Monday , December 9 2019
Breaking News
Sekolah Cinta Bangsa; Model Baru Pusat Studi Kebangsaan

Sekolah Cinta Bangsa; Model Baru Pusat Studi Kebangsaan

Berbagai pusat kajian atau pusat studi kebangsaan sudah berdiri dan menjalankan programnya di sejumlah tempat. Hasilnya bagus. Naskah-naskah akademik yang dapat dibaca di jurnal-jurnal nasional maupun internasional. Namun demikian, pengaruh kajian-kajian tersebut belum menyentuh perubahan sikap kebangsaan warga negara. Apakah sejatinya sebuah pusat kajian tidak memiliki tanggung jawab untuk proses-proses transformasi? Apakah hasil pusat kajian kebangsaan berupa naskah-naskah akademik sudah dianggap cukup untuk menjadi tugas sebuah pusat kajian, sedangkan tugas transformasi akan dikerjakan oleh pihak lain?

Aktivis yang menubuhkan Sekolah Cinta Bangsa memiliki perspektif lain tentang hal ini. Dalam lanjutan Serial Diskusi Kebangsaan, pada kelas inti yang diberi nama “Daras Kebangsaan” di kantor DPP Ahlulbait Indonesia, terungkap obsesi yang menggambarkan perspektif baru pada visi kajian kebangsaannya.

“Kita membutuhkan pekerja kebangsaan, pejuang yang lahir dari kesadaran kebangsaan Indonesia, bukan hanya pemikir keindonesiaan,” tegas salah seorang pembina SCB yang ditemui koresponden ABI Press pekan lalu di Jakarta. Pemikir kebangsaan saja menurutnya belum cukup karena yang dibutuhkan bangsa ini adalah penggerak transformasi kesadaran kebangsaan. Kini semangat kebangsaan itu amat rendah. Praktik penyelenggaraan negara yang jauh dari semangat kebangsaan, disertai dengan sikap apatis masyarakat, atau bahkan pihak-pihak yang mengantarkan kepentingan asing ke dalam negeri, adalah sebagian indikator melemahnya semangat kebangsaan tersebut.

Daras Kebangsaan adalah wadah yang dibuat untuk menyiapkan relawan kebangsaan yang tercerahkan untuk menyampaikan pesan-pesan kebangsaan ke segenap segmen sosial. Diharapkan proses pencerahan yang dimaksud menjadi landasan untuk membentuk kesadaran dan sikap kebangsaan yang lebih nyata.

Serial diskusi kebangsaan bernama Daras Kebangsaan ini akan diselenggaraaan setiap Sabtu sore selama 2 jam (13.00-17.00) selama 14 pekan setiap paket. Pada gelombang pertama ini proses rekrutmen masih dilakukan dengan hati-hati. “Kita butuh mutu pusat studi, sehingga peserta tetap kajian ini tidak mengharuskan jumlah peserta yang banyak. Boleh diikuti oleh banyak orang, namun yang terpenting adalah peminat topik kebangsaan, dan mereka yang berjiwa pejuang. Out put apa yang kita harapkan? Gampangnya, kita mau mencetak pekerja kebangsaan yang siap diterjunkan ke berbagai tempat untuk kepentingan kebangsaan,” pungkas Fulanah, salah seorang aktivis SCB kepada ABI Press.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top