Saturday , December 14 2019
Breaking News
Esensi Pahlawan Dalam Perspektif Islam

Esensi Pahlawan Dalam Perspektif Islam

Oleh: IZ Muttaqin Darmawan*

“Kalau saja saat itu (Perang Badar), Ali (Imam Ali Ibn Abi Thalib) tumbang, maka sejak itu tidak akan ada seorang pun di kolong langit ini yang menyembah Allah SWT.”

Perang Badar adalah perang pertama setelah Rasulullah Saw hijrah ke Madinah, yang dalam perspektif beliau adalah perang yang sangat menentukan jalannya sejarah peradaban Islam di kemudian harinya. Oleh sebab hasil perang itu menentukan apakah Islam bertahan hidup, atau mati yang kemudian oleh Allah SWT digulung lalu dimasukkan ke dalam ‘laci’ sejarah, yang tidak pernah dimunculkan kembali ke muka bumi.

Nilai kepahlawanan Imam Ali Ibn Abi Thalib yang memenangi perang Badar bersama Sayyidina Hamzah Ibn Abdul Muthalib ra, paman Nabi, sangat menentukan jalannya sejarah peradaban Islam di kemudian hari. Dalam perspektif Nabi Muhammad Saw, kepahlawanan Imam Ali adalah tulen dan tanpa rekayasa. Imam Ali laksana ‘tameng’ Nabi Muhammad Saw terhadap ancaman mati kaum musyrikin Quraisy Mekkah, ketika Islam di Madinah kala itu berada pada posisi tawar yang lemah. Bahkan Imam Ali menggantikan posisi Nabi Muhammad Saw di tempat tidur, ketika saat malam buta Nabi yang ditemani oleh Abu Bakar Shiddiq ra akan berangkat hijrah ke Madinah.

Pandangan Antara Pahlawan dan Pecundang

Fakta historis di atas itu bagi pembaca modern yang menggunakan logika sejarah yang jernih, dapat menerima pandangan spiritual dan politik umat Islam bahwa peran sejarah Imam Ali sejak awal peradaban Islam itu sepatutnya ditetapkan sebagai pahlawan sepanjang masa. Apapun alasan yang dibangun untuk menolak peran sejarah anggota Ahlul Bayt tersebut akan dibantah oleh orang terpelajar yang menjauhi fanatisme firqah.

Kondisi pemahaman pelbagai aspek dalam Islam yang berbeda, termasuk sikap terhadap peran sejarah para tokohnya pada awal-awal abad Islam, diakibatkan oleh doktrin firqah-firqah yang telah menggurita dalam sikap beragama sebagian umat dalam dunia Islam. Ada fakta untuk mendukung kebenaran studi ini, bahwa kepahlawanan Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib karramallahu wajha dalam perang Badar dianggap hal biasa saja, sehinga tidak memiliki efek sentimen keislaman bagi sejarah di kemudian harinya yang signifikan.

Bahkan ada sikap ekstrem di antara para ahli sejarah dari kalangan Islam Sunni di Timur Tengah yaitu Muhyeddin Al-Khayat dalam Tarikhul Islam yang dikutip oleh penulis sejarah Islam di Indonesia yaitu Yusuf Sou’yb, dalam Aliran-Aliran Sekte Syi’ah, yang menempatkan putra Imam Ali yaitu Imam Husain Ibn Ali sebagai pemberontak—alias pecundang—terutama sekaitan dengan peristiwa Karbala. Dianggapnya, Imam Husain Ibn Ali memang layak mendapat hukuman dan halal darahnya, yang berarti dianggapnya hanya mengotori sejarah peradaban Islam.[1] Bahkan lebih tragis lagi oleh sebab fanatisme yang berlebihan sekte ekstrem Islam, karena sangat menjunjung tinggi tauhid murni Allah SWT, maka dalam upaya mereka memberantas sikap kultus terhadap Nabi Saw telah dilampiaskan dalam bentuk pernyataan yang mencengangkan: “Tongkatku ini lebih berguna daripada Muhammad (maksudnya Nabi Muhammad Saw) karena dapat dipakai  untuk membunuh ular, sedangkan Muhammad (maksudnya Nabi Muhammad Saw) telah mati dan tidak tersisa sedikit pun manfaatnya.”[2]

Jelas sekali sikap ekstrem menyangkut para anggota Ahlul Bayt, apalagi menyangkut sosok Nabi Muhammad Saw dalam peradaban Islam selaku tokoh sentral pembuat sejarah, sebagai suatu ironi yang membuat para pembaca modern yang masih memiliki hati nurani menangis sedih.

Nilai Kepahlawanan Nabi Muhammad Saw dan Ahlul Bayt di Atas Panggung Sejarah

Bahwa perang Badar tampil menjadi ujian bagi keberadaan Islam selanjutnya, diakui oleh semua penganut firqah Islam. Tapi peran sejarah Imam Ali Ibn Abi Thalib sebagai pahlawan Islam sejak perang Badar itu tetap menimbulkan perdebatan disebabkan sentimen firqah. Begitu pula dalam memandang peristiwa Karbala dengan gugurnya cucunda terkasih Nabi Saw, Imam Husain Ibn Ali, yang melahirkan tragedi besar dalam sejarah dunia Islam, telah menempatkan sikap umat Islam dalam kultur beragama yang berlawanan secara diametral.

Sementara itu bagi peneliti sejarah Islam era modern yang memiliki kejernihan pandangan dan objektivisme studi, justru sejalan dengan pandangan ratusan tokoh dunia Islam dan juga di luar Islam baik Barat maupun Timur sebagaimana nanti akan dikemukakan. Mereka sangat mengagumi peran sejarah Nabi Saw serta para anggota Ahlul Bayt, yang berdiri tegar di atas panggung sejarah. Sungguh penilaian terhadap esensi pahlawan “ring satu” dalam kehidupan spiritual Nabi Saw sangat krusial jika dipengaruhi oleh sentimen firqah.

Bertolak belakang dengan sikap Muhyeddin tadi, justru pengakuan Abraham Lincoln seorang presiden Amerika Serikat (1842–1865) patut direnungkan untuk melawan sikap arogan salah satu sekte dalam Islam yang mengatasnamakan penegakan tauhid yang murni. Ucapan Lincoln itu yakni: “Al-Qur’an, Muhammad dan Husain adalah tiga simbol kesucian yang wajib dilihat dengan penuh kesucian pula, karena pada ketiganya terdapat contoh idealisme penghormatan terhadap hak asasi manusia.”[3]

Sekarang dengan berlalunya masa kejumudan Islam selama berabad-abad, haruslah diisi oleh kejernihan hati dan logika sejarah untuk menyaksikan bahwa ratusan pemimpin dunia modern, baik dari kalangan dunia Islam maupun dari luar dunia Islam, sama-sama mengakui kepahlawanan Nabi Saw dan kedua tokoh Ahlul Bayt itu. Pengakuan tulus dan ikhlas para pemimpin dunia modern Islam antara lain dari Syaikh Muhammad Abduh, mufasir besar Mesir, dari banyak tokoh dunia Islam lainnya: “Peristiwa yang dialami Imam Husain adalah sebuah peristiwa besar yang mengguncangkan dunia Islam hingga hari ini, karena ia telah meletakkan fondasi keadilan dan menuntut dikembalikannya hak-hak kaum tertindas yang selama ini terampas.”[4]

Kalangan nasionalis Muslim pun tidak ketinggalan mengagumi cucunda Nabi Saw, seperti Bung Karno pemimpin terkemuka dalam revolusi Indonesia dengan pengakuannya: “Husain adalah panji berkibar yang diusung oleh setiap orang yang menentang kesombongan di zamannya, di masa kekuasaan itu telah tenggelam dalam kelezatan dunia serta meninggalkan rakyatnya dalam penindasan dan kekejaman.”[5]

Lengkaplah sudah setelah pernyataan kedua tokoh yang mewakili sederet tokoh dunia modern Islam, oleh sebab tokoh di luar Islam pun sama-sama mengagumi kepahlawanan Imam Ali Ibn Abi Thalib dan Imam Husain Ibn Ali, sebagaimana kekaguman pemimpin spiritual Buddha Tibet, Dalai Lama, dengan berucap: “Jika sekiranya agama Buddha memiliki dua tokoh agung seperti Imam Ali Ibn Abi Thalib dan putranya, Imam Husain dan memiliki buku Nahjul Balaghah serta peristiwa Karbala, maka niscaya tak akan tersisa manusia di muka bumi kecuali menjadi penganut Buddha.”[6]

Suatu pengakuan tulus, betapa Dalai Lama dengan agama Buddha Tibet yang dipeluknya sangat merindukan tokoh agung sekaliber kedua anggota Ahlul Bayt tersebut. Begitu pula Mahatma Gandhi pemimpin nasionalis dan pendiri negara India merdeka, dengan pengakuan tulusnya tentang Imam Husain: “Kami telah banyak belajar dari Husain, bagaimana ketika menjadi orang yang dizhalimi tapi mendapatkan kemenangan.”

“The First Hand Religion” dan “The Second Hand Religion”[7]

Ada penemuan menarik tentang wacana sejarah khususnya peradaban Islam antara Sunni dengan Syiah yang melahirkan beberapa versi bahan bacaan umat Islam. Adanya studi disiplin ilmu–dalam lingkup pendidikan formal, informal, maupun non-formal–yang mengkaji beragam versi bahan bacaan yang lahir, menemukan adanya faktor yang melatarbelakangi perbedaan pandangan para penulis sejarah awal peradaban Islam. Antara lain faktor pertama, yaitu oleh sebab begitu teguhnya para penulis sejarah pada ajaran firqah yang mereka anut, sehingga mengunci intelektualitas dan nalar mereka di dalam kerangkeng kejumudan dan statisme yang dogmatis terhadap fakta telanjang sejarah.

Hal tersebut sama saja ketika para ulama terlibat percekcokan di lapangan teologi, filsafat, syariah dan yang lainnya dalam konteks Islam, yang semula bersumber dari ‘the first hand religion’ yaitu Islam yang diterima langsung oleh ‘tangan pertama’ yaitu Nabi Muhammad Saw dari Allah SWT di dalam Kitab Suci-Nya, Al-Qur’an. Setelah diperdebatkan oleh para ulama dan cendekiawan Islam, maka status ajaran Islam itu menjadi ‘the second hand religion’ alias ‘agama bekas’ yang memunculkan berbagai firqah, sehingga di dalam memandang peran sejarah seorang tokoh ‘ring satu’ dalam kehidupan spiritual Nabi Saw pun, seperti tentang posisi Ahlul Bayt dan para sahabat besar beliau, terjebak dalam perdebatan di antara mereka tentang esensi pahlawan Islam yang harus mereka tetapkan.

Kemudian faktor kedua, adalah finansial (baca: imbalan jasa dari penguasa berupa uang atau yang dapat diuangkan), sehingga hasil penulisan sejarah itu bersifat subjektif, tidak objektif yang seharusnya sesuai dengan fakta telanjang sejarah. Hal ini dilakukan oleh penguasa untuk menopang kekuasaan diri dan keluarganya lewat bacaan litelatur, yang diharapkannya dapat melanggengkan ‘nama baik’ diri dan keluarganya itu, hingga berabad-abad kemudian. Upaya penguasa ini ternyata berhasil, karena hingga sekarang pun sejarah peradaban Islam yang ditulis penutur sejarah ‘bayaran’ telah melembaga dalam benak intelektualitas umat Islam, termasuk di kalangan terpelajarnya.

Adanya pelbagai versi sejarah Islam yang berlainan, mengakibatkan distorsi (penyimpangan) sejak awal-awal abad Islam, seharusnya diakhiri.

Sekarang di abad modern ini, sikap objektif tanpa diselimuti kejumudan faham sudah waktunya dibangun, untuk menganalisis secara kritis setiap informasi yang ditulis oleh para sejarahwan  peradaban Islam di masa lalu, bahkan seharusnya sampai ke sumber awal abad pertama munculnya Islam di Timur Tengah. Logika sejarah yang dibangun secara jernih dapat menyadarkan penalaran selama ini terhadap upaya penggelapan fakta telanjang sejarah oleh para penulis sejarah ‘bayaran’ di masa awal-awal Islam yang berkaitan erat dengan esensi pahlawan dalam perspektif Islam. Berdasarkan fakta yang disaring secara objektif tanpa diselimuti fanatisme firqah, akan mampu memilah-milah mana informasi sejarah yang berniali ‘emas’ dan mana pula yang hanya ‘loyang’ belaka.

Nilai Kepahlawan Nabi SAW dan Ahlul Bayt serta Para Sahabat Besar di Atas Pentas Sejarah

Sudah seharusnya setiap peneliti sejarah peradaban Islam tidak memiliki kapasitas sebagai pemilik firqah mana pun dalam melihat perspektif sejarah peradaban Islam, tapi semata-mata berdasarkan hasil pengamatan objektif. Hal ini dimaksudkan agar umat Islam setelah empat belas abad ditinggal Nabi Saw wafat, tidak terus-menerus terdistorsi oleh informasi sejarah yang terbukti salah, setelah dikritisi dengan pandangan lebih objektif.

Apakah informasi sejarah peradaban Islam sejak abad-abad lalu itu terbelah oleh versi dua mainstream Islam Sunni-Syi’ah? Jika kita mengambil contoh tayangan salah satu TV swasta di Jakarta dalam rubrik Islam, kita dapat mengatakan bahwa para ahli sejarah Islam dewasa ini pun, kebanyakan, tetap tidak beranjak dari sentimen firqah yang berada pada epicentrum sentimen firqah di Timur Tengah itu.

Menurut hemat penulis, perdebatan terbatas dalam wilayah “the second hand religion” alias “agama bekas” belaka, yang tidak perlu memperuncing sikap beragama. Meski begitu, pada realitanya tetap saja ada ruang yang memungkinkan muncul percekcokan teologis dan historis, seperti misalnya di dalam acara televisi itu, yang memberi porsi tinggi bagi para Sahabat besar yang tiga, sedangkan sosok Khalifah Ali Ibn Abi Thalib ra dinilai tidak sebesar kontribusi kepahlawanan mereka dalam menegakkan Islam pada awal peradaban itu muncul.

Apalagi tentang heroisme sang cucunda terkasih Nabi Saw, Imam Husain Ibn Ali, yang bahkan para tokoh top dunia di luar Islam sangat mengaguminya. Sungguh tragis, kala peristiwa gugurnya sang cucunda terkasih Nabi Saw itu, dengan kepala terpenggal, kemudian distigmakan sebagai “pemberontak” dan “pengkihianat,” cap tertentu yang memunculkan sikap alergi. Kenyataan ini sebagai fakta tak terbantahkan berkaitan dengan perspektif firqah-firqah Islam.

Penutup

Membedah nilai esensi kepahlawanan dalam Islam yang terjadi empat belas abad yang lalu bukanlah perkara mudah, faktanya telah melahirkan pelbagai versi yang sama-sama dipertahankan oleh para penganut faham Islam. Maka dalam konteks esensi pahlawan yang meliputi Nabi Saw, para sahabat, dan Ahlul Baytnya, pembaca obyektif tidak akan terpengaruh dengan pandangan-pandangan yang mempertentangkan (mengadu domba) kontribusi  sahabat dan Ahlulbayt Nabi Saw pada awal-awal abad Islam. Pembaca obyektif akan menghindari penempatan dunia Islam dalam jurang perpecahan umat.

Jika pengaruh percekcokan antar firqah melahirkan perpecahan dan menenggelamkan esensi pahlawan dalam perspektif Islam, lalu kapan Islam menggarap pelbagai agenda besar meraih supremasi tinggi sebagai implementasi makna khilafah Allah SWT di muka bumi? Justru akibat percekcokan itulah mengapa dewasa ini Islam berada di bawah cengkeraman hegemoni dunia sekuler Barat dan Timur.

Oleh karena itu ajakan dari penulis, “si faqir yang dhaif” bahwa bagi seorang penimba ilmu seyogyanya berpikiran jernih hendaklah memasang sikap yang objektif, setelah menanggalkan egoisme firqah, dan menghindari ekstremisme yang boleh jadi ada di dalam tubuh firqah-firqah Islam. Lantas, mulailah renungkan kembali makna penegasan Nabi Saw ketika beliau bersabda setelah melewati saat-saat krusial dalam perang Badar yang menentukan jalannya sejarah Islam di kemudian hari, sebagaimana termaktub di awal tulisan ini.

*Dosen Sejarah Peradaban Islam, STAI Madinatul Ilmi, Depok.

[1]Lihat Yusuf Sou’yb, Aliran-Aliran Sekte Syi’ah, Jakarta Pustaka Alhusna, 1982, h. 28. Para pembaca modern dewasa ini akan bersikap kritis dan memandang tidak fair (tidak jujur) terhadap bukunya yang merujuk penulis kalangan Sunni Timur Tengah, seperti Muhyeddin Al-Khayat dalamTarikhul Islam (1935).

[2] Lihat rubrik Bayan, Cahaya Nabawi (majalah bulanan), No. 33, Th-III.

[3] Lihat Saed Zomaezam, Al-Imam Al-Husain Shaghil as Dunya (10 Hari yang Menggetarkan Dunia), Bairut, 1431/2010, alih bahasa Faisal Djindan, Jakarta, Papyrus, 2012, h. 44.

[4] Ibid, h.138

[5] Ibid, h.172.

[6] Ibid, h.60.

[7] Lihat William James, The Varietas of Religious Experiences.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top