Sunday , October 20 2019
Breaking News
Faktor Syiah dalam Masuk dan Tersebarnya Islam di Asia Tenggara (3)

Faktor Syiah dalam Masuk dan Tersebarnya Islam di Asia Tenggara (3)

Asal Mula Masuknya Islam Ke Asia Tenggara

Di sini akan berusaha menelaah batasan waktu yang disepakati tentang sejarah Islam di wilayah Melayu yang mencakup Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand terkait abad ke-13 hingga ke-16 Masehi. Berdasarkan kesepakatan yang diambil dari dokumen-dokumen historis terkait batu nisan, catatan perjalanan, dan sejarah lokal terdapat empat teori asal usul utama masuk dan tersebarnya Islam di Asia Tenggara (Arab, India, Persia, dan Cina) sebagai berikut:

Teori Arab

Pembahasan sebelumnya Faktor Syiah dalam Masuk dan Tersebarnya Islam di Asia Tenggara (2)

Teori bahwa Islam pertama kali masuk ke wilayah Melayu melalui orang-orang Arab Hadhramaut didukung oleh banyak pihak, seperti kaum Orientalis semisal Nieman, De Hollander, Pjin Apel (terkait tahun 1861 dan 1872 Masehi), M.B. Hoker, Ho E., Van den Berg, Frode F. Jacobsen yang dipaparkan dengan bersandar kepada catatan perjalanan Marcopolo, Sulaiman, dan Ibnu Batutah. Pendapat ini juga ditegaskan oleh para penulis dan peneliti pribumi seperti Alatas, Kaisar Majul, Haji Muzaffar Datuk Haji Mahmud, Asad Shihab, dan lain-lain. [Silahkan merujuk: M.B. Huger, Eslam dar Janub-e Syarqi-ye Asia (Islam di Asia Tenggara]

Hal yang perlu diperhatikan di antaranya pertama, disebabkan oleh adanya perhatian orang-orang Arab sayyid dalam menjaga silsilah nasab (keturunan), maka dokumen-dokumen dan genealogi para sayyid Hadhramaut yang berperan penting dalam masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia, Brunei, dan Filipina jelas dan mudah ditemukan. Hingga saat ini di Asia Tenggara terdapat hampir empat juta sayyid beserta silsilah keturunan yang jelas dan juga menjelaskan keturunan mereka.

Kedua, silsilah keturunan para sayyid Hadhramaut di wilayah Asia Tenggara berasal dari dua cabang keturunan, yaitu keturunan Ahmad bin Isa Al-Muhajir dan para sayyid Brunei yang raja Brunei saat ini adalah keturunan ke 26 dari Syarif Ali , demikian juga para sayyid Filipina yang merupakan keturunan Syarif Abu Bakar juga termasuk dari cabang lain para sayyid. Ketiga, hal penting dan perlu diperhatikan bahwa seluruh orang Arab Hadhramaut dan para sayyid Indonesia,
Malaysia, Brunei, dan Filipina sepakat bahwa keturunan mereka bercabang dari dua orang putera dan keluarga Ali bin Abu Thalib yang juga termasuk di antara para imam Syiah, yaitu Imam Hasan Mujtaba dan Imam Ja’far as-Shadiq.

Untuk lebih mengenal hubungan Syiah dengan orang-orang Arab sayyid Hadhramaut, perlu memperhatikan beberapa hal pokok berikut ini:
• Definisi kata ‘sayyid’
• Mengungkap alasan dan motivasi hijrah mereka ke wilayah ini
• Orientasi madzhab para sayyid

Sayyid
Sayyid sebuah kata bahasa Arab dari asal kata دویس) ِsebelum dii’lal) yang memiliki arti tuan dan junjungan. Adapun dalam istilah diperuntukkan kepada keturunan Hasyim, kakek Nabi Muhammad. Nasab sayyid ini disandarkan kepada keturunan Nabi Muhammad saw melalui jalur Fatimah, puteri beliau, dan Ali bin Abu Thalib (Imam pertama dalam Syiah dan Khalifah keempat dalam Ahl as-Sunnah). Sayyid memiliki dua cabang utama: Qaisar Mujul, Al-Islam fi Al-Syarq Al-Aqsha (Islam di Timur Jauh); Syahir Mustafa, Mausu’ah Daur Al-‘Alam Al-Islami wa Rijaliha (Ensiklopedia Peran Dunia Islam dan Tokoh-tokohnya); Muhammad Dhiya’ Shahab, Al-Imam Al-Muhajir.

  1. Keturunan Ali melanjutkan generasinya melalui jalur tiga putera beliau, yaitu Muhammad Hanafi ah dari istri Khawlah binti Qais, Abbas bin Ali dari istri Ummul Banin, dan Umar bin Ali dari istri Sahba’ binti Rabi’ah. Mereka disebut para sayyid Alawi.
  2. Keturunan Hasan dan Husein—putera-putera Ali dari Fatimah— yang biasa disebut dengan para sayyid Hasyimi atau disandarkan kepada mereka yaitu Hasani atau Huseini. Putera-putera Fatimah berulang kali melakukan perlawanan pada masa khilafah Bani Umayah dan Abbasiyah (seperti yang pernah dilakukan oleh Zaid bin Ali dan Muhammad bin Abdullah bin Hasan Mutsanna yang dikenal dengan Nafs Zakiyah) dan membentuk berbagai silsilah yang jauh dari Arabia, seperti di Maroko, Yaman, Mesir, Gilan, dan Mazandaran semisal pemerintahan dinasti Idrisiyah (keturunan Idris, cucu Hasan bin Ali ) di Maroko, dinasti Fatimiah di Mesir, dinasti Mar’asyiah (keturunan Ali al-Mar’asy, cicit Ali bin Husein, kelompok Alawi Thabristan (dua cabang dari para sayyid Hasani dan Huseini Mazandaran) dan Bani Muhanna di Madinah. Makmun menunjuk Ali bin Musa dari keturunan Fatimah menjadi putera mahkota. Muhammad Khwarazm Shah ingin mencabut khilafah Bani Abbas dan menyerahkannya kepada salah satu keturunan Fatimah. Puteri seorang sayyid disebut sayyidah, alawiyah atau syarifah memiliki ibu sayyidah dan ayah non-sayyid biasanya bila laki-laki disebut mirza dan bila perempuan disebut mirzayah. Sayyid Hasyimi yang menurut pandangan sebagian ulama lebih kuat dan mulia, melalui jalur ibu dan sayyid Alawi melalui jalur ayah. Secara ijma’ (konsensus), menurut seluruh ulama Syiah, terutama ulama kontemporer bahwa sayyid disandarkan kepada keturunan Fatimah, puteri Nabi Muhammad, dan mereka tidak menerima khumus (bagian seperlima).

Nama-nama famili terkadang dapat membawa kepada nasab seseorang. Sebagai contoh, bagan berikut ini memiliki ringkasan dari nama-nama tersebut:

Laqab

Laqab (gelar) yang diberikan kepada para sayyid terbagi menjadi dua: penisbahan dan penghormatan. Laqab penisbahan digunakan untuk menjelaskan nasab seseorang dan penisbahannya kepada kelompok atau kabilah tertentu, seperti Imami, Huseini, dan Hasani. Laqab penisbahan dipakai untuk menghormati orang-orang yang memiliki nasab kepada keluarga risalah. Para sayyid tidak menggunakan dengan sendirinya, sebagaimana yang berlaku pada para marja’ Syiah kontemporer yang sayyid, misalnya tulisan stempel Sayyid Muhsin Hakim adalah Muhsin at-Thaba’thabai Al-Hakim dan tulisan stempel Sayyid Abu al-Qasim Khui adalah Abu al-Qasim al- Musawi al-Khui. Pada zaman dahulu juga demikian dan dalam naskah-naskah manuskrip dan teks-teks kuno biasanya para sayyid tidak menamakan diri sendiri dengan laqab-laqab tersebut. Di Iran juga bila para sayyid menambahkan lafad ‘sayyid’ di depan namanya, tujuannya adalah untuk kebanggaan dan mengagungkan penisbahannya kepada keluarga risalah (Nabi Muhammad). Kasus seperti ini, sayyid adalah bagian dari nama dan sebuah laqab yang tidak terpisah. Sebagian laqab- laqab kehormatan, seperti amir, habib, sayyid, syarif, dan mirza dalam berbagai masa digunakan untuk mengagungkan para sayyid. [Hoseini Asykuri, Sayed Shadiq, Alqab As-Sadah (Gelar-gelar Para Sayyid), Qum, Majma’ Adh-Dhakhair Al-Islamiyah, 1419 H; Manabi’ Al-Lum’ah Ad-Dimisyqiyah; Tarikh-e Eslam va Estelahat-e Motadavel dar bein-e Mosalmanan]

Iran karena terdapat orientasi kepada Syiah di kalangan masyarakatnya, termasuk wilayah teraman di antara negeri-negeri Islam untuk anak cucu Nabi Muhammad yang masih tersisa. Banyak orang di Iran yang memiliki nama awalan sayyid. Nama-nama famili seperti Musawi, Hasyimi, Huseini, dan Thaba’thabai banyak dijumpai di tengah-tengah masyarakat Iran. Hampir di seluruh wilayah Iran terdapat makam-makam keturunan imam. Di Yaman terdapat keluarga Syiah dan Sunni sayyid, seperti Rasyidi, Qasimi, Mutawakkili, Hamiduddini, Zaidi, Murib, Shana’i, Sadah, Ats-Tsaqafi , dan Al-Waziri.

Di Irak, 90-95% sayyid adalah Syiah. Banyak di antara para sayyid membaur dengan kabilah-kabilah Arab selatan Irak supaya aman dari pembunuhan. Studi genetik mengindikasikan bahwa banyak di antara mereka memiliki nenek moyang yang sama. Sebagian nama famili para sayyid ini seperti Al-Yasiri, Az-Zaidi, Al-‘Araji, Al-Hasani, Al-Huseini, Thaba’thabai, Al-‘Alawi, Al-Qawalib, Al-Musawi, Al-‘Awadi, dan Al- Hayali. Demikian juga terdapat kelompok sayyid bermadzhab Sunni di Kurdistan, Irak.

Di Saudi Arabia terdapat banyak sayyid. Nama-nama famili seperti Al-Hasyimi (bin Hasyim), Al-‘Alawi, Al-Huseini, Al-Muslim, An-Nasir merupakan kelompok dari keluarga ini. Banyak orang di Lebanon yang mengklaim sebagai sayyid. Kaum Syiah Lebanon, terutama sejak masa pemerintahan Dinasti Shafawiah di Iran memiliki hubungan dekat dengan negeri ini. Diaspora atau hijrahnya para sayyid ke negeri ini terjadi pada abad ke-3 Hijriyah yang mana pada masa itu banyak sekali keluarga seperti Sailaqi, Hasani, Huseini, Musawi, dan Redhawian berhijrah ke wilayah Jabal Amil. Seluruh sayyid Libia bermadzhab Sunni. ‘Azuz dan Al-Hasyimi di antara kabilah yang masih tersisa dari para sayyid ini. [Ensiklopedia Persia (di bawah pengawasan Gholam Hosein Mosoheb), Pengantar: Alawi dan Sayyid]

Di selatan Asia, sekitar 14 juta orang mengklaim sebagai keturunan Nabi Muhammad. Nenek moyang orang-orang ini hijrah ke wilayah- wilayah tersebut dari negeri Arab, Persia, Asia Tengah, dan Turkistan. Dalam berbagai masa, para sayyid India membentuk pemerintahan kecil lokal, tetapi tidak berhasil memperoleh kekuasaan di seluruh anak benua India. Perkiraan jumlah sayyid di India dan Pakistan saat ini masing-masing sekitar tujuh juta dan di Bangladesh hampir satu juta jiwa.

Dalam tes genetik akhir-akhir ini, sekelompok peneliti dari Universitas Portsmouth Inggris dikepalai oleh Maziar Ashrafi an Benab dengan melakukan tes genetik kromosom (Y) di atas sekelompok sampel warga Iran sampai pada hasil bahwa sekitar 50 % orang-orang yang meyakini diri sebagai sayyid memiliki nenek moyang sama. Sebagaimana yang telah disinggung, para sayyid di Tenggara pada umumnya terbagi menjadi dua kelompok sayyid, Hasani, dan Huseini.

Kelompok pertama adalah keturunan Imam Hasan tersebar di Brunei dan Filipina. Keturunan para sayyid di Filipina yang kakek mereka adalah Syarif Abu Bakar, sejak permulaan abad ke-16 hingga akhir abad ke-17 Masehi menguasai sebagian wilayah Filipina kini yang berpenduduk Muslim. Di Brunei juga terdapar Syarif Ali, pendiri dinasti Kesultanan Bolkiah yang hingga saat ini masih berlanjut sampai ke generasi ke-26. [Syakir Mustafa, Mausu’ah Daur Al-‘Alam Al-Islami wa Rijaliha; Qaishar Mujul, Al-Islam Fi Asy-Syarq Al-Aqsha]

Kelompok kedua yang juga tidak sedikit jumlahnya dan tersebar luas di Indonesia, Malaysia, Singapura dan selatan Thailand, sampai kepada Husein bin Ali, putera kedua Ali dari Fatimah melalui jalur Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali al-‘ Uraidhi bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad Baqir bin Ali Zainal Abidin. [Reza Neyazmand, Syieh dar Tarikh (Syiah dalam Sejarah), Qalam Nevin, Tehran, 1987]

Dengan demikian, yang pasti bahwa para sayyid di Asia Tenggara, terutama mereka yang masuk dari wilayah Hadhramaut dan berperan dalam penyebaran dan perkembangan Islam di wilayah ini berasal dari keluarga yang memiliki hubungan dengan para sayyid Hasyimi dan dari keturunan puteri Nabi Muhammad dan Ali bin Abu Thalib.

Bersambung….

Dikutip dari artikelnya Ali Rabbani dalam buku Sejarah dan Budaya Syiah di Asia Tenggara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top