Tuesday , July 16 2019
Breaking News
Biografi Singkat Syaikh Abbas al-Qummi

Biografi Singkat Syaikh Abbas al-Qummi

Abbas bin Muhammad Ridha al-Qummi terkenal dengan Syaikh Abbas al-Qummi adalah seorang ulama terkemuka Syiah abad 14 H. Ia adalah seorang muhaddits (ahli hadis), sejarawan dan khatib yang ulung. Kitab-kitab seperti Mafatih al-Jinan, Safinah al-Bihar dan Muntaha al-Amal adalah karangan-karangan utamanya. Muhaddits Qummi meninggal di Najaf pada tahun 1359 H/1940 dan dimakamkan di Haram Ali bin Abi Thalib as.

Syaikh Abbas lahir di Qom pada tahun 1294 H/1877. [1] Ayahnya adalah Muhammad Ridha Qummi, seorang agamawan dan marja’ bagi masyarakat dalam masalah-masalah syar’i. Ibunya bernama Banu Zainab juga merupakan seorang perempuan yang teguh menjalankan ketentuan agama dan bertakwa. [2] Muhaddits Qummi terkait dengan ibundanya berkata: “Kesuksesan yang kuraih berkat air wudhu ibuku, karena ibuku selalu berwudhu ketika memberikan ASI kepadaku.” [3]

Syaikh Abbas al-Qummi pada masa kanak-kanak dan remaja menghabiskan kehidupannya di kota Qom. Sebagian guru-guru beliau di Qom adalah:

  • Mirza Muhamad Arbab al-Qummi
  • Syaikh Abul Qasim al-Qummi
  • Sayid Ahmad Thabathabai al-Qummi, ayah mertua
  • Syaikh Muhammad Husain al-Qummi, Ustad Khath Nasta’liq [4]

Untuk menyempurnakan pengetahuan-pengetahuannya tentang ilmu dan pengetahuan, ia melakukan perjalanan ke berbagai daerah yang dihuni oleh umat Islam. Syaikh Abbas al-Qummi pada tahun 1316 H/1898 ketika tengah berusia 22 tahun melakukan safar ke kota Najaf.  Pada tahun 1322 H/1905, setelah meninggalnya Muhaddits Nuri, Muhaddits Qummi meninggalkan Najaf dan kembali ke Iran. Selama tinggal di Iran, ia beberapa kali pergi berziarah ke Atabat Aliyat dan pergi berziarah haji lagi. [6] Syaikh Abbas Qummi pada hari Jumat, 1 Rabiul Tsani 1332 H pergi ke kota Masyhad dengan maksud tinggal di sana. Sebab tinggalnya ia di Masyhad adalah karena permintaan Haj Agha Husain Qummi. Ia tinggal di sana hingga tahun 1354 H. [7] Dalam mukadimah kitab Fawaid al-Radhawiyah, ia menulis: Karena masyarakat terkena wabah yang menyebar dan mengenainya membutuhkan penjelasan yang panjang, maka aku meminta perlindungan kepada Baginda Abul Hasan Ali bin Musa al-Ridha as. [8]

Selama tinggal di Masyhad yaitu selama 22 tahun, ia menulis berbagai macam kitab dan mengadakan majelis-majelis ilmu serta menyampaikan ceramah-ceramah yang menjadi obyek pembicaraan baik bagi kalangan orang pintar maupun kalangan masyarakat umum. [9] Ia juga menentang orang-orang Amerika dan memberi penerangan-penerangan kepada penduduk hingga ia diancam hukum mati oleh Komite Hukuman Partai Demokrat Masyhad. [10] Setelah peristiwa pembunuhan massal masyarakat di Masjid Goharsyad dan pengungsian Haj Agha Husain pada tahun 1354 H/1935, Syaikh Abbas Qummi kembali ke Najaf dan tinggal di sana hingga akhir umurnya. [11]

Kepribadian dan Akhlak

Agha Buzurg Tehrani adalah kawan dan orang yang sangat menaruh penghormatan kepada Syaikh Abbas. Katanya: Ia adalah contoh nyata manusia sempurna, seorang alim dan memiliki keutamaan dan sifat-sifat mulia seperti berbudi pekerti luhur, tawadhu dan alimnya. Kepribadiannya sehat dan jiwanya mulia, menjauhkan diri dari kesombongan dan hidup secara zuhud. Aku selama hidup dengannya, menyukainya dan jiwaku dengan jiwanya telah menyatu. [12] Menurut laporan Dawani, Syaikh Abbas Qummi hidup dalam garis kemiskinan dan tidak memiliki fasilitas, namun ia tetap melanjutkan karyanya. Dawani juga menukilkan dari Agha Buzurg bahwa tidak ada yang bisa memberhentikan ia dari penelitian dan penulisan kitab. Ia sendiri dalam suratnya kepada Ayatullah Faidh Qummi menyebutkan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya. [13] Terdapat banyak cerita mengenai kepribadian dan akhlaknya. Beliau memiliki banyak sekali murid yang mumpuni

Syaikh abbas al-Qummi memiliki karya yang banyak, yang terpenting dan paling terkenal diantaranya adalah kitab Mafatih al-Jinan yang merupakan kumpulan doa-doa, ziarah-ziarah dan munajat-munajat yang berasal dari Nabi Muhammad Saw dan para Imam As yang sangat mendapatkan sambutan yang luar biasa dari penganut Syiah.

Muhaddits Qummi meninggal pada malam Rabu, 22 Dzulhijjah tahun 1359 H/21 Januari 1941 pada usia 65 tahun di Najaf. Sayid Abul Hasan Isfahani menyalati ia di Haram Imam Ali as. Jenazahnya dikuburkan disamping gurunya, Muhaddits Nuri. [wikishia]

Catatan Kaki

1. Qummi, Fawāid al-Radhawiyah, hlm. 221.
2. Ahmadiyan, Khātam al-Muhadditsin Haj Syaikh Abbas Qummi.
3. Dawani, Mafākhir Islām, jld.11, hlm. 40.
4. Haj Syaikh Abbas Qummi Hadits Nijabat.
5. Khātam Muhadditsin Haj Syaikh Abbas Qummi, Mina Ahmadiyan.
6. Khātam al-Muhadditsin Haj Syaikh Abbas Qummi, Mina Ahmadiyan.
7. Haji Syaikh Abbas Qummi, Hadits Nijabat.
8. Qummi, Fawāid al-Radhawiyah, hlm. 2.
9. Ahmadiyan, Khātam al-Muhadditsin Haj Syaikh Abbas Qummi.
1o. Muhsin Shadiqi, Muhaddits Qummi wa Komite Mujāzāt.
11. Mina Ahmadiyan, Khātam al-Muhadditsin Haj Syaikh Abbas Qummi.
12. Tehrani, Nabqa al-Basyar, jld.3, hlm. 999.
13. Dawani, Mafākhir Islām, jld.11, bagian pertama, hlm. 85.
14. Qummi, Nafas al-Mahmum, hlm. 3.
15. Dawani, Mafākhir Islām, jld.11, hlm. 319.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top