Tuesday , March 31 2020
Breaking News
Diskusi : Benarkah Kesultanan Majapahit adalah Kesultanan Islam ?

Diskusi : Benarkah Kesultanan Majapahit adalah Kesultanan Islam ?

Ki Herman Sinung Janutama, penulis buku “Kesultanan Majapahit” memaparkan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa, kerajaan Majapahit merupakan Kesultanan Islam. Dalam diskusi ini dihadiri pula oleh dosen Sejarawan UI dan UNJ yang juga menyampaikan pandangan-pandangan mereka terkait tulisan Ki Herman tersebut.

[youtube]https://www.youtube.com/watch?v=w_yZdzWj95I[/youtube]

5 comments

  1. saya juga yakin selama ini kita belajar yang seolah olah benar ternyata hanya meninabobokan saja alias membodohi anak nusantara biar jauh dari sejatinya diri

  2. Historiografi memang berkembang. Penulisan sejarah tidak berahir tanda titik. Soal Majapahit kesultanan Islam Nusantara, merupakan kajian baru yang tentunya perlu diapresiasi. Karena sejarah ada banyak kemungkinan dan penafsiran.

    Akan tetapi, mengaji sejarah apapun termasuk Majapahit yang sangat besar ini, kita tidak akan mendapat pemandangan yang lebih lengkap jika hanya menggunakan satu sudut pandang atau jika hanya berdiri di satu sudut.Kita harus memandang Majapahit dari banyak sudut. Bagaimana dari sudut prasasti, naskah, cerita cerita rakyat, artefak artefik, dan seterusnya. Jangan sampai terutama para penulis dan peneliti sejarah Islam Nusantara berupaya menunjukkan eksistensi tua agama Islam di Nusantara, menunjukkan kegemilangan peradaban Islam di Nusantara, justru memunculkan kesuraman kesuraman baru soal kesejarahan kedatangan, penyebaran, dan perkembangan Islam di Nusantara

    Historiografi memang berkembang. Penulisan sejarah tidak berahir tanda titik. Soal Majapahit sebagai suatu kesultanan Islam Nusantara, merupakan kajian baru yang tentunya perlu diapresiasi. Karena sejarah ada banyak kemungkinan dan penafsiran.

    Sementara ini kita menganuti pendapat mainstream bahwa Majapahit yang didirikan raden Wijaya Kertarajasa Jayawardhana berhaluan negara Siwa.

    Ini didukung fakta bahwa dalam beberapa prasasti awal Majapahit, dewan agama Majapahit lebih dominan Kasaiwan yang memiliki 5 upapati siwa.

    Upapati atau hakim agama atau dalam istilah islam Qadi.

    Sementara Kasogatan atau urusan agama Boddha hanya satu upapati.

    Selanjutnya sampai jaman maharaja Sri Kertawijaya 1447M-1451M, berdasarkan prasasti Waringin Pitu 1447M, kita kenal dua hakim agama Boddha dan 4 hakim Siwa.

    Menunjukkan agama Siwa lebih dominan.

    Karena itulah, para sejarawan memandang Majapahit berhaluan Siwa.

    Meski pada faktanya, berkembang beberapa macam agama termasuk agama lokal Jawa serta agama Islam.

    Lalu mengapa hakim agama Islam atau Qadi sejak awal sampai ahir sama sekali tidak termuat dalam setiap prasasti keluaran para raja Majapahit?

    Ini kiranya suatu persoalan yang mesti dijabarkan para ahli sejarah terutama sekali Herman Sinung Janutama yang berpendapat Majapahit adalah suatu kesultanan Islam di Nusantara sejak awal.

    Pendapat atau teori yang menyatakan Majapahit kesultana Islam antaranya berpendapat bahwa Maulana Malik Ibrahim yang makamnya sekarang di Gresik, semasih hidup berposisi atau menjabat sebagai seorang Qadi atau hakim agama Islam di Majapahit.

    Pendapat saya, teori baru Ki Herman Sinung Janutama bahwa Majapahit Kesultanan Islam masih sangat perlu dikaji ulang. Dari rekaman video diskusi yang diunggah di Youtube, ternyata Herman Sinung Janutama dalam mengaji kesejarahan Majapahit menggunakan metode utama yaitu tradisi Jawa dimana dalam tradisi Jawa banyak sekali dengan lambang. Saya sepakat bahwa dalam tradisi Jawa atau Sastra Jawa penuh dengan makna pralambang sehingga ketika kita membaca jangan membaca secara leterlek karena ada banyak bacaan yang siningit alias tersembunyi yang harus kita terjemahkan atau tafsirkan.

    Ini video youtube diskusi Ki Herman Sinung Janutama yang saya lihat: https://www.youtube.com/watch?v=w_yZdzWj95I

  3. salam kenal.

    Historiografi memang berkembang. Penulisan sejarah tidak berahir tanda titik. Soal Majapahit kesultanan Islam Nusantara, merupakan kajian baru yang tentunya perlu diapresiasi. Karena sejarah ada banyak kemungkinan dan penafsiran.

    Akan tetapi, mengaji sejarah apapun termasuk Majapahit yang sangat besar ini, kita tidak akan mendapat pemandangan yang lebih lengkap jika hanya menggunakan satu sudut pandang atau jika hanya berdiri di satu sudut.Kita harus memandang Majapahit dari banyak sudut. Bagaimana dari sudut prasasti, naskah, cerita cerita rakyat, artefak artefik, dan seterusnya. Jangan sampai terutama para penulis dan peneliti sejarah Islam Nusantara berupaya menunjukkan eksistensi tua agama Islam di Nusantara, menunjukkan kegemilangan peradaban Islam di Nusantara, justru memunculkan kesuraman kesuraman baru soal kesejarahan kedatangan, penyebaran, dan perkembangan Islam di Nusantara

    Historiografi memang berkembang. Penulisan sejarah tidak berahir tanda titik. Soal Majapahit sebagai suatu kesultanan Islam Nusantara, merupakan kajian baru yang tentunya perlu diapresiasi. Karena sejarah ada banyak kemungkinan dan penafsiran.

    Sementara ini kita menganuti pendapat mainstream bahwa Majapahit yang didirikan raden Wijaya Kertarajasa Jayawardhana berhaluan negara Siwa.

    Ini didukung fakta bahwa dalam beberapa prasasti awal Majapahit, dewan agama Majapahit lebih dominan Kasaiwan yang memiliki 5 upapati siwa.

    Upapati atau hakim agama atau dalam istilah islam Qadi.

    Sementara Kasogatan atau urusan agama Boddha hanya satu upapati.

    Selanjutnya sampai jaman maharaja Sri Kertawijaya 1447M-1451M, berdasarkan prasasti Waringin Pitu 1447M, kita kenal dua hakim agama Boddha dan 4 hakim Siwa.

    Menunjukkan agama Siwa lebih dominan.

    Karena itulah, para sejarawan memandang Majapahit berhaluan Siwa.

    Meski pada faktanya, berkembang beberapa macam agama termasuk agama lokal Jawa serta agama Islam.

    Lalu mengapa hakim agama Islam atau Qadi sejak awal sampai ahir sama sekali tidak termuat dalam setiap prasasti keluaran para raja Majapahit?

    Ini kiranya suatu persoalan yang mesti dijabarkan para ahli sejarah terutama sekali Herman Sinung Janutama yang berpendapat Majapahit adalah suatu kesultanan Islam di Nusantara sejak awal.

    Pendapat atau teori yang menyatakan Majapahit kesultana Islam antaranya berpendapat bahwa Maulana Malik Ibrahim yang makamnya sekarang di Gresik, semasih hidup berposisi atau menjabat sebagai seorang Qadi atau hakim agama Islam di Majapahit.

    Pendapat saya, teori baru Ki Herman Sinung Janutama bahwa Majapahit Kesultanan Islam masih sangat perlu dikaji ulang. Dari rekaman video diskusi yang diunggah di Youtube, ternyata Herman Sinung Janutama dalam mengaji kesejarahan Majapahit menggunakan metode utama yaitu tradisi Jawa dimana dalam tradisi Jawa banyak sekali dengan lambang. Saya sepakat bahwa dalam tradisi Jawa atau Sastra Jawa penuh dengan makna pralambang sehingga ketika kita membaca jangan membaca secara leterlek karena ada banyak bacaan yang siningit alias tersembunyi yang harus kita terjemahkan atau tafsirkan.

    Ini video youtube diskusi Ki Herman Sinung Janutama yang saya lihat: https://www.youtube.com/watch?v=w_yZdzWj95I

    http://www.siwisangnusantara.web.id/2016/04/menyoal-majapahit-kesultanan-islam.html

    http://www.kompasiana.com/siwisang/tafsir-majapahit-kesultanan-islam_57038cdfe122bd0606157402

    • ahlulbait author

      Salam Kenal,
      Terima kasih atas perhatiannya, memang perlu kejelian dan kelapangan pandangan sehingga dapat memperoleh akurasi penjelasan yang tepat sasaran. Silakan tengok beberapa video Ki Herman Sinung Janutama adakah scene yang menjelaskan/menjawab pertanyaan SiwiSang. Atau selanjutnya akan coba kami ajukan pertanyaannya kepada Ki Herman.
      Terima kasih, salam semangat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top