Sunday , October 20 2019
Breaking News
Faktor Syiah dalam Masuk dan Tersebarnya Islam di Asia Tenggara (7)

Faktor Syiah dalam Masuk dan Tersebarnya Islam di Asia Tenggara (7)

Faktor Syiah dalam Hipotesis Teori Cina

Wilayah Cina, dari penghujung Turkistan hingga pesisir laut Cina, meskipun tidak dikenal sebagai bagian dari wilayah Islam, akan tetapi sepanjang 13 abad yang lalu senantiasa menampung komunitas umat Islam di dalamnya. Dalam sejarahnya dengan jelas menunjukkan peran komponen Islami dalam dinamika-dinamika negeri. Karena signifikansi Cina dalam hubungan perdagangan, politik, dan internasional, selama berabad-abad yang silam kawasan ini menjadi tempat dan tujuan perdagangan banyak saudagar dan pedagang yang datang dari berbagai wilayah melalui jalur sutera darat dan laut untuk melakukan transaksi perdagangan dan pertukaran kebudayaan dengan warga setempat.

pembahasan sebelumnya Faktor Syiah dalam Masuk dan Tersebarnya Islam di Asia Tenggara (6)

Perdagangan orang-orang Arab dan Persia dengan bandar-bandar selatan Cina pada dekade-dekade awal Islam tetap berlanjut sebagaimana masa lalu. Hal ini telah membuka peluang munculnya pemukiman imigran Muslim di kawasan sekitar pesisir selatan dan sebagian wilayah lain. Sebagian menyebutkan sejarah masuk dan tersebarnya Islam di Cina pada masa-masa permulaan Hijriyah, meskipun masih perlu ditelaah lebih banyak lagi tentang pembuktian kisah-kisah Cina yang mendasarkan bahwa Islam masuk melalui Sa’ad bin Waqqash yang terdapat makam dengan namanya di sana, atau seseorang bernama Wahab Abu Kabsyah, termasuk famili Nabi Muhammad merupakan dai dan muballigh Islam pertama di Cina dan atau delegasi Islam pertama yang dikirim ke Cina berhubungan dengan masa khalifah ketiga.

Hal yang penting terkait peran Cina dalam memperkenalkan dan menyebarkan Islam di Asia Tenggara bahwa banyak referensi yang menegaskan para saudagar dan pedagang Islam Arab, Persia, dan India di tengah perjalanan perdagangannya dengan Cina berhenti di wilayah Melayu dan daerah-daerah sekitarnya. Dengan melihat peluang dan kemungkinan untuk menetap, berdagang dan berdakwah secara sementara dan permanen, mereka tinggal dan memperkenalkan atau menyebarkan Islam di sana. Berdasarkan anggapan ini, pembuktian teori apakah dai-dai Cina pertama berasal dari warga Islam pribumi ataukah warga imigran Muslim dari wilayah lain yang datang ke Cina dengan tujuan berdagang atau tabligh, tidak terlalu diuraikan.

Terkait peran faktor Syiah dalam teori Cina tidak terdapat petunjuk yang kuat dan telah terbukti, meskipun penting untuk disebutkan bahwa orang-orang Syiah Ismailiyah berpengaruh di wilayah-wilayah central Asia dan Turkistan. Begitu pula para sayyid berperan dalam memperkenalkan dan menyebarkan Islam di Cina. Sayyid Ajal Syamsuddin dari Persia, kapten salah satu kapal dagang yang besar berhasil mendirikan sebuah pemerintahan di barat daya Cina dan Yunnan yang dengan putera-puteranya memerintah selama bertahun-tahun. Demikian pula, sebagian referensi mengindikasikan berhentinya para sayyid Hadhramaut di sebagian daerah di Cina. Mereka sebelum masuk ke Asia Tenggara terlebih dahulu menetap di Cina. [Lihat: John Sin Lian, Tarikh-e Ravabet-e Cin va Iran (Sejarah Hubungan Cina dan Persia), Terjemah John Hun Nin, Pusat Studi Bahasa, dan Speak, Tehran 1385; Reza Moradi, Eslam dar Cin (Islam di Cina), Ostan-e Qods-e Rezavi, Masyhad, 1382]

Kesimpulan

Penduduk Asia Tenggara dalam sejarah telah sangat lama mengenal Syiah. Meskipun umat Islam kawasan ini pada umumnya bermadzhab Syafi ’i yang menjadi madzhab mayoritas di India, Persia pra Safawiyah dan juga Yaman, tetapi terdapat beberapa dokumen dan bukti akan kehadiran dan peran historis madzhab Syiah dalam masuk dan tersebarnya Islam. Arus-arus yang berpengaruh dalam penyebaran Islam, yang masuk wilayah ini dari Hadhramaut Yaman, India, dan Persia telah membawa serta sebagian ajaran religius dan kultural Syiah.

Anggap saja bahwa keturunan Arab dan sayyid Hadhramaut menganut madzhab Ahl as-Sunnah, akan tetapi realita bahwa mereka anak cucu dan keturunan Imam Ja’far Shadiq, pendiri madzhab Ja’fari (Syiah) dan juga terpengaruh madzhab ini, tidak dapat dipungkiri. Tasawwuf yang memiliki peran fundamental dalam proses Islamisasi di wilayah Asia Tenggara, dipengaruhi oleh doktrin-doktrin tasawwuf Syiah. Banyak tradisi kultural, literatur, dan mistik Melayu tidak hanya singkron dengan pandangan kaum SufiAhl as-Sunnah wal Jama’ah, bahwa menerima pengaruh dari ajaran-ajaran Syiah. Interaksi dan keharmonisan antarmadzhab Syiah dan Sunni di wilayah ini telah tumbuh sejak lama berdasarkan kecintaan penduduknya terhadap keluarga Nabi Muhammad dan juga pengenalan mereka terhadap budaya Syiah. Sedangkan konflik antar madzhab Syiah dan Ahl as-Sunnah di kawasan ini terkait dengan masa-masa terakhir karena muncul dan berkembangnya orientasi-orientasi ekstrim Islam di dalamnya.

Dikutip dari artikel Ali Rabbani dalam buku Sejarah dan Budaya Syiah di Asia Tenggara.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top