Friday , October 18 2019
Breaking News
Paramadina dan Problematika Pemikiran Cak Nur

Paramadina dan Problematika Pemikiran Cak Nur

Dalam sebuah diskusi di bilangan Jakarta Selatan Kamis (17/7) lalu, Cendikiawan Muslim Prof. Drs. M. Dawam Rahardjo yang juga salah satu pendiri universitas Paramadina menyesalkan apa yang terjadi terhadap perkembangan Paramadina saat ini. Paramadina yang awalnya didirikan untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran keislaman seperti pemikiran Nurcholis Madjid yang juga merupakan pendiri universitas itu ia nilai telah keluar dari koridor dan cita-cita pendirinya.“Saat ini Paramadina kehilangan jati dirinya,” tutur Dawam. Ia juga menekankan bahwa Paramadina harus melakukan pengembangan pemikiran keislaman menuju Islam cultural yaitu Islam kebangsaan, berdasarkan nilai-nilai budaya tradisional. “Karena semua peradaban di dunia didasarkan pada kebudayaan,” tambahnya.

Islam kultural yang dimaksud Dawam adalah seperti pemikiran yang dibawa Nurcholis Madjid saat itu. Nurcholis Madjid yang biasa disapa Cak Nur ini adalah seorang aktivis, serta tokoh pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Dalam pemikirannya, ia dikenal dengan konsep pluralisme yang mengakomodasi keberagaman dan kebhinekaan keyakinan di Indonesia. Banyak dari gagasan dan pemikirannya telah dibukukan dan menginspirasi pemikiran banyak orang yang membacanya.

Salah satunya adalah Ulil Abshar Abdalla. Ia adalah salah satu pembicara dalam diskusi itu yang juga terinspirasi oleh pemikiran-pemikiran Cak Nur. Kepada peserta diskusi, ia menceritakan pengalamannya saat pertama bisa membaca buku karangan Cak Nur dengan membelinya dari jerih-payahnya sendiri. “Waktu saya di pesantren dulu, pada tahun 1986, saya juga memiliki kegiatan lain selain belajar, yaitu mengajar di sebuah sekolah dengan gaji 12.500 per-bulan. Karena orang tua saya tidak mampu membelikan buku, saya membelinya sendiri dengan sebagian gaji yang saya terima,” ungkapnya.

Selain itu, Ulil merasa terpantik pemikirannya seketika, usai membaca buku itu.

“Ia adalah orang yang mewakili kegelisahan dan keresahan orang banyak, dan permasalahan umat. Ia tak pernah istirahat, seluruh persoalan umat ada dalam dirinya,” ungkap Ulil menggambarkan sosok Cak Nur.

Baik Ulil maupun Dawam memiliki pandangan yang sama dalam menyikapi sosok Cak Nur yang pemikiran-pemikirannya memberikan inspirasi bagi banyak orang. Mereka juga menilai bahwa pemikiran-pemikiran Cak Nur mestinya diwadahi oleh Paramadina dalam mengembangkannya. Sayang sekali Paramadina kini telah kehilangan ‘ruh’ dari sosok dan pemikiran Cak Nur.

Sebab itu, mereka bertekad menghidupkan kembali gagasan-gagasan Cak Nur yang juga pernah menjadi Rektor Paramadina ini agar pemikirannya tidak punah. (Malik/Yudhi)

One comment

  1. abdul syakur hasan

    pemikiran cak nur tentang islam kultural sgt penting dikembangkan. terlebih saat ini benih pemikiran sektarian yg dipelopori oleh salafi wahabi takfiri fasis semakin gencar di indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top