Saturday , August 24 2019
Breaking News
Bilpin: Bilik Pintar Di Antara Gunungan Sampah

Bilpin: Bilik Pintar Di Antara Gunungan Sampah


Bilik PintarMelewati jalan beraspal setengah rusak yang membelah kompleks pemakaman Belanda di Menteng Atas, Jakarta, dengan tonggak-tonggak batu nisan di kanan kirinya, sampailah wartawan ABI Press ke sisi utara makam. Di situlah terdapat kampung pemulung yang dari kejauhan sudah tampak gunungan sampah dan barang rongsokannya.


Limapuluh meter dari dinding pembatas makam dengan kampung Menteng Atas, kami pun belok kanan melewati tumpukan barang rongsokan yang dikarungi dan diikat rapi di tanah lapang. Tanah yang sepertinya adalah bekas pekuburan Cina terbengkalai dan kini tertimbun barang rongsokan. Menyisakan beberapa batu nisan yang sudah tak utuh lagi di sana sini.

Semakin masuk ke area pemukiman pemulung, kian terlihat jelas tumpukan barang-barang bekas yang mereka kumpulkan di sebuah tanah lapang lain yang luasnya hampir selapangan bola. Tempat itu dipagari tonggak-tonggak bambu berbalut sobekan karung-karung bekas. Sementara tiga pohon randu besar dan rindang, memayungi beberapa rumah semi permanen yang dihuni para pemulung di sekeliling lapangan itu.

Bilik Pintar

Sepintas, perkampungan pemulung itu tak ubahnya area serupa di tempat lain. Namun, ada sesuatu yang unik di situ. Yaitu sebuah bangunan kecil 3×4 meter, beratap seng, bercat merah dan putih. Di samping bangunan dengan cat putih yang tak melapisi seluruh dindingnya itu tampak bendera Merah-Putih terpancang di sebuah tiang bambu setinggi empat meter. 

Nah, bangunan itulah yang oleh warga kampung pemulung di tanah Pemakaman Pemprov DKI ini dikenal dengan nama Bilpin, Bilik Pintar. Sebuah lembaga pendidikan informal yang digagas Teguh Suprobo, seorang aktivis Rumah Kedaulatan Rakyat yang ikut bermukim di sana bersama istrinya, Asmonah, dan tiga anaknya yang masih kecil.

Sebelum Bilpin, Teguh Suprobo yang akrab dipanggil Bowo ini menuturkan pernah membuat lembaga serupa yang diberinya nama Obama Edu Care (OEC) bagi anak-anak pemulung. Namun ternyata OEC tidak berjalan sesuai harapan. Akhirnya, pada 23 November 2013, ia dan istrinya Asmonah, yang akrab dipanggil Wati itu mulai membangun Bilik Pintar sebagai gantinya dan terbukti bisa tetap eksis hingga kini.

Berkat perjuangan keluarga aktivis itu, anak-anak pemulung yang sebagian besar tidak mengenyam pendidikan formal akibat putus sekolah, bisa sedikit mengecap manisnya dunia pendidikan.

“Kita lihat kok banyak sekali anak-anak para pemulung itu yang gak sekolah, selain mereka yang putus sekolah. Tapi kok orang tua mereka seperti gak peduli dan kurang ngerespon. Padahal kita pingin jangan sampai anak-anak yang ibunya pemulung, bapaknya pemulung, nantinya bakal jadi pemulung juga,” ujar Wati kepada wartawan ABI Press terkait alasannya mendirikan Bilpin bersama sang suami. 

Hingga saat ini Bilik Pintar asuhannya menampung sekitar 49 orang siswa; 20 siswa TK, 22 siswa SD, dan 7 siswa SMP.

Karena keterbatasan relawan pengajar, yang jumlahnya hanya ada lima orang, mata pelajaran yang bisa diajarkan pun sementara hanya tiga saja; Matematika, IPA, dan Bahasa Inggris. Sedangkan proses belajar hanya dilakukan tiap hari Sabtu, dari pukul tiga hingga pukul lima sore. Sementara untuk menyiasati tempat belajar yang sempit, diterapkan sistem belajar gabungan; satu kelas dengan dua proses pembelajaran sekaligus. 

Melihat anak-anak mereka bisa ‘sekolah’ di tengah mahalnya biaya pendidikan yang tak terjangkau, membuat warga pemulung merasa bersyukur. Siti, salah satunya. Ibu dengan tiga orang anak, yang dua anaknya belajar di Bilpin. Begitu juga Jainudin, yang putrinya turut menikmati manfaat lembaga informal itu. 

“Ya, saya seneng, lah. Saya kan orangtua. Pingin anak bisa maju,” ujar Jainudin. “Cuma kalau bisa sih ada guru agamanya, ya? Di sini kan gak ada yang ngajar ngaji,” keluhnya. 

Seperti kata Jainudin, Wati sendiri mengakui Bilpin memang kekurangan guru agama yang mau menjadi relawan mengajari anak-anak pemulung mengaji. Bahkan lebih dari itu menurut Bowo, selain guru ngaji, yang mereka butuhkan sekarang ini adalah bantuan komputer dan tersedianya koneksi internet agar anak-anak pemulung juga melek teknologi.

Dalam Bayang-Bayang Penggusuran

Bermukim di tanah pemakaman milik Pemrov DKI Jakarta, disadari warga pemulung memang penuh risiko, terutama soal penggusuran. Bowo dan Wati pun bukan tak menyadari soal itu. Apalagi pada tahun 2010 mereka sudah pernah mengalaminya. 

Meski begitu, Bowo berjanji akan sebisa mungkin mempertahankan keberadaan Bilpin, yang selama ini telah terbukti bisa mencerdaskan anak-anak pemulung. “Bilpin tidak akan mati, meski oleh buldoser sekali pun,” tegasnya.

Wati pun sudah memaklumkan kemungkinan terburuk penggusuran Bilpin kepada warga pemulung di tempat itu. Karena itulah dalam usahanya melindungi Bilpin agar tetap bisa mendidik anak-anak mereka, dia sudah berupaya mengganti KTP-nya ke alamat RT 16, RW 9 Kampung Menteng Rawapanjang agar Bilpin yang dibinanya mendapat perlindungan dari aparat kelurahan setempat. Dan kalau pun nantinya harus kena gusur juga, bisa lebih mudah pengurusan kepindahannya.

Mispan, Ketua RT 16 Kampung Menteng Rawapanjang yang berdampingan dengan kompleks Makam Belanda, saat kami temui membenarkan bahwa Wati memang sedang mengurusi soal perpindahan KTP-nya. Namun hingga saat ini proses itu belum selesai. “Ya, masih dalam proses,” terang Mispan.

Di tengah tumpukan sampah barang bekas dan besi rongsokan, kisah anak-anak pemulung yang tertatih dalam usahanya mengenyam pendidikan ini terus bergulir. 

Diliputi keterbatasan sarana-prasarana dan ancaman penggusuran, anak-anak pemulung ini tetap bersemangat menuntut ilmu. 

Tentu saja kita semua, terutama pemerintah, tak layak acuh dan mengabaikan mereka. Karena bagaimana pun merekalah penentu masa depan bangsa ini. (Muhammad/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top