dan sebagainya, tapi di daerah belum tentu. Nah itu problem organisasi. Jadi di samping itu bagaimana organisasi ini berjalan sesuai dengan khittahnya, sesuai dengan Anggaran Dasarnya, sesuai dengan platformnya supaya ada sinergi antara Pusat dan yang di bawah. Tapi nyatanya? Daerah-daerah konflik sektarian yang terjadi seperti di Sampang itu kan wilayah NU, tapi kita melihat apapun yang dilakukan oleh tokoh-tokoh NU di Pusat kelihatannya kurang berpengaruh terhadap NU di bawah. Lha terus apa perlunya organsiasi? Kalau ternyata pemimpinnya tidak mampu menyelesaiakan masalah jajaran yang di bawahnya?

Nah, ini tantangan yang berat juga buat NU ke depan, jangan sampai dia hanya menjadi simbol yang hanya, sekadar kita bangga NU, Banser, ini bisa melindungi gereja-gereja saat Natal. Itu bagus, karena itu menunjukkan komitmen terhadap toleransi, tapi akan lebih baik lagi bila itu ditambahi kemampuan untuk memberikan ketenangan dan menjaga toleransi di daerah-daerah yang memang sering muncul menjadi konflik-konflik. Seperti di Pasuruan, Bangil, Sampang, Jember di beberapa daerah di Bondowoso dan lain-lain. Itu basis NU. Dan saya yakin dengan Islam Nusantara yang dihadirkan ke dalam bentuk kerja nyata, konflik-konflik semacam itu mestinya sudah tidak perlu terjadi.

Jadi dua tantangan NU yaitu bagaimana dia bisa menghadirkan Islam Nusantara dalam bentuk kerja nyata, yang kedua bagaimana organisasi ini benar-benar berjalan dari Pusat sampai ke tingkat Ranting, sampai paling bawah. Supaya sikapnya, keputusannya itu benar-benar bisa diterapkan sampai tingkat bawah, misalkan salah satunya untuk meredam potensi konflik.

Terkait dua Muktamar ini, apa yang ingin Anda Sampaikan?

Muktamar ini penting bukan hanya bagi NU, dan Muktamar ini juga penting bukan hanya bagi Muhammadiyah, tapi penting bagi bangsa Indonesia. Bagi semua, Muslim dan non-Muslim, Muhammadiyah atau non-Muhammadiyah, NU atau non-NU, penting, mengapa? Mereka adalah tiang terbesar umat Islam di Indonesia, NU dan Muhammadiyah itu adalah ormas yang terbesar di Indonesia, meskipun tidak semua umat Islam itu NU dan Muhammadiyah tapi mereka yang terbesar. Karena itu apapun keputusan mereka, pemimpin-pemimpin yang dihasilkan itu sangat penting bagi umat Islam di Indonesia. Penting bagi Indonesia berarti penting bagi dunia Islam, penting bagi dunai Islam berarti penting bagi dunia. Jangan kecilkan itu walaupun di kota kecil seperti Jombang tapi vibrasinya gelombang itu mendunia, meskipun di Makassar tapi itu pengaruhnya bisa mempengaruhi keputusan dunia. Bisa sampai ke OKI, bisa masuk ke PBB dan lain sebagainya karena Indonesia menempati posisi yang sangat penting di dunia Islam dan di dunia Internasional.

Berarti masa depan Indonesia dan umat Islam Indonesia ditentukan hari-hari ini?

Ya sangat penting, sebab itu mengapa mata kita semua tertuju ke sana, satu mata tertuju ke Makassar, satu mata tetuju ke Jombang. Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, dua sayap Islam di Indonesia adalah NU dan Muhammadiyah. Kita berkepentingan mereka bisa bekerja sama sinergis, harmonis, melindungi umat Islam di luar mereka dan melindungi masyarakat Indonesia, baik Muslim maupun non-Muslim. Dengan begitu, saya yakin mereka akan bisa menjadi contoh dan teladan bagi dunia. (Lutfi/Yudhi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top