Wednesday , September 18 2019
Breaking News
GIC: Saatnya Menggemakan Gerakan Islam Cinta

GIC: Saatnya Menggemakan Gerakan Islam Cinta

“Ini bid’ah! Kamu sesat! Kafir!”

Pernah mendengar ada sekelompok orang yang begitu mudah melontarkan kalimat ini? Pernahkah Anda perhatikan bagaimana ekspresi mereka saat mengkafirkan, bahkan menganiaya orang yang berbeda pandangan dengan mereka? Inikah wajah Islam yang rahmatan lil alamin?

Menurut Haidar Bagir, cendikiawan Muslim sekaligus Ketua Gerakan Islam Cinta (GIC), tak bisa dipungkiri saat ini banyak bermunculan kelompok-kelompok Islam garis keras yang menampilkan wajah beringas dan intoleran. Meski sebenarnya jumlah kelompok ini sedikit, tapi militansi mereka sangat kuat dan selama ini dikenal sangat vokal.

Imbasnya, ujar Haidar, secara psikologis masyarakat awam mengira bahwa jumlah kelompok garis keras ini lebih banyak. Padahal faktanya tidaklah demikian. Islam di Indonesia sebenarnya lebih didominasi Islam bercorak tasawuf yang sangat toleran dan cinta damai.

Karena itu dia menyerukan agar masyarakat yang moderat dan toleran jangan lagi diam. Mereka harus tegas menyuarakan dukungannya terhadap Islam yang damai, sebagaimana salah satu tujuan didirikannya Gerakan Islam Cinta (GIC) yang digagasnya bersama 44 tokoh Islam moderat di Tanah Air.

Irfan Amalee, Sekretaris GIC menyebutkan bahwa program utama gerakannya adalah kampanye Islam rahmatan lil alamin di sosial media dan melakukan pelatihan terhadap para guru pendidikan agama Islam di berbagai penjuru Indonesia.  Semacam pelatihan yang belum lama ini berlangsung di Yayasan Imdad Mustadhafin (Yasmin) Jakarta Timur. 

Sulistiyo, Manager Program Pendidikan dan Layanan Sosial Yasmin, dalam perbincangan dengan ABI Press menyambut baik program GIC ini.

“Pelatihan yang menurut saya sangat bagus. Jadi mendorong agar orang bergerak bukan dengan kekerasan, tapi dengan cinta kasih,” ujarnya.

Selain itu, untuk memperkenalkan Gerakan Islam Cinta di masyarakat, GIC juga menggarap beberapa film populer yang mengusung pesan damai dan spirit toleransi. 

Tahun ini rencananya GIC akan melaunching film “Wahyu Bola,” yang menceritakan kesalahpahaman anak Kristen dan Muslim yang bertemu di pertandingan sepakbola, dan pada akhirnya keduanya bisa saling memahami satu sama lain.

Terkait hal itu Irfan menyebutkan, bahwa film populer merupakan salah satu sarana paling efektif mengampanyekan Islam cinta, Islam yang damai. (Muhammad/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top