Thursday , December 12 2019
Breaking News
Soekarno (Bag. 3)

Soekarno (Bag. 3)

Mewujudkan Fikiran Dalam Gerakan Konkrit

Setelah lulus dari THS (ITB sekarang), Soekarno mulai merumuskan apa yang yang ia analisa ke dalam tulisan “Nasionalisme, Islamisme, Marxsisme.” Dalam tulisan tersebut, Soekarno meyakini bahwa seluruh aliran politik yang ada di Indonesia dapat dipersatukan. Setelah menyelesaikan studinya, Soekarno benar-benar membulatkan tekad untuk terjun langsung ke dalam Pergerakan Kemerdekaan Indonesia. Pertumbuhan organisasi politik Soekarno di mulai dengan mendirikan Algemeene Studie Club yang didirikan di Bandung. Perkumpulan studi ini berkembang dan mempunyai cabang di beberapa kota di Jawa. Perkumpulan ini juga menerbitkan Majalah “Suluh Indonesia Muda” sebagai media pertukaran fikiran antar anggota organisasi, selain untuk menyampaikan pemikiran terhadap rakyat banyak.

Pada tanggal 4 Juli 1927 (umur Soekarno 26 tahun), Soekarno mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI). Taka setelah itu, pada tahun 1928 PNI dirubah menjadi Partai Nasional Indonesia yang memiliki program “Indonesia Merdeka Sekarang”. Hadirnya PNI dan program kemerdekaanya, menjadikan Pemerintahan Kolonial sangat marah dan berupaya dengan segala cara menghancurkan Soekarno dan membubarkan PNI. Mulai saat itulah Pihak keamanan Belanda mulai memata-matai Soekarno, bahkan menguntitnya hingga ke desa-desa yang selalu didatangi Soekarno untuk menyampaikan pidatonya kepada rakyat.

Soekarno dalam usahanya menyadarkan rakyat, menggunakan bahasa yang sederhana, yang gampang dicerna oleh rakyat lapisan bawah, dengan gaya yang amat menarik, yang belakangan disebut orang ‘Retorik’.

Revolusi Budaya

Dalam pembicaraanya antar kawan sesama pimpinan partai, Soekarno biasa dipanggil dengan sebutan “Bung” begitu juga Soekarno memanggil kawan-kawanya. Saat itu Soekarno menilai, bahasa Indonesia hanya dipakai kaum ningrat saja, sebab itulah revolusi budaya ia canangkan. Dari situ bahasa Indonesia dijadikan bahasa persatuan yang dipakai siapa saja, oleh seluruh rakyat Indonesia.

Ketika itu, Soekarno merasa perlu adanya rangkaian sebutan lengkap … disaat itulah dikembangkan sebutan Pak, atau Bapak, Bu atau IBU dan Bung yang berarti saudara. Di jaman Revolusi Kebudayaan inilah Soekarno mulai dikenal sebagai Bung Karno.

Penangkapan Pertama Bung Karno

Pendirian PNI dan dan terjadinya Sumpah Pemuda yang di Sponsori Bung Karno dinilai Belanda sangat berbahaya. Sebab, dalam kongres itu sudah dicapai Sumpah Pemuda dengan tiga unsur pokok yang amat kuat mempersatukan seluruh rakyat Indonesia, menjadi bangsa Indonesia.

Walau pihak Kolonial Belanda sangat mengawasi kegiatan Bung Karno, tapi Bung Karno tidak gentar untuk terus menggembleng masa rakyat, untuk menghidupkan semangat mereka agar sadar sebagai satu bangsa dan memiliki kemauan untuk merdeka.

Bung Karno dalam menggembleng masa rakyat, juga mengadakan penilaian atas perkembangan Internasional. Pada bulan Desember 1929 itu muncul issue tentang kemungkinan terjadinya Perang Dunia II setelah Pada tahun 1918 Perang Dunia I berakhir. Issue itu dijadikan Bung Karno sebagai momen yang baik untuk dijadikan pembangkit semangat rakyat. Maka dalam pidato tanggal 29 Desember 1929 di dekat Yogyakarta, Bung Karno berkata:

“… imperialis, perhatikanlah! Apabila dalam waktu tidak terlalu lama lagi perang pasifik menggeledek dan menyambar-nyambar membelah angkasa, apabila dalam waktu yang tidak lama lagi Samudra Pasifik menjadi merah oleh darah dan bumi di sekelilingnya menggelegar oleh ledakan-ledakan bom dan dinamit, maka disaat itulah rakyat Indonesia melepaskan dirinya dari belenggu penjajahan dan menjadi Negara merdeka.”

Pidato Bung Karno tersebut yang kemudian dijadikan alasan pihak Belanda melakukan penangkapan terhadap dirinya dan beberapa pimpinan PNI. Bung Karno dianggap telah melanggar Undang-undang tentang penghasutan kepada rakyat atas pidatonya tentang “issue Perang Pasifik”. Meski di kemudian hari, penangkapan itu sudah dipersiapkan jauh hari sebelumnya oleh pihak Belanda.

Mereka kemudian dimasukkan ke penjara Banceuy, di ruang yang berbeda-beda. Selain ruang penjara yang kotor dan tanpa jendela, ruang penjara yang disediakan hanya berukuran lebar 1,5 meter dan panjang 2 meter. Pergerakan nasional pun seperti dalam keadaan jeda, dan tokoh-tokoh nasional berpikir dua kali untuk melakukan aksi, agar terhindar dari penangkapan.

Setelah melalui pengadilan dan dijatuhkanya vonis 4 tahun penjara terhadap Bung Karno, ia kemudian dipindahkan ke penjara Sukamiskin. Di rumah penjara ini Bung Karno berkontemplasi menyelami dirinya dan hubunganya dengan dunia, lalu mengambil kesimpulan: “Aku membiasakan diriku untuk menyadari bahwa cita-cita yang besar datangnya dari saat-saat yang sepi,…” (Malik)

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top