Thursday , November 14 2019
Breaking News
Sekolah Anti Kekerasan KOMPAK

Sekolah Anti Kekerasan KOMPAK

Demi meningkatkan peran pemuda dan mahasiswa dalam menghadang aksi kekerasan yang terus meningkat, sekelompok pemuda yang tergabung dalam Komite Mahasiswa dan Pemuda Anti Kekerasan (KOMPAK) Jakarta, menyelenggarakan pelatihan yang kemudian mereka namai “Sekolah Anti Kekerasan.” Kegiatan ini mereka laksanakan minimal sekali dalam setahun atau setiap periode pergantian kepemimpinan organisasi itu.

Tahun ini, Sekolah Anti Kekerasan diadakan di sebuah kampung bernama Rumpin, di pinggiran Kota Bogor Jawa Barat. Suci Fitriah Tanjung adalah penanggungjawab acara itu. Kepada tim ABI Press ia menuturkan bahwa dipilihnya Rumpin sebagai lokasi acara karena tempat itu dianggap masih rawan konflik dan kekerasan. “Misalnya saja konflik antara warga dengan TNI beberapa waktu lalu terkait perebutan lahan,” kata Suci menyontohkan.

Alasan lain menurutnya adalah adanya kedekatan emosional antara pihaknya dengan warga sekitar sejak 2011 lalu.

Sedikitnya ada 20 peserta dari berbagai  wilayah di Jawa Barat turut hadir dalam acara yang berlangsung sejak tanggal 5 hingga 8 Juni itu.

Menurut Suci, alasan diadakannya Sekolah Anti Kekerasan itu bermula dari keresahan tim Kompak atas meningkatnya aksi-aksi kekerasan di Indonesia. Selain itu, pelatihan ini bertujuan untuk membentuk agen-agen perubahan yang mampu menjadi penggerak anti kekerasan di berbagai daerah.

Beberapa materi yang diajarkan dalam pelatihan itu diantaranya; wacana anti kekerasan, pengantar HAM, manajemen konflik dan resolusi, teknik investigasi, teknik pengorgnisasian, analisa sosial, kampanye sosial, jurnalis kerakyatan, serta teknik advokasi.

Selain memberikan materi pelajaran, tim Kompak juga mengajak peserta turun langsung ke masyarakat untuk mempraktikkan materi-materi yang mereka terima berlandaskan prinsip-prinsip kemanusiaan dan anti kekerasan.

“Dengan mengikuti pelatihan ini kami berharap, mereka dapat menerapkan pengetahuan yang telah didapatnya di tengah  lingkungan masing-masing sebagai upaya menepis kekerasan yang terus berkembang,” pungkas Suci di akhir perbincangan. (Malik/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top