Tuesday , October 22 2019
Breaking News
Dari Jepara Menuju Islam Damai

Dari Jepara Menuju Islam Damai

Oleh Hertasning Ichlas

Seusai azan Subuh, di sebuah hotel sederhana namun bersih bernama Elim, di Jepara, kami rombongan dari Jakarta tiba. Saya, Farid Gaban, Ahmad Taufik dan teman-teman YLBHU segera turun dan meluruskan badan di lobi hotel usai perjalanan Jakarta-Semarang-Jepara.

Suasana subuh yang hening dan tiupan angin dari pohon-pohon Mahoni yang rindang di muka hotel menggoda saya untuk membakar sebatang rokok. Lama sekali saya tak merasakan suasana syahdu seperti itu.

Farid Gaban segera masuk kamar diikuti seorang kawan lain. Saya, Ahmad Taufik dan beberapa kawan melipir ke DATA karena dijemput Pak Nasir selaku tuan rumah acara.

Sekejap bayangan saya tentang DATA akan mirip dengan kantor data atau semacam data center. Sampai kemudian kami belok ke jalan agak sempit menanjak melewati rumah penduduk dan melihat papan di sebuah bangunan dan tanah lapang tertulis: “Pesantren Darut Taqrib.” Ah, ini rupanya DATA!

“Ayo turun. Kami siapkan kopi dan teh juga sarapan. Kalau mau istirahat silakan masuk kamar,” kata Pak Nasir yang ramah.

Baru kemudian saya tahu dari Ustaz Miqdad Turkan bahwa pesantren Darut Taqrib ini dibangun secara swadaya dengan dukungan masyarakat, meniru sebuah lembaga di Mesir yang menawarkan persatuan dan persaudaraan Islam.

Santri-santri berbaju putih bergerak menuju masjid di pesantren itu. Sebagian sudah berkumpul di masjid dan mengumandangkan ayat-ayat Alquran dengan khidmat. Saya duduk menyeruput kopi di teras rumah yang menghadap masjid.

Usai salat subuh, para santri melantunkan selawatan dan puji-pujian kepada Nabi dan keluarganya. Saya duduk di bagian belakang masjid menikmati situasi pesantren yang rindang seraya mendengarkan lantunan syahdu para santri.

Pesantren Darut Taqrib dikelola oleh Ustaz Miqdad yang bermazhab Syiah. Namun masyarakat di sekitar menerima keberadaan pesantren itu.

Pesantren itu sering membuat kegiatan sosial bersama masyarakat. Mulai dari bersih-bersih lingkungan, khitanan, pengajian hingga bedah rumah. Kehidupan guyup terbantu oleh pandangan masyarakatnya yang terbuka dan toleran.

Pagi itu, Pak Nasir menyiapkan gudeg Jepara yang luar biasa lezat. Kikilnya agak putih. Nasinya menyatu dengan kuah gudeg yang tak lazim saya makan. Dia bilang ini gudeg cepat sekali habis. Dua jam saja sudah ludes. Tadi dia membeli gudeg bersama Pak Bupati yang menjadi pelanggan rutin.

Jepara terkenal kota yang damai dan harmonis dalam kehidupan beragama. Sunnah dan Syiah sering melakukan program bersama atau bermusyawarah bersama merumuskan suatu hal. Mereka berembuk menyelesaikan masalah kota dan soal-soal sosial keagamaan. Mulai dari kematian, acara ritual besar Islam hingga salat Jumat bersama.

Pernah suatu kali, mereka kompak menghalau provokator dari daerah lain yang mencoba membuat panas kota Jepara dengan membawa-bawa Perang Suriah dan propaganda isu Sunnah-Syiah.  Kelompok Islam di Jepara kompak menolak provokasi itu dan kegiatan seperti itu agar tidak dilakukan di Jepara. Provokator diusir!

Islam dan agama lain di Jepara juga hidup rukun. Jepara punya modal sosial masyarakat yang dewasa dan terbuka. Selain itu Jepara punya kepemimpinan politik seorang bupati yang berwibawa terutama karena sifat kenegarawanannya di soal-soal agama dan ruang publik.

Persis jam 9 pagi, kami kembali ke hotel Elim. Masuk ke kamar, bersih-bersih lalu menuju aula acara untuk registrasi. Sejumlah peserta tampak sudah berkumpul di ruangan.

Para peserta umumnya pengurus Ormas Ahlulbait Indonesia dari pelbagai daerah. Ada sekitar 16 perwakilan daerah datang di tempat ini. Mulai dari Kepulauan Riau, Kalimantan, hingga Sulawesi.

Mereka berkumpul untuk mengikuti workshop bagaimana menjadi humas dan pengurus yang kredibel untuk membangun suasana rukun dan damai di tempatnya masing-masing dan mengerti dengan baik isu resolusi konflik. Acara itu berlangsung selama 3 hari difasilitasi DPP Ahlulbait Indonesia (ABI).

Saya bersama beberapa kawan YLBHU datang membantu DPP ABI merancang dan meyelenggarakan acara sesuai tujuan. Farid Gaban menjadi salah satu narasumber bersama Samsu Rizal Panggabean dari Universitas Gadjah Mada dan Muhammad Miqdad dari Institut Titian Perdamaian.

Jepara menjadi tuan rumah karena menjadi contoh keberhasilan melakukan bina damai terutama antara Sunnah-Syiah. Ada banyak hal bagus dari Jepara dalam kerja sama Sunnah-Syiah di level akar rumput yang telah terjalin sangat baik.

Muslim di Jepara menjadi model menarik dalam resolusi konflik karena berhasil mempertahankan bina damai sebagai jalan keluar mengusir konflik. Di Jepara ada begitu banyak perbedaan, tetapi juga ada begitu banyak solidaritas sosial untuk mempertahankan hidup bersama yang manusiawi dan beradab.

Acara dibuka oleh sambutan Ustaz Miqdad Turkan selaku tuan rumah dan Ustaz Hassan Alaydrus sebagai Ketua Umum DPP Ahlulbait Indonesia.

Keduanya berceramah tentang pentingnya persaudaraan di dalam Islam dan jangan terprovokasi hasutan kebencian dan pecah-belah yang secara sistematis terjadi di Indonesia.

Ustaz Hassan menekankan sesuatu yang tak lazim dari ceramah-ceramah agama lainnya namun terasa sangat penting:  pembebasan nasib rakyat Indonesia dari kebodohan, kekurangan gizi dan kebergantungan terhadap kapitalisme.

Selama 3 hari sesi acara, saya menyaksikan para peserta mempresentasikan daerah mereka: cara mereka melihat dunia, realitas yang dihadapi dan pemerintah Indonesia. Mereka mengikuti sesi demi sesi dengan serius dan bersemangat. Mereka bertanya, menulis, simulasi kelompok dan presentasi. Sebagian dari mereka sudah berusia lebih dari 40-an tahun. Pada derajat tertentu keseriusan mereka membuat saya sangat terharu.

Saat presentasi program tiba, setiap daerah menjelaskan apa yang mereka lakukan untuk membangun situasi damai di daerah masing-masing.

Apa yang mereka lakukan jauh dari sempurna, tetapi dengan segala keterbatasan para peserta sampai pada renungan bahwa cara terbaik mempertahankan situasi damai di daerah mereka justru tidak dengan mengumbar perbedaan melainkan menemukan sebanyak mungkin kepentingan bersama.

Sunatan massal, fogging, donor darah, perbaikan gizi balita, bedah rumah, layanan kesehatan gratis, bangun jembatan, itu di antara yang preserta presentasikan sebagai program mereka.  Pelayanan sosial dan contoh teladan menjadi cara terbaik mereka menjadi muslim Syiah di Indonesia dan bergaul di kancah sosial.

Ada kesadaran kuat di tengah orang Syiah, setidaknya di antara peserta yang hadir, bahwa menjadi Syiah dan menjadi Indonesia adalah dua hal yang tak terpisahkan. Mereka ingin hidup dan mati menjadi Syiah dan orang Indonesia sekaligus. Itulah mengapa saat pembukaan acara, hal pertama yang mereka lakukan adalah menyanyikan lagu Indonesia Raya. Indonesia dan negara bangsa sering mereka sebut-sebut sebagai tempat pengkhidmatan sosial daripada ajang sektarianisme.

Usai makan malam dan masih di meja makan, saya bertanya kepada narasumber Pak Rizal dan Pak Miqdad.

“Apa kesan dan penilaiannya setelah mendengar dengan bahasa sehari-hari bagaimana orang Syiah Indonesia melihat dunia ini?”

“Pede. Mereka tahu bahwa mereka minoritas tapi tidak merasa sebagai korban. Mereka tahu masalah dan tak defensif. Siap menghadapi masalah. Bahkan punya solusi. Ini modal sosial yang bagus,” ucap Rizal Panggabean.

Sementara Miqdad di samping Pak Rizal menambahkan, “Mereka sangat terorganisir. Iman mereka yang membuat mereka tabah dan bersemangat,” ucapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top