Monday , December 16 2019
Breaking News
Potret Buram Hari Anak Nasional: Anak Muslim Syiah Sampang Tetap di Pengungsian

Potret Buram Hari Anak Nasional: Anak Muslim Syiah Sampang Tetap di Pengungsian

Jamaludin (11 tahun), anak pengungsi Muslim Syiah Sampang, Madura yang terusir dari kampung halamannya setelah rumah-rumah mereka dibakar massa intoleran. Kini, ia bersama ratusan anak Sampang lainnya berstatus pengungsi di Rusunawa Puspo Agro Jemundo, Sidoarjo Jawa Timur. Namun, keadaan itu tak menyurutkan semangatnya untuk tetap belajar.

Berkat bantuan banyak pihak, kini mereka dapat bersekolah di berbagai daerah. Termasuk juga Jamaludin. Anak pengungsi yang biasa dipanggil Jamal ini sekarang telah memasuki kelas 4 SD di sebuah sekolah di Jepara Jawa Tengah. “Ada yang di Pekalongan, ada juga yang di Jawa Timur,” ungkap Jamal bercerita tentang tempat sekolah sesama anak pengungsi lainnya.

Setelah terusir dari kampung halamannya, kini Jamal hanya bisa pulang menemui keluarganya di pengungsian Rusunawa. Jauhnya tempat ia belajar dengan Rusunawa di Sidoarjo, menjadikan ia tak bisa sering pulang untuk bertemu orang tua dan keluarganya. “Setahun cuma pulang sekali, pas bulan puasa,” tutur Jamal saat ditemui ABI Press di Rusunawa.

Senin (21/7) sore itu Jamal dan beberapa anak sebaya lainnya yang memang sedang libur sekolah sedang berkumpul bersama keluarga mereka di Rusunawa.
Berbeda dengan Jamal, Ahmad Sofi, yang belum lama ini telah menamatkan jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP)-nya mengaku tak mampu lagi melanjutkan sekolah. “Pengen sekolah tapi nggak ada biaya,” ungkap Sofi. Kakak dari lima orang adik ini kini mengisi kesibukannya dengan berjualan sate tak jauh dari Rusunawa itu. Melihat nasib sebagian besar adiknya yang masih sekolah menjadikan ia lebih memilih bekerja untuk meringankan beban keluarga.

Sementara itu, Ustad Ahmad Hidayat selaku Sekjen Ahlulbait Indonesia (ABI) yang berkunjung ke Rusunawa itu sempat memberikan motivasi kepada anak-anak pengungsi agar mereka menggunakan waktunya untuk belajar dan menuntut ilmu sebaik mungkin. “Karena itu sebagai cara bersyukur paling baik kepada Allah SWT,” ungkapnya.

Selain itu, di malam menjelang hari Anak Nasional ini, Ahmad menekankan bahwa mereka semua adalah penerus dan penolong orang tua mereka yang kini telah dua tahun menjadi pengungsi, sehingga mereka dituntut untuk belajar sungguh-sungguh agar dapat mengubah nasib mereka dan orang tua mereka kelak.

“Dandani diri kalian dengan pakaian terbaik, yaitu pakaian takwa. Jaga agama kalian dengan akhlak dan perilaku yang baik, karena akhlak dan perilaku yang baik adalah buah dari keimanan dan ketakwaan itu,” pesan Ahmad kepada anak-anak pengungsi. (Malik/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top