Tuesday , August 20 2019
Breaking News
Dua Ustaz Memaknai Asyura

Dua Ustaz Memaknai Asyura

Masih teringat beberapa hari menjelang Asyura tahun lalu, ada dua momen kontradiktif yang saya alami di masjid kampus dalam waktu hampir berdekatan. Ketika khotbah Jumat, seorang ustaz yang namanya saya lupa, menyampaikan ceramah mengenai pentingnya taqrib Sunni-Syiah.

Sejenak hampir saya tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Mungkin kuping ini menipu atau saya dalam kondisi setengah sadar setelah menggarap laporan penelitian lapangan, “Masak iya khatib ini berani menyampaikan materi soal pentingnya taqrib di lingkungan yang didominasi kalangan ‘keras,’” pikir saya sembari menelisik lebih dekat siapakah sang khatib luar biasa itu. Dia sampaikan materinya dengan intonasi tegas namun lembut, argumentatif, mengajak hadirin agar tidak terkecoh oleh ulah segelintir kalangan yang hendak mempertajam skisma Sunni-Syiah di Tanah Air.

Disampaikan pula bahwa kesamaan Tuhan, kitab, dan rasul terakhir, sudahlah cukup untuk meyakinkan bahwa dua mazhab sepuh ini lebih banyak persamaan ketimbang perbedaannya. Lalu pada khotbah kedua sang khatib berpesan bahwa jika Syiah memperingati Asyura dengan kedukaan atas syahidnya Imam Husein sedangkan di sisi lain kaum Sunni berpuasa sebagai wujud syukur, hal demikian tidaklah perlu diperdebatkan mengingat kesucian hari kesepuluh di bulan Muharam tersebut dapat dimaknai secara beragam. Duhai, indah nian jika semua mubalig seperti beliau menyeru pada persatuan umat. Namun setelahnya, saya tak pernah lagi melihat beliau mengisi khotbah di masjid kampus.

Beberapa hari setelahnya ketika kalender Hijriyah jatuh pada 10 Muharam, sebuah peristiwa yang 180 derajat berbeda dari hari Jumat sebelumnya terjadi di masjid yang sama. Selepas shalat Ashar saya memutuskan mengobrol sejenak dengan beberapa adik angkatan. Di dalam, tengah berlangsung kajian mengenai keutamaan hari Asyura yang dihelat oleh lembaga dakwah kampus menghadirkan seorang ustaz. Terlihat sekitar 10 jemaah laki-laki dan perempuan, saya tertarik mendengarkannya dari luar sembari berbincang.

Mulanya tidak ada keanehan ketika sang ustaz menyampaikan keutamaan Asyura, namun tiba-tiba di tengah ceramahnya ia berkata, “Asyura itu hanya milik kaum Sunni saja. Tidak berhak jika kaum Syiah ikut mengklaim merayakan Asyura dengan meratap, melakukan ritual-ritual sesat, mengedepankan kesedihan untuk Husein.” Hadirin pun hanya manggut-manggut seolah mengamini ustaz tersebut. Baiklah, sesi ceramah ini sudah tidak sehat lagi, pikir saya sambil berpamitan untuk segera pulang.

Beberapa Pelajaran

Apa pelajaran yang bisa ditarik dari dua peristiwa di atas? Asyura sebagai sebuah hari bersejarah merupakan ujian bagi alim ulama di masa sekarang untuk bersikap arif mendewasakan umat dalam melihat perbedaan.

Mari kita lihat pada contoh ustaz pertama. Beliau tidak menyalahkan tradisi berpuasa sunnah pada hari tersebut, namun juga tidak menafikan fakta historis bahwa pada 10 Muharam 61 Hijriyah silam telah terjadi tragedi pilu pembantaian keturunan suci Rasulullah di sahara Karbala. Ini adalah langkah yang baik untuk mengenalkan kepada publik –yang saya yakin- sebagian besar masih belum pernah mendengar momen duka bagi seluruh penghuni langit dan bumi yakni kisah heroik syahidnya 72 manusia pilihan di hari Asyura.

Barangkali ustaz penganjur taqrib ini hendak mengamalkan amanat Bung Karno kepada bangsa Indonesia untuk tidak melupakan sejarah. Lebih dari itu, ustaz merangkap khatib ini secara implisit seperti hendak berpesan bahwa tidak perlu untuk menjadi seorang Syiah untuk dapat memahami makna Asyura dan Karbala. Asyura bersifat universal. Momen duka, cinta, dan epos kepahlawanan yang menyelimutinya tidak dibatasi oleh mazhab.

Tidak jadi soal jika berpuasa, tetapi setidaknya ingatlah pula lewat saudara-saudara Syiah bahwa Asyura menyimpan sejarah berdarah kebangkitan Imam Husein, kira-kira demikian yang mampu saya interpretasikan dari khotbah Jumat itu.

Bagaimana dengan contoh ustaz kedua? Bukan bermaksud menyinggung, namun setidaknya dari beliau kita dapat mengambil i’tibar bahwa tidaklah bijak jika Asyura sebagai hari yang memiliki nilai sejarah dalam tradisi keIslaman diklaim sepihak milik mazhab tertentu sedangkan mazhab lain tidak boleh memaknai dan menghidupkannya.

Ini sama saja ibarat melarang  dua kelompok yang sama-sama berkewarganegaraan Indonesia merayakan 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan hanya karena alasan etnisitas yang berbeda, sebagai contohnya.

Lebih lanjut, mengkhawatirkan jika kemudian tidak ada pendewasaan pada pemikiran jemaah (yang semuanya adalah mahasiswa) untuk memahami sejarah Asyura dari perspektif lain akibat doktrin sang ustaz. Seolah ada upaya mengubur ingatan kolektif kaum muslimin tentang megatragedi yang hampir-hampir memusnahkan mata rantai emas keturunan Rasulullah.

Jika hanya hal baik-baik saja yang ditonjolkan, bahkan diimbuhi dengan klaim “versi sejarah paling valid dan paling berhak” untuk memperingati 10 Muharam, bagaimanakah umat ini di masa sekarang hingga yang akan datang mampu mengenal hari saat darah, cinta, dan ketaatan Imam Husein beserta pengikutnya mengalahkan pedang para penindas?    (Fikri/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top