Thursday , November 21 2019
Breaking News
Benarkah Para Imam Mengetahui yang Gaib?

Benarkah Para Imam Mengetahui yang Gaib?

Masih dalam halaman 77, buku Panduan MUI menyatakan: “Selain itu meyakini bahwa para imam mengetahui yang ghaib. Dalam suatu tulisan dikutip ucapan Ja’far As-Shadiq, “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. Aku mengetahui apa yang ada di surga dan di neraka. Aku mengetahui perkara yang berlalu dan perkara yang akan datang.” (lihat Al-Kafi 1:260)

Tanggapan:

Pertama, kalimat Imam Al-Shadiq yang dikutip di atas agaknya mengalami nasib serupa dengan kutipan sebelumnya, yaitu tim penulis MUI dengan sengaja berusaha menghindari penulisan secara lengkap atas hadis yang telah dinukil berasal dari kitab Al-Kâfî tersebut. Imam Al-Shadiq sesungguhnya telah mengatakan, “Aku mengetahui hal itu dari Alquran.”Untuk lebih jelasnya kita perhatikan teks aslinya:

Dari Imam Al-Shadiq, “Sesungguhnya aku sangat mengetahui hal-hal yang terdapat di langit dan di bumi, dan aku mengetahui hal-hal yang terdapat di surga dan neraka. Juga aku mengetahui hal-hal yang telah terjadi dan yang akan terjadi.” Kemudian imam berhenti sejenak, karena beliau melihat bahwa hal itu dianggap sombong bagi orang yang mendengarnya, seraya berkata, ‘Aku mengetahui hal itu dari Alquran, karena Allah berfirman, di dalamnya (Alquran) penjelas segala sesuatu.’”

Maksudnya, Imam menukil QS. Al-Nahl [16]: 89.

Kedua, meskipun demikian, penahkik kitab tersebut, Syaikh Muhammad Ja’far Syams Al-Din, mengomentari bahwa hadis tersebut terkenal lemah. (1)

Ketiga, pengetahuan atas yang ghaib tidak hanya diketahui oleh para Imam, namun juga oleh Khalifah Kedua, Umar bin Khatthab, sebagaimana diriwayatkan oleh beberapa ulama dalam kitab-kitab mereka: Imam Bukhari dalam kitab Shahîh-nya meriwayatkan hadis ‘Amr bin ‘Aun, ia berkata, Husyaim menyampaikan kepada kami dari Humaid dari Anas, dia berkata, “Umar berkata, ‘Aku memiliki kesesuaian dengan Allah dalam tiga hal,’ (yaitu) ketika aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana seandainya kita jadikan maqam Ibrahim sebagai tempat salat?’ lalu turunlah ayat, Dan jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim tempat salat.

Ayat hijab dimana aku (Umar) berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana seandainya engkau perintahkan istrimu berhijab karena mereka diajak bercakap-cakap oleh orang baik dan orang jahat.’ Lalu turunlah ayat hijab.
Dan ketika para istri Nabi Saw bersepakat untuk cemburu terhadap beliau, lalu aku berkata kepada mereka, Barangkali Tuhannya, jika menceraikan kamu sekalian, maka akan menggantikannya dengan istri-istri yang lebih baik dari pada kalian, (QS. Al-Tahrîm [66]: 5) maka turunlah ayat ini.’” (2)

Imam Muslim dalam kitab Shahîh-nya meriwayatkan hadis dari Nafi’,dari Ibnu Umar, dia berkata, “Umar berkata, ‘Aku memiliki kesesuaian dengan Allah dalam tiga hal, dalam masalah maqam Ibrahim, hijab dan tawanan perang badar.’” (3)

Ibnu Taimiyah dalam Kitab Al-Risâlah Al-Shafdiyah berkata, “Maka Umar adalah orang yang diajak bicara oleh malaikat (muhdatsan) serta mendapat ilham. Dan dia paling utamanya orang yang diajak bicara oleh malaikat dari umat ini, yaitu sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia.’ ‘Tidak ada satu pun dari para wali umat ini yang mengambil sesuatu dari Allah swt tanpa perantara Nabi, yang lebih utama dari Umar…dst.’  (4)

Keempat, mari kita simak ayat di bawah ini,

Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab. (QS. Al-Ra’d [13]: 39)

Tiada sesuatu pun yang gaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).(QS. Al-Naml [27]: 75)

Berkatalah orang-orang kafir, “Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul”. Katakanlah, ‘Cukuplah Allah menjadi saksi antar aku dan kamu, dan antara orang yang mempu- nyai ilmu Al-Kitab.’ (QS. Al-Ra’d [13]: 43)

Dari Abi Said Al-Khudri dia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw tentang firman Allah dan antara orang yang mempunyai ilmu Al-Kitab. Rasulullah Saw bersabda, ‘Saudaraku Ali bin Abi Thalib.’” (5)

Kelima, Syaikh Mufid dalam kitab Al-Amâli, berkata, “Ibnu Mughirah berkata, ‘Saya dan Yahya bin Abdullah bin Al-Hasan sedang berada di sisi Abul Hasan (Imam Ali Al-Ridha), kemudian Yahya berkata kepadanya, ‘Diriku menjadi tebusanmu! Sesungguhnya mereka beranggapan bahwa engkau mengetahui hal gaib.’ Imam menjawab, ‘Maha suci Allah! Letakkan tanganmu di atas kepalaku! Demi Allah tidak ada sehelai rambut di atas kepalaku dan jasadku melainkan berasal dari Rasulullah Saw.’ Kemudian imam berkata, ‘Demi Allah pengetahuan kami hanyalah warisan dari Rasulullah Saw.’” (6)

Adapun tentang pernyataan yang berasal dari Imam Ali dapat kita lihat juga dalam riwayat Al-Baghdadi dari Abu Al-Thufail yang berkata, “Aku menyaksikan Ali berkhutbah dan berkata, ‘Bertanyalah kepadaku. Demi Allah! Kalian tidak menanyakan tentang sesuatu yang akan terjadi sampai hari kiamat melainkan aku dapat menjawabnya untuk kalian.’”
Pada catatan kaki, “Sanadnya sahih.” (7)

Keenam, Al-Alusi mengatakan dalam kitabnya,

Sebagian ulama berpendapat tentang kandungan lahir ayat …bahwa kata “kullu” bermakna banyak, yaitu mencakup urusan agama dan duniawi, yang tidak memungkinkan mengeluarkannya dari Alquran. Padahal telah dijelaskan di dalamnya segala sesuatu de-ngan penjelasan yang gamblang, karena perbedaan tingkat pemahaman manusia, terkadang jelas untuk suatu kaum dan tidak untuk yang lainnya. Bahkan terkadang jelas bagi seseorang, namun tidak jelas bagi yang lain, baik penjelasannya jelas atau tidak, ini tidak lain dikarenakan perbedaan kekuatan akal.” (8)

Ketujuh, di dalam kitab yang sama Al-Alusi mengutip,

Jalal Al-Din Al-Suyuthi menukil dari Al-Mursi, bahwa dia berkata, “Alquran mengumpulkan ilmu orang terdahulu dan terkemudian, yang tidak dapat menjangkau ilmu hakiki kecuali Allah, kemudian Rasulullah…kemudian diwariskan kepada tokoh sahabat dan orang alim di antara mereka seperti empat khalifah, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud… Dikatakan bahwa zaman tidak pernah kosong dari seorang arif dia adalah pewaris Muhammad dan juga disebut Al-Ghauts, Qutb Al-Aqthab, manifestasi yang sempurna, dan manifestasi nama yang agung dan lain-lain…” (9)

Dan inilah pernyataan Ibnu Mas’ud;

Ibnu Mas’ud berkata, “Telah jelas bagi kami dalam Alquran terkandung seluruh ilmu pengetahuan tentang segala sesuatu.” (10)

Sehingga menjadi jelas bahwa mengetahui ilmu yang ada di langit dan bumi yang diperolehnya dari ilmu yang terdapat di dalam Alquran bagi para Imam Ahlul Bait bukanlah sesuatu yang mengada-ada dan penuh kebohongan. Namun tak lain adalah karunia yang Allah berikan kepada mereka semua para Imam suci Ahlulbait yang kedudukan mereka telah disandingkan dengan kedudukan Alquran. Sebagaimana dalam yang disebut dalam hadis di bawah ini;
Al-Albani dalam Shahîh Jâmi’ Al-Shaghîr, menulis:
Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang kepadanya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku, salah satunya lebih besar dari yang lain, yaitu Kitabullah, tali yang terbentang dari langit ke bumi dan ‘Itrahku Ahlulbaitku, keduanya tidak akan pernah berpisah sampai menjumpaiku di telaga, bagaimana kalian memperlakukan keduanya sepeninggalku.”

Al-Albani berkata, “Sahih.” (11)

Kedelapan, perhatikan QS. Al-A’râf [7]: 48-49,

Dan orang-orang yang di atas A’raf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan, “Harta yang kalian kumpulkan dan apa yang selalu kalian sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepada kalian.” (QS. Al-A’râf [7]: 48)

Jika kita perhatikan bahwa orang-orang yang di atas A’raf itu bagaimana mereka dapat mengetahui perbuatan orang-orang kafir yang selalu mengumpulkan harta di dunia? Yang lebih aneh lagi, bagaimana mereka dapat mengetahui pula isi hati orang kafir yang dipenuhi dengan kesombongan? Bukankah sifat ini hanya Allah saja yang memilikinya atau Allah telah memberikan karunianya kepada penduduk A’raf untuk mengetahui semua itu dengan izin-Nya?

Kemudian ayat selanjutnya:

(orang-orang di atas A’raf bertanya kepada penghuni neraka), ”Itukah orang-orang yang kalian telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?” (kepada orang mukmin itu dikatakan), “Masuklah ke dalam syurga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kalian bersedih hati.” (QS. Al-A’râf [7]: 49)

Siapakah yang memerintahkan orang-orang mukmin untuk masuk ke dalam surga? Bukankah perbuatan tersebut merupakan hak mutlak kepunyaan Allah? Atau Allah telah memberi karunia kepada mereka untuk mempersilahkan orang mukmin masuk ke dalam surga dengan izin-Nya.

Imam Fakhr Al-Din Al-Razi (544 – 604 H) dalam menafsirkan ayat ini dalam kitabnya Tafsîr Al-Fakhr Al-Râzîatau yang dikenal de-ngan Al-Tafsîr Al-Kabîr dan Mafâtîh Al-Ghaib mengatakan,
“Sesungguhnya mereka (penghuni A’raf) adalah orang-orang yang mengetahui orang baik lagi beriman dan juga mengetahui orang jahat, kafir juga perusak. Mereka itulah saksi Allah untuk orang-orang beriman serta orang yang taat, juga kepada orang kafir lagi bermaksiat. Maka Allah menempatkan mereka di atas A’raf, sedangkan A’raf adalah tempat tertinggi agar mereka (penghuni A’raf) dapat menyaksikan seluruh manusia beserta ganjaran yang pantas untuk mereka. Penduduk A’raf mengetahui bahwa manusia yang mendapatkan ganjaran kebaikan akan sampai kepada derajat tertinggi (surga), sedangkan yang mendapat siksaan akan sampai kepada derajat terendah (neraka).”  (12)

Dari pernyataan Imam Fakhr Al-Din Al-Razi di atas, dapat disimpulkan bahwa ada orang-orang yang diberi karunia oleh Allah, sehingga bisa melihat amal perbuatan manusia. Semua itu kembali kepada izin Allah yang diberikan kepada sosok-sosok mulia tersebut.

(Dikutip dari Buku “Syiah Menurut Syiah” Tim Penulis Ahlulbait Indonesia)

 

Catatan kaki

  1. Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini, Ushûl Al-Kâfî, juz 1, h. 316, cet. 2, Dar Al-Ta’aruf, Beirut, Lebanon, 2009 M (1430 H).
  2. Imam Al-Bukhari, op.cit, h. 112, hadis 402, kitab Al-Shalâh, bab Mâ Jâ’a fi Al-Qiblah.
  3. Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj, op.cit., h. 1194, hadis 6100, kitab Fadhâil Al-Shahâbah ra, bab Fadhâil Umar bin Al-Khatthâb ra.
  4. Ibnu Taimiyah, Al-Risâlah Al-Shafadiyyah, h. 162, cet. 1, Dar Al-Kutub Al-’Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, 2000 M, 1420 H.
  5. Riwayat yang sama juga terdapat dalam kitab:
    Sulaiman bin Ibrahim Al-Qunduzi Al-Hanafi, Yanâbî’ Al-Mawaddah, juz 1, h. 121, cet. 2, Muassasah Al-A’lami, Beirut, Lebanon, 2009 M, 1430 H.
    Ubaidullah bin Abdullah Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, Syawâhid Al-Tanzîl, juz 1, h. 307, cet, 2, Muassasah Al-A’lami, Beirut, Lebanon, 2010 M, 1431 H.
  6. Syaikh Al-Mufid, Al-Amâli, h. 23, majlis 3, hadis 5, Dar Al-Tayyar Al-Jadid, Beirut, Lebanon, TT. Atau Syaikh Al-Mufid, Amâli Al-Mufîd, h. 27, majlis 3, hadis 5, Syirkah Al-A’lami, Beirut, Lebanon, cet. 1, 2010 M (1431 H).
  7. Al-Khatib Al-Baghdadi, Kitâb Al-Faqîh wa Al-Mutafaqqih, j. 2, h. 351-2, hadis 1081, cet. 1, Dar Ibn Al-Jauzi, Jeddah, Saudi Arabia, 1996 M, 1417 H.
  8. Mahmud Syukri Al-Alusi, Rûh Al-Ma’ânî fî Tafsîr Al-Qur’ân Al-’Azhîm wa Al-Sab’ Al-Matsânî, juz 14, h. 216, tafsir QS. Al-Nahl [16]: 89, cet. Dar Ihya Al-Turats Al-Arabi, Beirut, Lebanon, TT.
  9. Ibid.
  10. Ismail Ibnu Katsir, Tafsîr Al-Qur’ân Al-’Azhîm, juz 8, h. 342, tafsir QS. Al-Nahl [16]: 89, cet. 1, Muassasah Qurtubah, Kairo, Mesir, 2000 M, 1421 H.
  11. Muhammad Nashir Al-Din Al-Albani, Shahîh Al-Jâmi’ Al-Shaghîr wa Ziyâdatuh, j. 1, h. 482, hadis 2458, cet. 3, Al-Maktabah Al-Islami, 1988 M, 1408 H.
  12. Muhammad Al-Razi, Tafsîr Al-Fakhr Al-Râzî , juz 14, h. 93, cet. 1, Dar Al-Fikr, Beirut, Lebanon, 1981 M, 1401 H.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top