Tuesday , August 20 2019
Breaking News
Asyura Milik Siapa?

Asyura Milik Siapa?

Pada bulan Muharam seperti saat ini, sejumlah tempat di Indonesia mengadakan berbagai peringatan dan perayaan adat disertai prosesi khas yang biasa dilakukan, khususnya pada tanggal 10 Muharam, yang biasa dikenal dengan sebutan Hari Asyura.

Namun akhir-akhir ini peringatan Asyura di daerah-daerah itu mulai dicap sebagai peringatan yang hanya menjadi ciri khas mazhab Syiah, sehingga ada keinginan dari pihak-pihak tertentu untuk menghilangkan adat dan tradisi tersebut.

Benarkan Asyura milik mazhab tertentu dalam Islam? Jika bukan, lalu milik siapakah tradisi Asyura ini?

Untuk memperjelas posisi Asyura, ABI Press mewawancarai tokoh Islam sekaligus penulis buku yang dikenal moderat, Dr. Muhsin Labib.

Berikut petikan wawancaranya.

Apakah sebenarnya Asyura itu?

Di bulan Muharam, ada dua tanggal merah. Tanggal merah pertama itu karena tanggal merahnya perayaan, itu peringatan tanggal satu Muharam yang dianggap sebagai awal Tahun Baru Islam. Tanggal merah yang kedua yaitu sepuluh Muharam, merah di sini bukan libur, tapi merah darah, merah karena memang berdarah. Asyura itu adalah sebutan umum untuk hari kesepuluh, yang asal katanya adalah asrah. Jadi, tepatnya hanya untuk sepuluh Muharam saja sebutan Asyura itu.

Sedemikian pentingnya, sejak dulu tanggal sepuluh Muharam sudah dikenal. Dalam sejarah Islam, ada sebuah tragedi, kejahatan kemanusiaan yang bisa dianggap sebagai genosida, yaitu pembantaian cucu Nabi yang bernama Al-Husain bin Ali Bin Abi Thalib, putra Fatimah Az Zahra.
Kedudukan Siti Fatimah putri Nabi dan istri Imam Ali itu banyak dimuat dalam beragam riwayat. Baik di kalangan mereka yang bermazhab Sunni maupun yang bermazhab Syiah. Artinya tidak ada orang yang mengatakan bahwa Fatimah Az Zahra itu hanya milik Sunni atau hanya milik Syiah.

Begitu juga Al-Imam Sayyidina Husein, yang juga memiliki posisi dan kedudukan terhormat yang kemuliaannya juga banyak disebutkan dalam beragam riwayat yang ada di kalangan Ahli Sunnah maupun Syiah. Bahkan saya yakin riwayat-riwayat Ahli Sunnah yang berbicara tentang keutamaan Al Husein lebih banyak daripada yang ada di Syiah. Karena pembantaian itu sedemikian tragisnya dan dilakukan tidak jauh setelah Nabi wafat dan para pelakunya itu adalah orang-orang yang juga tahu bahwa Al Husein adalah cucu Nabi dengan cerita yang paling populer bahwa Nabi memperlama sujudnya karena Imam Hasan dan Imam Husein itu seolah sedang bermain kuda-kudaan di punggung Nabi. Semua orang tahu bahwa Imam Husein itu adalah cucu Nabi langsung dan bukan dari keturunan yang kesekian.

Peristiwa Asyura yang terjadi di Karbala itu selain peristiwanya sendiri sudah tragis, juga menunjukkan bahwa umat Islam pada saat itu seakan-akan hanya berperan menjadi penonton.

Bayangkan, Imam Husein hanya bersama 73 anggota rombongan yang terdiri dari keluarga dan para sahabat setianya saja. Meski awalnya perjalanan itu disertai oleh banyak orang saat rombongan berangkat dari Madinah ke Mekkah. Sampai di Mekkah, Imam Husein melaksanakan haji, namun belum sampai selesai, beliau meninggalkan hajinya, sebab mendapat kabar bahwa utusannya ke Kufah, yaitu saudara misannya sendiri, Muslim bin Aqil telah dibunuh.

Nah untuk mencari kepastian, apakah Aqil dibunuh atau tidak, dengan alasan itulah Imam Husein membatalkan hajinya sekaligus mendeklarasikan penolakannya terhadap penguasa yang oleh para sejarahwan dikatakan sebagai penguasa diktaktor. Soal ini semua orang sepakat. Orang Sunni pun tidak ada yang mengatakan bahwa si penguasa yang ditolak oleh Imam Husein tersebut sebagai orang yang baik. Korbannya pun bukan cuma Imam Husein, tapi banyak korban lainnya, termasuk putra sahabat Nabi yang bernama Abdullah bin Zubair.

 Namun sebagian umat Islam waktu itu ada yang takut, sebagian juga ada yang berpihak kepada penguasa karena harta, karena ini dan itu. Karena itulah Imam Husein sengaja mendeklarasikan perlawanan terhahap penguasa yang zalim tersebut. Karena Yazid membeda-bedakan orang berdasarkan asal daerah, garis keturunan, dan etnik. Karena Yazid itu diskriminatif, rasialis dan lain sebagainnya. Itulah alasan Imam Husein mendeklarasikan penolakannya terhadap kepemimpinan Yazid. Jadi sama sekali bukan untuk mengambil kekuasaan. Sebab Imam Husein memang tidak sedang mencari kekuasaan. Beliau itu tetap Imam, baik berkuasa maupun tidak. Tetap Imam meskipun tidak berkuasa, artinya beliau tetap menjadi panutan keagamaan bagi umat yang hidup di masa itu.

Mengapa peristiwa Karbala itu disebut sebagai sebuah pembantaian, bukan peperangan?

Ya jelas lah. Apa namanya kira-kira jika 73 orang yang di dalamnya sebagian besar perempuan, melawan kekuatan yang paling sedikitnya berjumlah 6.000 pasukan kalau kita mau hitung, bahkan ada yang mengatakan 20.000 tentara? Itu jelas bukan pertempuran, apalagi saat perjalanan itu terjadi pencegatan di tengah jalan. Jadi itu memang bukan pertempuran sebagaimana layaknya sebuah pertempuran. Tapi sebuah keadaan yang pada saat terdesak pun, Imam Husein tidak mau mengubah keputusannya, tetap menunjukkan penolakannya terhadap penguasa yang zalim.

Keputusan Imam Husein menuju Karbala adalah pertanda bahwa hanya inilah satu-satunya cara untuk menyadarkan umat Islam. Seolah beliau ingin berkata, “Aku ini cucu Nabi. Aku yang terhormat ini pun, harus rela kehilangan semuanya.”

Membawa perempuan itu salah satu tujuannya, mungkin adalah untuk melihat masih adakah hati nurani umat, adakah yang masih mau ikut atau apa. Tapi yang jelas, filosofi Karbala itu memang perjalanan menuju kematian demi menunjukkan kehormatan. Dengan kata lain, lebih baik mati terhormat daripada hidup hina, yang slogan terkenalnya adalah “haihat minadz dzillah” atau “pantang hina.” Dengan prinsip itulah Imam Husein pun rela melakukan semua itu.

Meski sebagian orang menganggap beliau kalah tapi sesungguhnya beliau menang dalam sejarah. Artinya Imam Husein masih ada dalam ingatan orang-orang hingga saat ini meski pada waktu itu yang tersisa hanya satu orang anak laki-laki kecil yang sakit. Faktanya kita saksikan bahwa pengaruh perjuangan beliau hingga sekarang kian mengglobal dalam sejarah. Siapa bisa melupakan ini?

Lalu siapa saja yang menurut anda seharusnya memperingati Asyura itu?

Memperingati Asyuro itu memperingati kesyahidan atau memperingati terjadinya sebuah tragedi kemanusiaan. Sebetulnya siapa saja pendukung kebebasan, kemerdekaan, siapa saja yang pro keadilan, siapa saja yang menentang kezaliman, ya tentu berhak dan memang sepatutnya mengenang tragedi Karbala atau Asyura itu. Jadi bukan hanya umat Islam, melainkan semua pendukung kebebasan dan kemanusiaan mestinya mengenang dan memperingatinya.

Sama halnya kalau orang-orang sekarang memperingati misalnya peristiwa Holocaust, memperingati kejahatan-kejahatan yang terjadi seperti peristiwa Bom Bali, dan lain sebagainya. Saat mengenang itu, kita taruh karangan bunga dan segala macam, dan kita kan ndak melihat mereka yang menjadi korban itu Muslim atau bukan, tapi murni karena alasan kemanusiaan.

Nah, ini ironisnya, ada kelompok tertentu yang menyatakan bukan hanya umat Islam dianggap ndak boleh memperingati Asyura, bahkan seakan-akan mereka anggap peristiwa tragis di Karbala ini hanya sebuah peristiwa kecil yang khusus untuk kalangan mazhab tertentu saja. Ini yang saya sebut mereduksi makna Asyura. Imam Husein itu cucu Nabi. Anggaplah belum ada Syiah dan Sunni pada masa itu, dan Imam Husein tidak ada mazhab baginya sebab beliau adalah Islam itu sendiri.

Jadi semestinya bukan hanya umat Islam yang berempati atas tragedi kemanusiaan ini, tapi seluruh umat manusia yang masih punya hati nurani.

Terbukti, banyak juga tokoh-tokoh di luar Islam yang mendukung dan berempati. Seperti George Jordak, George Seidan, Antoine Bara, juga para pendeta Nasrani yang berempati kepada perjuangan Imam Husein. Ini sama saja dengan kita yang juga berempati kepada Yesus yang dianiaya dan diperlakukan tidak semestinya oleh kaumnya. Ya, sebetulnya tragedi Karbala ini merupakan isu kemanusiaan secara umum dan umat Islam tentunya yang terutama harus memperingatinya. Tapi ironisnya, umat Islam malah kebanyakan terpengaruh oleh kelompok-kelompok intoleran, yang malah menganggap peristiwa Asyura itu seakan-akan tidak pernah terjadi.

Lalu bagaimana pendapat anda dengan isu yang beredar bahwa peringatan Asyura itu adalah milik mazhab tertentu?

Ya seperti yang saya katakan itu, sudah jelas. Nabi itu memangnya milik kelompok tertentu? Juga soal Ahlulbait Nabi, pujian kepada Ahlulbait Nabi, anjuran untuk mengikutinya, menghormatinya. Itu semua ada dalam hadis-hadis Bukhari, ada dalam hadis Muslim, Turmudzi,  dan semua hadis-hadis, kitab-kitab hadis referensi utama Ahlus Sunnah. Atau lebih mudahnya, lihat saja dalam tradisi-tradisi NU.

Silakan saja memojokkan Syiah, kalau memang itu anda anggap sebagai sebuah cara untuk mencari ridha Allah. Tapi jangan ikut-ikut menciderai Ahlulbait. Jangan mengecilkan peran mereka, ndak ada hubungannya secara langsung.

Jika berbagai kesalah pahaman terhadap mazhab mungkin karena informasi keliru yang diterima, its ok. Tapi jangan reduksi posisi Ahlulbait yang memang mulia di kalangan umat Islam.

Jika memang peringatan Asyura itu demi mengenang sosok dan nilai perjuangan Imam Husein, lalu apakah ada cara khusus untuk memperingati Asyura tersebut?

Sebetulnya yang paling inti adalah soal mengenang jasa orang. Menempatkan orang itu secara, kalau orang itu berjasa, letakkanlah orang itu sebagai orang yang berjasa, sesuai dengan kadar apa yang ia lakukan, hanya itu.

Adapun cara menghormati, ya bisa macem-macem. Tradisi untuk mengingatnya ada beragam cara, tergantung budayanya, kulturnya. Tapi yang lebih penting dari itu semuanya adalah spirit perlawanan terhadap kezaliman, menentang kezaliman itu harus selalu menjadi yang utama. Karena itulah yang hendak di ingatkan. Itu yang hendak ditularkan, itu yang ingin dilakukan oleh Imam Husein agar suara teriakan pantang hina itu terus mengiang menembus lorong-lorong waktu, dari generasi demi generasi. Adapun cara itu, ada macam-macam cara dan tidak ada yang khusus dengan itu. Setiap masyarakat bisa saja punya tradisinya sendiri-sendiri.

Bagaimana dengan tradisi Asyura di Indonesia?

Asyura itu di Indonesia bukan barang baru sebetulnya. Bahkan sudah merupakan bagian dari sejarah Indonesia. Kalau kita tahu misalnya ada Jenang Suro, Bubur Suro, Grebek Suro, kemudian tradisi Tabot di Bengkulu atau Tabuik di Padang Pariaman, kemudian ada Tari Saman di Aceh dan lain sebagainnya. Tapi karena pengaruh proses westernisasi yang cukup lama, atau ada upaya-upaya orang yang berusaha untuk menutupnya, akhirnya yang tersisa dari umat Islam dari Asyura itu hanya perayaan, hanya senang-senangnya, tradisinya. Sedangkan esensi dan substansinya? Hilang.  Bahkan tentang Imam Husein pun, banyak orang sudah tidak ingat siapa beliau. Sungguh aneh kalau orang ingat Rasulullah, tapi siapa saja anggota keluarganya malah ndak tahu.

Asyura itu adalah bagian tak terpisahkan dari Indonesia. Di Nusantara dulu, etnik apapun, baik Jawa, Sumatera, Kalimantan, Maluku, semuanya mengenal apa itu Asyura. Kita dulu di masjid-masjid sering mendengar syair lagu lihamsatun utfibiha. Itu di rumah-rumah orang-orang kuno dulu begitu. Atau shallallah ‘ala toha khoirul halqi wah laha wal kharari abil qoroma’i wa zahra’i wabnaha Atau kalau maulidan-maulidan kita baca ya jaddal Husein, itu tujuannya supaya orang mengingat bahwa Rasululullah itu adalah kakeknya Imam Husein. Bahwa Imam Husein itu cucu Nabi. Tapi ironisnya, sekarang orang yang menyebut nama Imam Husein saja malah dituduh Syiah. Karena Syiah itu sudah dinegatifkan dulu, jadi semua apapun yang dikaitkan dengan Syiah menjadi negatif. Akhirnya peringatan Asyura, menghormati Ahlulbait, menghormati keluarga Nabi, menyebut nama Imam Ali, menyebut Imam Husein, seakan-akan sebuah kejahatan. Akhirnya orang lebih suka mengutip ucapan tokoh-tokoh yang lain padahal ucapan-ucapan Ahlulbait itu ucapan hikmah. Orang lebih suka menyebut dan mengutip Nelson Mandela, Dalai Lama, meskipun itu juga jelas-jelas memang sama-sama positif.

Bahkan sekadar mengetahui hak Ahlulbait yang dizalimi saja mereka ndak mau, enggan untuk itu. Karena dianggap sudah menjadi urusan Syiah, karena Syiah sudah disesatkan lebih dulu, dikafirkan lebih dulu, sehingga kalau ada orang mengingat itu akan dianggap Syiah, dan akhirnya mengingat itu dicap sebagai sebuah kesalahan, seakan-akan mengenang itu adalah sebuah kejahatan.

Umat Islam yang ada di Indonesia, yang mestinya sangat akrab dengan Asyura, malah sekarang sepertinya lupa. Merah-Putih itu sebenarnya perlambang Asyura. Tapi dalam sejarah, Asyura itu memang sengaja ditutup sisi merahnya ini, sehingga akhirnya menjadi perayaan. Karena perayaan, maka orang-orang pun melupakan soal kesyahidan itu.

Apakah saudara-saudara kita yang menjalankan tradisi penghormatan terhadap Al Husein dengan membuat bubur merah misalnya, bukan karena mereka penganut mazhab tertentu?

Iya mestinya itu dikembalikan saja pada penghormatan kepada Ahlulbait dan memang yang melakukan itu di Indonesia bukan hanya orang Syiah saja. Mereka yang memperingati itu, mungkin bahkan tidak tahu apa-apa, sebagian malah tidak tahu siapa yang diperingati. Yang tersisa saat ini hanyalah orang yang berebut suatu makanan di situ, dan akhirnya substansinya hilang. Yang awalnya adalah acara keprihatinan, menjadi pesta, yang awalnya adalah peringatan duka menjadi perayaan.

Peristiwa-peristiwa seperti itu mestinya dilestarikan oleh pemerintah daerah. dengan mengembalikan maknanya dengan mendatangkan orang-orang yang memang tahu latar belakang sejarah, bukan hanya dibiarkan begitu saja. Akhirnya saat ini masyarakat tidak begitu paham apa yang terjadi, kenapa ada Grebek Suro, lalu ada bubur putih ada merah bintik-bintik, mengapa? Padahal itu erat kaitannya dengan sejarah bendera Merah Putih. Setahun sekali makam-makam para perintis dakwah yang memperkenalkan Ahlulbait pun hanya dikenang saat peristiwa peringatan, setelah itu, ia hanya menjadi objek wisata, hanya menjadi perayaan masyarakat, hanya menjadi tradisi. Itu yang harus dikembalikan.            

Apa pesan-pesan anda terhadap saudara-saudara kita yang memperingati Asyura dan saudara kita yang tidak memperingatinya?

Bagi saya yang lebih penting adalah mengenang sosok Al Husein sebagai pejuang, dan meneladaninya, menghidupkannya dalam perilaku, sehingga semua orang itu berpeluang untuk menduplikasi Al Husein, tanpa melihat mazhabnya apa.

Setiap orang bisa melakukan perlawanan terhadap Yazid, karena bukan Yazid sosok, tapi Yazid dalam bentuk perilaku, Yazid dalam bentuk tindakan-tindakan, Yazid dalam bentuk anti nilai. Jadi bukan pensosokan nilai, karena nilai itu lebih luas daripada sosoknya. Itu yang paling penting. Yang karena itu ada orang-orang yang rela berbeda, yang karena itu orang-orang tetap memperingatinya meski sampai diintimidasi, diganggu, dan dibilang kafir. Karena Allah sendiri mengutamakan para pejuang.

Ironisnya sekarang, orang-orang yang melakukan kejahatan kekerasan atas nama agama malah dibiarkan. Sebaliknya orang-orang yang tidak mengganggu orang lain, hanya memperingati kesyahidan pejuang, seperti halnya kita mengingat jasa para pahlawan setiap 17 Agustus malah dimusuhi. Makanya 17 Agustus itu yang lebih penting daripada lomba panjat pinangnya adalah mengenang jasa para pahlawan. Tapi kini apa yang tersisa, yang terlihat? Panjat pinangnya, balap karungnya, sehingga penghayatan terhadap nilai perjuangan jadi kurang.

Ada orang-orang tertentu yang rela kehilangan hidupnya demi orang lain supaya dapat hidup, itu kan mulia?  Jadi ini bukan hanya dalam soal Asyura saja masyarakat itu harus dikembalikan pemahamannya pada makna empati, dan penghargaan kepada jasa orang-orang lain. Mereka juga mesti disadarkan, kalau bukan karena jasa para pejuang itu, maka kita tidak akan seperti sekarang, negara ini pun tidak akan terbentuk. Demikian juga umat Islam ini, tanpa pengorbanan Imam Husein, keluarga, dan para sahabat setianya di Karbala, tidak akan mungkin bisa sampai ke tingkat seperti yang ada sekarang. (Lutfi/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top