Tuesday , June 18 2019
Breaking News
Haidar Bagir: Muslim Moderat Harus ‘Militan’

Haidar Bagir: Muslim Moderat Harus ‘Militan’

Indonesia dibangun berdasarkan asas kebhinekaan dan menghargai keragaman. Tak heran, makin menjamurnya fenomena mengkafirkan kelompok selainnya (takfiri) di Indonesia membuat banyak kalangan moderat merasa khawatir.

Menyikapi hal ini sekelompok cendikiawan moderat menyelenggarakan diskusi ilmiah mengenai “Takfirisme” yang diadakan di Aula Futsal Camp, Ciputat, Tangerang. Diskusi ini menghadirkan pembicara Haidar Bagir, seorang cendikiawan Islam yang juga dikenal sebagai pendiri penerbit Mizan.

Dalam diskusi yang dihadiri berbagai kalangan ini, Haida Bagir menegaskan bahaya laten takfirisme ini tak boleh diremehkan. Haidar menyebutkan bahwa bahkan di New Zealand, negara yang tercatat sebagai negara terdamai di dunia, dan dalam Islamicity Index menduduki peringkat pertama di dunia, virus takfiri ini pun mengancam. Tercatat satu orang warga New Zealand yang bergabung dengan ISIS mati di Syria dan sudah ada satu dua orang yang dicabut kewarganegaraannya karena mendukung gerakan takfirisme dengan bergabung dengan pemberontak Suriah.

Denny Januar Ali, pendiri Lembaga Survei Indonesia menyebutkan bahwa dari data yang dimilikinya, di Indonesia, orang-orang yang terpengaruh faham mengkafirkan selainnya ini mencapai jumlah 13%. Menurut Haidar Bagir, angka ini sangat mengkhawatirkan, mengingat  untuk membuat kekacauan, tak diperlukan orang sebanyak itu. Haidar memberikan contoh bagaimana di Pakistan tercatat hampir setiap hari ada 40 orang Syiah yang mati dibunuh oleh kelompok takfiri. Dan pelakunya tidaklah banyak.

Sementara Ihsan Ali Fauzi, Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina yang juga penggagas acara ini dalam perbincangan dengan ABI Press menyebutkan bahwa fenomena takfirisme ini memang berbahaya, “O, bahaya sekali. Takfiri itu mengkafirkan orang lain. Kalau sudah dikafirkan, hak-hak asasinya tidak diakui. Dan itu dijadikan pembenaran untuk melakukan kekerasan,” ujarnya.

Saat seorang peserta menanyakan bagaimana menghadapi takfirisme yang kian mewabah ini, Haidar Bagir menyebutkan bahwa sebenarnya, mayoritas Muslim Indonesia itu moderat tidak menyetujui ekstrimisme seperti paham takfirisme. Tetapi masalahnya, banyak yang diam. Sementara yang takfiri walau sedikit, tetapi militansinya dalam menyebarluaskan faham takfiri lebih kuat. Inilah yang disayangkan oleh Haidar Bagir.

“Untuk mencegah takfirisme ini, Muslim moderat yang jumlahnya sebenarnya mayoritas, harus lebih ‘militan’ lagi dalam menyuarakan sikap moderatnya,” pesan Haidar Bagir. (Muhammad/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top