Saturday , October 19 2019
Breaking News
Islam Indonesia Di Tengah Budaya Materialisme dan Fundamentalisme

Islam Indonesia Di Tengah Budaya Materialisme dan Fundamentalisme

Berbicara tentang  budaya Indonesia ibarat diskusi yang takkan ada habisnya. Karena begitu banyaknya corak budaya, tersebar di seluruh pelosok negeri tercinta ini. 

Sama halnya pembahasan terkait “Islam Indonesia dan Kebudayaan” yang tentunya memerlukan cukup waktu. Terbukti, durasi empat jam dengan lima pembicara dalam The International Conference of Thoughts On Human Sciences In Islam (IC-ThuSI), Kamis siang (19/06) di Universitas Paramadina, Jakarta, tetap saja terasa kurang.

Prof. Dr. Abdul Hadi WM, dosen Universitas Paramadina, selaku salah satu pembicara menjelaskan bahwa Islam Indonesia yang dicirikan sebagai Islam mazhab Syafi’i memiliki kecenderungan sufistik yang kuat.

Di sisi lain, dalam penyebarannya, proses kulturisasi Islam pun telah terjadi di Indonesia. Salah satunya adalah dengan terjalinnya ikatan perkawinan antara para pedagang Islam dari Timur Tengah (yang pada jaman dulu banyak berlabuh di dermaga-dermaga Indonesia), dengan para wanita asli pribumi. Sehingga dari ikatan perkawinan itulah terbentuk komunitas masyarakat Islam yang kemudian mendirikan tempat pendidikan dan tempat-tempat peribadatan Islam setelah jumlah komunitas mereka  semakin banyak.

Sementara terkait tantangan Islam Indonesia di tengah budaya modern saat ini dan ke depan, dosen Universitas Paramadina Pipip A. Rifa’i Ahmad, Ph.D menjelaskan tentang dua corak budaya, yaitu materialisme dan fundamentalisme,  sebagai tantangan serius bagi eksistensi dan kelangsungan Islam di Indonesia.

Menurut Rifa’i, kuatnya corak budaya fundamentalisme di Indonesia tak lepas dari pesatnya arus globalisasi informasi yang datang dari luar, (khususnya negara-negara Timur Tengah, dan terutama Arab Saudi dengan mazhab Wahabinya), yang menimbulkan keinginan masyarakat untuk ikut-ikutan bersikap eksklusif, cenderung menonjolkan kebenaran kelompok mereka sendiri dan menyalahkan kelompok lain. Akibatnya, eskalasi intoleransi kian hari kian meningkat di Indonesia. 

Sementara budaya materialistik pun terus meningkat seiring pembangunan mal yang kian menjamur di Indonesia. Hal itu secara langsung maupun tidak, turut merangsang kalangan menengah ke atas di  Indonesia untuk makin berperilaku hedonis dan konsumtif, menciptakan  jurang kesenjangan ekonomi yang semakin lebar di tengah masyarakat.

Kondisi memprihatinkan perihal penyebaran wabah budaya materialisme dan fundamentalisme di tengah kaum Muslimin Indonesia itu bukan hanya sekadar asumsi tanpa data. Sepanjang tahun 2013, Wahid Institute mencatat setidaknya telah terjadi aksi Kekerasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) sejumlah 245 kasus.  Sementara data Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menunjukkan pertumbuhan mal per tahun di Indonesia hingga saat ini telah mencapai 250 mal dengan 76 mal berada di Jakarta. 

Nah, dari data-data tersebut, dapatkah dikatakan bahwa Islam Indonesia dan kebudayaan kita telah benar-benar terancam oleh budaya materialistik dan fundamentalisme?  (Lutfi/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top