Tuesday , November 19 2019
Breaking News
Bedjo Untung: Tak Ada Bendera Palu-Arit Berkibar di Salatiga

Bedjo Untung: Tak Ada Bendera Palu-Arit Berkibar di Salatiga

Beberapa waktu lalu tersiar kabar melalui media sosial tentang menyebarnya bendera PKI di daerah Salatiga, Jawa Tengah. Isu itu berhembus berbarengan dengan rencana kegiatan Semiloka oleh Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966 (YPKP 65) dengan korban orang-orang yang distigma sebagai anggota PKI.

Semiloka yang sedianya diselenggarakan pada 7-8 Agustus ini gagal terlaksana karena adanya intimidasi dari sekelompok ormas yang menuduh kegiatan Semiloka ini adalah kegiatan anggota PKI. “Foto bendera PKI itu hanya alat untuk provokasi. Bendera itu tidak ada dan sudah diselidiki,” kata Bedjo Untung selaku Ketua YPKP 65 dalam konferensi pers di kantor KontraS, Jakarta, Kamis (6/8). “Kegiatan ini juga tidak ada hubungannya dengan PKI,” imbuhnya.

Bedjo menambahkan, kalau kegiatan Semiloka ini tetap terlaksana, kelompok yang melakukan intimidasi akan datang berbondong-bondong menyerang lokasi pertemuan. “Bahkan akan membakar gereja, katanya,” papar Bedjo.

Usai konferensi pers, Bedjo bersama korban pelanggaran HAM lainnya menuju depan Istana melakukan aksi Kamisan seperti biasa sebagai bentuk protes dan menuntut hak-hak mereka.

Sumarsih, salah satu anggota Kamisan turut hadir. Ia menyuarakan keadilan bagi anaknya yang menjadi korban pelanggaran HAM dalam tragedi Semanggi 1 (1998).

“Kita mengangkat tema Kamisan kali ini, ‘Jokowi, Si Pitung dan Penyelesaian Pelanggaran HAM’,” kata Sumarsih. Ia mengungkapkan bahwa saat kampanye dulu Jokowi pernah mengatakan “Si Pitung” sebagai lambang perlawanan. “Si Pitung itu kan pendekar Betawi yang membela rakyat dari penindasan kompeni,” tambah Sumarsih. “Kalau sekarang, musuh kita ya pelanggar HAM dan para koruptor. Tapi malah kenyataannya, justru orang-orang di sekeliling Jokowi sendiri koruptor,” imbuhnya.

Ia juga menyesalkan ketidakpedulian Jokowi terhadap nasib mereka yang menjadi korban pelanggaran HAM. “Jokowi sering blusukan kemana-mana, tapi yang ada di depan mata, yang datang ke depan Istana justru tidak pernah disapa,” Sumarsih menyesalkan. (Malik/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top