Saturday , February 29 2020
Breaking News
Bahaya Separuh Kebenaran

Bahaya Separuh Kebenaran

Dunia kini telah dilipat. Di zaman teknologi ketika radio, televisi, dan internet telah menyebar ke berbagai penjuru dunia, jarak tak lagi menjadi penghalang. Jika dulu kita kesulitan mengakses informasi, sekarang kita justru gagap dan gamang  dikepung banjir informasi.

Serbuan tsunami informasi ini memang telah membuka mata kita untuk mengakses banyak sumber dan perspektif, tapi harga yang harus dibayar  tak kalah besarnya, kerendahhatian.

Betapa mudah kita melihat di media sosial, di majlis-majlis taklim, di warung-warung kopi,  hanya  bermodal  satu-dua potong informasi orang begitu mudah  terpapar arogansi dan intoleransi. Begitu mudah  mengvonis, mencerca dan memaki  orang lain yang berbeda pandang.

Di zaman ini kerendahhatian untuk melakukan klarifikasi dan verifikasi menjadi kemewahan. Tak hanya melulu di ranah agama, penyakit suka mutlak-mutlakan mengklaim kebenaran  juga menjangkiti ranah politik, ekonomi, sosial. Logika biner menjadi favorit.  Jika tidak ikut saya, berarti ikut mereka. Jika bukan malaikat, berarti iblis jahat. Dan harus ditumpas!

Mengetahui  sebagian  dari fakta, jika tidak dibarengi dengan kerendahhatian dan kelapangan dada untuk menerima kritik dan perbaikan, jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan tidak tahu apa-apa, atau bahkan dengan kebohongan itu sendiri.  A half-truths  is no better than a whole lie, kata orang Barat.


Dengan bermodal separuh kebenaran, orang bisa terperosok dalam jebakan setan, dalam anggapan bahwa separuh kebenaran yang ia ketahui itu adalah keseluruhan dari kebenaran.  Ia akan mengira  bahwa (separuh) kebenaran yang dipahaminya itu mutlak, absolut. Tak bisa diganggu gugat.


Di situlah setan bermain.  Dari sinilah  arogansi muncul, kesombongan mencengkeram, meremehkan dan bahkan menghina yang berbeda dengannya.  Padahal belum tentu yang berbeda itu salah, bisa jadi justru itu adalah bagian atau sisi lain dari  keping-keping fakta.

Kebenaran, sebagai sebuah fakta, sebagai sebuah realitas memang hanya satu. Ia menyeluruh, dan tak terpisah.  Tapi persepsi tentang realitas itu tentu sekadar dengan kemampuan mencerapnya. Dan sebanyak yang mempersepsinya. Di sinilah muncul persepsi-persepsi kebenaran yang berbeda. Bukan dalam artian salah, tapi parsial. Yang justru jika kita mau sedikit saja rendah hati, mau melihatnya dalam kacamata yang lebih luas, kita akan melihatnya justru sebagai keping-keping puzzle kebenaran yang saling melengkapi dan menyempurnakan alih-alih saling menegasikan.

Sebagai makhluk yang terbatas dan dalam keterbatasannya hanya mampu mencecap bagian-bagian kecil ‘puzzle’ kebenaran hakiki, marilah kita terus menjaga kerendahatian dan kelapangan dada. Sembari terus mencamkan dalam hati bahwa kebenaran yang kita pahami itu parsial saja. Dan bergradasi. Dan kita tak lebih dari para pengembara yang hanya terus berusaha sekuat tenaga mendekati-Nya, Sang Kebenaran Purna. Ya, kebenaran yang mutlak hanya di sisi Allah dan Rasul-Nya.

Sungguh, pencari kebenaran yang rendah hati akan mendapatkan kebenaran. Dan pencari pembenaran yang arogan dan tinggi hati hanya akan mendapatkan pembenaran hawa nafsunya belaka. (Muhammad/Yudhi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top