Friday , December 6 2019
Breaking News
Bedah Buku Islam Nusantara

Bedah Buku Islam Nusantara

“Membangun kasih sayang meskipun berbeda,” terang KH. Ma’ruf Amin, Rais Aam PBNU terkait bedah buku  Islam Nusantara  di Perpustakaan PBNU Jakarta yang dikemas dalam Diskusi Mingguan Forum Tashwirul Afkar ke-2, Sabtu (18/9).

KH. Ma’ruf Amin mengingatkan bahwa Islam Nusantara merupakan perkembangan untuk menarik kepada cara berpikir yang tidak statis dan mengikuti manhaj para pendiri NU.

“Islam Nusantara itu Islam yang moderat tapi tetap dinamis dan bermanhaj. Ada metodologi menjernihkan (tashfiyah) untuk tetap berdiri dalam cara berpikir para pendiri,” urai KH. Ma’ruf Amin.

Sementara bagi Sekjen PBNU,  Ir. H. A. Helmy Faishal Zaini, Islam Nusantara merepresentasikan kebesaran Islam yang mampu melestarikan peninggalan sejarah di tengah makin berkurangnya situs-situs sejarah Islam di Arab Saudi, termasuk rumah Sayyidah Khadijah, istri Nabi Muhammad saw. yang kini diubah menjadi toilet dan sumur Zam Zam yang ditutup.

“Jangankan artefak, situs-situs Islam, situs-situs Hindu-Budha itu juga dipelihara dengan baik,” terang Helmy Faishal.

“Kalau Anda ingin tahu kebesaran Islam Indonesia, lihatlah candi Borobudur sebagai tempat peribadatan umat Budha. Tetapi Indonesia yang mayoritas umat Islam merawatnya dengan baik dan menjadi pusat wisata dunia,” cerita Helmy Faishal mengulang pesan yang pernah diperolehnya dari diskusinya dengan almarhum Gus Dur.

Lain halnya dengan Cendekiawan Muda NU, Akhmad Sahal yang memandang  Islam Nusantara itu sebagai isu lama di kalangan NU karena sudah pernah menjadi laporan utama dalam majalah Tashwirul Afkar tahun 2008. Akhmad Sahal pun meminjam Gus Yahya Staquf dalam buku Islam Nusantara yang menyatakan bahwa Islam Nusantara merupakan keislaman yang merangkul Nusantara tanpa menghilangkan kearifan budaya Nusantara.

“Islam Nusantara merupakan cara ber-Islam ala Walisongo yang kemudian diteruskan oleh ulama Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia yang merangkul Nusantara. Bahwa kebudayaan yang ada di Nusantara dirangkul, bukan diberangus melainkan sebagai sarana berdakwah,” urai Akhmad Sahal,  Pengurus PCINU Amerika yang merupakan kandidat Ph.D di University of Pennsylvania Amerika Serikat itu.

Diskusi Mingguan Forum Tashwirul Afkar ke-3 yang akan datang direncanakan menghadirkan Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj dan cendekiawan muda Syafiq Hasyim. (Ahmad/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top