Thursday , November 14 2019
Breaking News
Dapatkah Sains Menggantikan Peran Agama?

Dapatkah Sains Menggantikan Peran Agama?

Telah kita ketahui bahwa antara agama dan ilmu pengetahuan tak ada pertentangan. Yang terjadi justru keduanya saling mengisi. Sekarang timbul satu pertanyaan lagi: Mungkinkah keduanya mengisi tempat masing-masing?

Jelaslah bahwa ilmu pengetahuan tak dapat menggantikan peran agama, karena agama memberikan kasih sayang, harapan, cahaya dan kekuatan. Agama meninggikan nilai keinginan kita, di samping membantu kita mewujudkan tujuan kita, menyingkirkan unsur egoisme dan individualisme jauh-jauh dari keinginan dan ideal kita, dan meletakkan keinginan dan ideal kita itu di atas fondasi cinta dan hubungan moral serta spiritual. Selain menjadi alat bagi kita, pada dasarnya agama mengubah hakikat kita. Begitu pula, agama juga tak dapat menggantikan peran ilmu pengetahuan.

Baca Murthada Muthahari: Islam, Sebuah Ideologi yang Lengkap

Melalui ilmu pengetahuan kita dapat mengenal alam, kita dapat mengetahui hukum alam, dan kita pun dapat mengenal siapa diri kita sendiri. Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa akibat dari memisahkan antara ilmu pengetahuan dan agama, telah terjadi kerugian yang tak dapat ditutup. Agama harus dipahami dengan memperhatikan ilmu pengetahuan, sehingga tidak terjadi pembauran agama dengan mitos.

Agama tanpa ilmu pengetahuan berakhir dengan kemandekan dan prasangka buta, dan tak dapat mencapai tujuan. Kalau tak ada ilmu pengetahuan, agama menjadi alat bagi orang-orang pandai yang munafik. Kasus kaum Khawarij pada zamah awal Islam dapat kita lihat sebagai satu contoh kemungkinan ini. Contoh lainnya yang beragam bentuknya telah kita lihat, yaitu pada periode-periode selanjutnya, dan masih kita saksikan.

Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah seperti sebilah pedang tajam di tangan pemabuk yang kejam. Juga ibarat lampu di tangan pencuri, yang digunakan untuk membantu si pencuri mencuri barang yang berharga di tengah malam. Itulah sebabnya sama sekali tak ada bedanya antara watak dan perilaku orang tak beriman dewasa ini yang berilmu pengetahuan dan orang tak beriman pada masa dahulu yang tidak berilmu pengetahuan.

Baca Murthada Muthahari: Penyebab Berpikir Keliru dalam Agama

Lantas, apa bedanya antara Churchill, Johnson, Nixon dan Stalin dewasa ini dengan Fir’aun, Jenghis Khan dan Attila pada zaman dahulu? Dapatlah dikatakan bahwa karena ilmu pengetahuan adalah cahaya dan juga kekuatan, maka penerapannya pada dunia material ini tidaklah khusus.

Ilmu pengetahuan mencerahkan dunia, spiritual kita juga, dan konsekuensinya memberikan kekuatan bagi kita untuk mengubah dunia spiritual kita. Karena itu, ilmu pengetahuan dapat membentuk dunia dan manusia juga. Ilmu pengetahuan dapat menunaikan tugasnya sendiri, yaitu membentuk dunia dan juga tugas agama, yaitu membentuk manusia.

Jawabannya adalah bahwa semua ini memang benar, namun masalah pokoknya adalah bahwa ilmu pengetahuan adalah alat yang penggunaannya tergantung kepada kehendak manusia. Apa saja yang dilakukan oleh manusia, dengan bantuan ilmu pengetahuan dia dapat melakukannya dengan lebih baik. Itulah sebabnya kami katakan bahwa ilmu pengetahuan membantu kita mencapai tujuan dan melintasi jalan yang kita pilih.
Jadi, alat digunakan untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Sekarang pertanyaannya adalah, dengan dasar apa tujuan itu ditetapkan? Seperti kita ketahui, pada dasarnya manusia adalah binatang. Sisi manusiawinya merupakan kualitas (kemampuan) yang diupayakannya. Dengan kata lain, kemampuan-kemampuan manusiawi yang dimiliki oleh manusia perlu ditumbuh-kembangkan secara bertahap dengan agama. Pada dasarnya manusia berjalan menuju tujuan egoistis dan hewaninya. Tujuan ini material dan individualistis sifatnya. Untuk mencapai tujuan ini, manusia memanfaatkan alat yang ada pada dirinya. Karena itu, dia membutuhkan kekuatan pendorong. Kekuatan pendorong ini bukan tujuannya dan juga bukan alatnya. Dia membutuhkan kekuatan yang dapat meledakkannya dari dalam, dan mengubah kemampuan terpendamnya menjadi tindakan nyata. Dia membutuhkan kekuatan yang dapat mewujudkan revolusi dalam hati nuraninya dan memberinya orientasi baru.

Baca Sikap Seorang Syiah dalam Menghadapi Perbedaan Menurut Murthada Muthahari

Tugas ini tidak dapat dilaksanakan dengan pengetahuan tentang hukum yang mengatur manusia dan alam beserta isinya. Namun tugas ini baru dapat dilaksanakan jika dalam jiwa manusia tertanam kesucian dan arti penting nilai-nilai tertentu. Untuk tujuan ini manusia harus memiliki beberapa kecenderungan yang mulia. Kecenderungan seperti ini ada karena cara pikir dan konsepsi tertentu tentang alam semesta dan manusia. Cara pikir dan konsepsi ini, serta muatan dimensi dan bukti cara pikir dan konsepsi tersebut, tidak dapat diperoleh di laboratorium dan, seperti akan kami jelaskan, berada di luar jangkauan ilmu pengetahuan.

Sejarah masa lalu dan sekarang telah memperlihatkan betapa buruk akibat yang ditimbulkan oleh pemisahan antara ilmu pengetahuan dan agama. Kalau ada agama namun tak ada ilmu pengetahuan, maka arah upaya kaum humanitarian adalah sesuatu yang tidak banyak membawa hasil atau tidak membawa hasil yang baik. Upaya ini sering menjadi sumber prasangka dan obskurantisme (sikap yang menentang ilmu pengetahuan dan pencerahan—pen.), dan terkadang hasilnya adalah konflik yang membahayakan. Kalau ilmu pengetahuan ada namun agama tidak ada, seperti yang terjadi pada sebagian masyarakat modern, maka segenap kekuatan ilmu pengetahuan digunakan untuk tujuan menumpuk harta sendiri, memperbesar kekuasaan sendiri, dan untuk memuaskan nafsu berkuasa dan nafsu mengeksploitasi.

Dua atau tiga abad yang baru lalu dapat dipandang sebagai periode mendewakan ilmu pengetahuan dan mengabaikan agama. Banyak intelektual mengira bahwa segenap problem yang dihadapi manusia dapat dipecahkan dengan ilmu pengetahuan, namun pengalaman telah membuktikan sebaliknya. Dewasa ini semua intelektual sepakat bahwa manusia membutuhkan agama. Meskipun agama itu tidak religius, namun yang jelas di luar ilmu pengetahuan. Sekalipun pandangan Bertrand Russel, materialistis, namun dia mengakui bahwa: “Kerja yang semata-mata bertujuan memperoleh pendapatan, maka kerja seperti itu tak akan membawa hasil yang baik. Untuk tujuan ini harus diadopsi profesi yang menanamkan pada individu sebuah agama, sebuah tujuan dan sebuah sasaran.”[6]

Dewasa ini kaum materialis merasa terpaksa mengklaim diri sebagai kaum yang secara filosofis materialis dan secara moral idealis. Dengan kata lain, mereka mengatakan bahwa mereka adalah kaum materialis dari sudut pandang teoretis, dan kaum spiritualis dari sudut pandang praktis dan idealistis. Bagaimanapun juga, problemnya tetap: mana mungkin seorang manusia secara teoretis materialis dan secara praktis spiritualis? Pertanyaan ini harus dijawab oleh kaum materialis sendiri.

George Sarton, ilmuwan dunia yang termasyhur, penulis buku yang terkenal, “History of Science” (Sejarah Ilmu Pengetahuan), ketika menguraikan ketidakberdayaan ilmu pengetahuan mewujudkan hubungan antar umat manusia, dan ketika menegaskan kebutuhan mendesak akan kekuatan agama, berkata: “Di bidang-bidang tertentu, ilmu pengetahuan berhasil membuat kemajuan yang hebat. Namun di bidang-bidang lain yang berkaitan dengan hubungan antar umat manusia, misalnya bidang politik nasional dan internasional, kita masih menertawakan diri kita.”

Baca Biografi Filsuf Muslim, Ayatullah Murtadha Muthahhari

George Sarton mengakui bahwa kayakinan yang dibutuhkan oleh manusia adalah keyakinan yang religius. Menurutnya, kebutuhan ini merupakan satu di antara tiga serangkai yang dibutuhkan oleh manusia: seni, agama dan ilmu pengetahuan. Katanya, “Seni mengungkapkan keindahan. Seni adalah kenikmatan hidup. Agama berarti kasih sayang. Agama adalah musik kehidupan. Ilmu pengetahuan berarti kebenaran dan akal. Ilmu pengetahuan adalah had nurani umat manusia. Kita membutuhkan ketiganya: seni, agama dan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan mutlak diperlukan, meskipun tidak pernah memadai.” (George Sarton, Six Wings: Men of Science in the Renaissance, hal. 218. London, 1958)

Manusia dan Alam Semesta, Atatullah Syahid Muthahari

One comment

  1. “Telah terdapat suri tauladan yang baik pada diri Nabi SAW.”

    Merujuk kutipan ayat Qur’an diatas, Saya membuat definisi agama adalah suri tauladan atau; suri tauladan itulah agama.

    Suri tauladan ada akibat kesadaran. Kesadaran muncul akibat pengetahuan. Pengetahuan terlahir dari yang disebut Ilmu.

    Hadist : “Ilmu itu bukanlah engkau pandai meriwayatkan sesuatu, tetapi Ilmu itu adalah Nuur, yang diturunkan didalam dada yang bermanfaan untuk mendekatkan diri kepada Allah & menjauhkan diri dari kesombongan”

    Hadist : “Ilmu itu Nuur (cahaya)”

    Saya buat analogi ; ada dua orang atau lebih, masing dihadapan mereka tersedia minuman yang baik lagi bermanfaat. Tiap-tiap mereka dengan jenis menumannya tersendiri, ada teh, kopi, juice jeruk dll. Tiap orang dengan sensasi rasa yang dia rasakan dari jenis minumannya, ketika rasa manis, asam atau pahit masih dalam bentuk rasa maka inilah wujud yang katakan Ilmu. Ketika rasa yang dirasakan sudah mampu diinterpretasikan dalam bentuk bahasa maka disinilah posisi yang disebut Pengetahuan. Didalam Ilmu sudah tentu ada pengetahuan tapi tidak mutlak disetiap pengetahuan ada ilmu. Sebab Ilmu berkonotasi dengan kata cahaya, sedangkan cahaya itu apabila menempati ruang maka segala sesuatunya menjadi jelas. Sesuatu diyakini menyimpan kebenaran hanya apabila telah bisa dibuktikan lewat sains. Maka ketika masih ada orang yang berpikir bahwa antara agama & sains merupakan dua hal berbeda maka dapat dipastikan kefahaman orang tersebut belum cukup dalam. Bahkan antara agama & sains dalam perjalanannya saling bersinergi ibarat dua buah kaki yang senantiasa saling mendahului dalam melangkah.

    Yang ingin Saya katakan disini adalah bahwa pada dasarnya agama itu isinya adalah sains (hal ini jika agama dimaksud dalam pengertian yang hasanah/baik). Tidak ada satupun isi daripada kitab Al Qur’an yang bertentangan dengan sains. Dengan kata lain, Al Qur’an itu merupakan inti sari dari pada sains. “tidak ada yang ghaib dilangit maupun dibumi, semua terdapat pada kitab yang nyata”. Tidakkah kita sadari !?? apa sebenarnya yang dimaksud “kitab yang nyata” !?? yaitu apa-apa yang ada disekeliling kita yaitu alam semesta ini !. Alam semesta adalah sebenarnya kitab yang nyata itu & manusia juga merupakan bagian dari alam semesta itu. Inti sari alam semesta bisa terungkap hanya lewat pendekatan sains (ilmu pengetahuan). Ayat-ayat Qur’an begitu perspektifnya hingga mampu beradaptasi menurut kefahaman orang-perorangan yang hendak mempelajarinya. Didalamnya ada ayat-ayat yang mukhkamat, ada yang muthasabbihat, tergantung kecendrungan jiwa seseorang itu, jika jiwanya cenderung kepada kebenara maka dia akan tertuntun dalam kebaikan & jika jiwanya cenderung kepada hawanafsunya maka dialah orang-orang yang merugi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top