Wednesday , October 16 2019
Breaking News
Festival Islam Cinta

Festival Islam Cinta

Islam Cinta, sebuah gerakan yang dideklarasikan oleh beberapa tokoh, dilatarbelakangi munculnya kecenderungan baru sekelompok orang yang menampilkan Islam keras, marah, jauh bertolak belakang dengan Islam yang sesungguhnya ramah. Gerakan ini sekaligus mengingatkan kembali kaum muslimin atas dominasi cinta dalam agama Islam.

Rabu (3/6) Gerakan ini menggelar acara festival Islam Cinta di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Festival yang merangkum berbagai acara seperi talk show, bedah buku, diskusi, nonton film, bazaar, dan aneka hiburan tradisonal dan Islami ini dihadiri oleh para tokoh, artis, mahasiswa dan berbagai kalangan lainnya.

Kampus: Pilar Penyangga Islam Cinta

Rektor UIN, Prof. Dede Rosyada menyambut baik kegiatan ini. “Festival Islam Cinta, Gerakan Islam Cinta, sekaligus meneguhkan UIN Jakarta sebagai pilar penyangga gerakan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Sekaligus meneguhkan bahwa UIN Jakarta betu-betul anti radikalisme dan anti terorisme,” kata Dede. Ia juga menjelaskan bahwa di UIN Jakarta sedang dibangun gerakan saling menghargai perbedaan dan hidup bersama-sama dalam keragaman.

Mengubah Paradigma Terhadap Islam

Dr. Haidar Bagir, selaku Ketua Gerakan Islam Cinta menilai bahwa salah satu upaya gerakan ini dimaksudkan untuk melakukan perubahan paradigma terhadap Islam.

“Melakukan semacam pergeseran paradigma dari melihat Islam sebagai agama yang keras menjadi Islam sebagai yang penuh kelemahlembutan. Saya selalu mengutip, kalau dalam fenomenologi agama itu, para fenomenolog  itu membagi agama ke dalam dua kelompok. Agama berorientasi hukum dan satu lagi agama berorientasi cinta. Para fenomenolog itu, kecuali yang belakangan, yang lebih paham tentang Islam, itu selalu cepat menempatkan Islam sebagai agama berorientasi hukum. Padahal setelah dipelajari, kalau kita lihat dengan paradigma tertentu, paradigma yang benar, maka sesungguhnya Islam itu agama yang berorientasi cinta kasih. Kenapa Islam tampak sebagai agama yang berorientasi hukum? Dan yang hukum-hukumnya keras? Itulah persoalan paradigma. Paradigma itu kata orang, jendela tempat kita melihat kehidupan. Kalau kita melihatnya dari jendela yang keliru, maka akan melihat secara keliru,” ucap Haidar Bagir.

“Sekarang kita perlu memindahkan diri kita dari satu jendela ke jendela lain. Kalau kita melihat dari jendela lain, kita akan dapati agama Islam itu tidak lain kecuali cinta. Di dalam hadis di katakan misalnya, ’apalagi agama itu kalau bukan cinta?’ hadis lain, ‘agama itu cinta, cinta itu agama’. Sehingga kalau kita lihat ayat perang, kita akan dapati bahwa semuanya itu dilandaskan pada semangat cinta Islam, untuk memastikan kemanusiaan diselamatkan dari para penindas. Jadi, perang dalam Islam itu manifestasi dari sifat cintanya dalam Islam. Padahal kalau kita lihat dari paradigma yang berbeda, ayat tentang perang ini justru ayat yang mencegah perang. Jadi maksudnya apa? Orang itu suka menindas orang lain kalau melihat dirinya kuat, dan yang mau ditindas itu lemah. Maka supaya orang tidak bernafsu perang, buktikan diri kamu kuat. Kalau diri kamu kuat, orang akan mikir untuk nyerbu. Sehingga, peperangan justru bisa dihindari.”

Membendung Virus Radikalisme

Perwakilan deklarator Islam Cinta, Prof. Dr. Alwi Shihab dalam kesempatan yang sama menyampaikan urgensinya sebuah gerakan cinta dalam kondisi dunia Islam saat ini.

Dalam sambutannya ia menyampaikan, “Apa yang terjadi di Timur Tengah, mulai dari Afganistan dengan Talibannya, di Nigeria dengan Bokoharam, ISIS atau DAIS semuanya menjadikan kita khususnya di Indonesia khawatir kalau virus kekerasan dan radikalisme ini tidak dapat kita bendung.”

“Mengapa Gerakan Islam Cinta? Sebenarnya orang banyak lupa, bahwa inti ajaran Islam itu cinta kasih. Nabi diberi predikat roufurrahim, yang sangat santun, yang sangat pengasih. Bahkan di dalam Alquran, Allah menyebutkan Muslim sejati itu mereka yang mencintai Allah, dan dicintai Allah. Kata cinta yang diangkat. Bukan yang beribadah kepada-Nya. Bukan yang menyanjung-Nya. Tapi yang mencintai-Nya. Dari itu Ibn Arabi dalam satu ungkapannya, bahwa dalam tariqah yang beliau ajarkan maqam pertama dalam tariqahnya itu cinta kepada Rasulullah untuk kita dapat mencapai makrifatullah. Cinta kata kuncinya. Jadi gerakan cinta ini bukan gerakan baru. Tapi gerakan yang original.”

“Kalau kita tidak punya cinta kepada Rasul, kata Ibn Arabi, maqam berikutnya tidak akan kita capai. Maka Gerakan Islam Cinta kita harapkan menjadi suatu gerakan yang bisa menjadikan Indonesia jauh dari serangan virus-virus yang telah menjangkit beberapa negara. Baik di Timur Tengah, Afrika maupun Asia.”

“Fanatisme agama membenarkan cercaan. Membenarkan kebencian pada kelompok yang tidak sejalan. Membenarkan pengkafiran pada kelompok yang tidak sesuai dengan kelompok yang mengkafirkan. Mari jauhkan itu semua dan kita lestarikan, kita jadikan Gerakan Islam Cinta ini prinsip kita karena memang itulah yang Alquran ajarkan. Ajarkan cinta kepada sesama. Ajarkan cinta pada non-Muslim sekalipun. Jangan bertikai di dunia. Saling hormat menghormati. Nanti Allah swt. kemudian yang akan menyampaikan siapa di antara yang berselisih pandangan ini yang benar. Bukan kita mengambil alih hak prerogatif Tuhan dan mengkafirkan seakan-akan kita adalah Tuhan. Atau kita menyesatkan orang lain seakan-akan kita khalifah Allah yang dapat memvonis semua pemahaman yang tidak sejalan dengan kita.”

Islam dalam Hukum Nasional

Festival berlangsung seharian penuh dari pagi hingga malam hari. Salah satu kegiatan intinya adalah mendengar pandangan para tokoh dan cendekiawan tentang Islam Cinta pada sebuah talkshow hari itu.

Mantan ketua MK, Prof. Mahfud MD menjadi salah satu pembicaranya. Ia memaparkan bagaimana hubungan Islam dengan ke-Indonesiaan kita.

“Bernegara itu adalah berkonstitusi,” kata Mahfud. Menurutnya, negara dalam bentuk demokrasi, dengan masyarakat yang begitu majemuk hanya bisa jalan kalau diatur dengan konstitusi.

“Konstitusi itu sebenarnya mengatur hubungan-hubungan politik yang memberi peluang secara demokratis terhadap semua kelompok masyarakat tanpa membedakan asal-usul sosial, ras, gender dan lain-lain. Sehingga di situ tidak boleh ada diskriminasi.”

“Dulu saat membentuk konstitusi tentu ada perdebatan panjang. Terjadi satu perdebatan yang tadi, apakah kita ingin mendirikan negara berdasarkan Islam, atau negara kebangsaan. Kita tahu perdebatan dulu itu panas sehingga akhirnya diputuskan membangun sebuah negara kebangsaan dan Islam di situ sudah memperjuangkan ide-ide ke-Islam-an. Sehingga pada akhirnya konstitusi itu merupakan produk dari kompromi. Kompromi itu tidak bisa dihindari karena konstitusi itu secara teoritis merupakan resultante saja sebenarnya. Resultante dari semua aliran-aliran pemikiran yang diperdebatkan kemudian dikompromikan menjadi resultante, itulah konstitusi.”

“Kalau dalam bahasa agama itu kira-kira, konstitusi itu sama dengan mitsaqan ghalidhah, janji suci, kesepakatan yang harus ditaati bersama.”

“Lalu dimana posisi Islam di sini? Ada beberapa kemudian di dalam konstitusi itu yang menjadi politik hukum, atau penuntun hukum. Salah satu politik hukum nasional kita itu dalam konstitusi mengatakan bahwa hukum harus dibuat dalam rangka toleransi. Toleransi beragama yang berkeadaban. Tidak boleh ada dominasi dalam kelompok agama atas nama mayoritas dan minoritas karena keberagamaan itu merupakan forum internum. Keyakinan hati. Tidak bisa diukur, karena pemeluknya banyak harus dominan, pemeluknya kecil harus tidak boleh dominan, itu tidak bisa. Itulah toleransi beragama dan berkeadaban.”

“Oleh sebab itu saya katakan, tidak bisa hukum agama dijadikan hukum negara. Hukum agama untuk sendiri-sendiri. Hukum negara, hukum bersama, tapi tidak membunuh hukum agama di kalangan pemeluknya masing-masing.”

“Sumber suatu hukum itu bukan hukum. Sumber hukum itu bahan untuk menjadi hukum. Sumber hukum di Indonesia ada Islam, Kristen, Jawa dan sebagainya, diolah bersama menjadi satu yaitu hukum nasional. Hukumnya sendiri tidak mati bagi agamanya masing-masing.”

“Bagaimana membatasi kepentingan negara dan agama, mana yang didahulukan? Menurut pandangan yang salah, itu dikotomis. Mempertentangkan antara keperluan bernegara dan keperluan beragama. Saya katakan tidak ada. Itu bisa saling melengkapi dan saling menguatkan. Karena begini, saya urut saja, pikiran-pikiran bernegara menurut pandangan agama itu pertama bahwa negara itu sebagai syarat bagi kehidupan kita untuk bisa dapat hidup sebagai manusia yang beragama. Kalau kita tidak punya negara ya kita tidak bisa melaksanakan syariat dengan benar. Seperti halnya ketika kita dijajah Belanda dulu. Syarat agar bisa salat dengan baik, haji dengan baik, tidak akan kita dapati kalau tidak bernegara.”

“Lalu negara sudah kita dirikan. Sebagai negara milik bersama mengapa harus Anda pertentangkan? Kepentingan negara adalah kepentingan agama. Juga sebaliknya. Hukum agama bisa berlaku tidak bagi orang Islam? Begini, yang dikatakan hukum agama itu apa sih? Hukum yang diturunkan Tuhan prinsip-prinsipnya bisa diturunkan dalam bentuk hukum yang diciptakan manusia. Sehingga saya katakan, hukum-hukum yang ada di Indonesia ini sudah agamis. Hukum apa coba yang melarang kita melaksanakan agama kita dalam hukum nasional ini?”

“Negara di dalam hukum publik harus menciptakan hukum bersama yang mengayomi kehidupan bersama sehingga tidak bertentangan dengan agama. Tetapi hukum privat, hukum Islam privat itu sudah berlaku tanpa diberlakukan oleh negara. Hukum hak-hak Saudara mana yang menurut Islam dihalangi hukum nasional? Tidak ada. Negara menghendaki kita bersatu di dalam perbedaan. Sedangkan saling cinta di antara sesama manusia itu adalah ajaran Islam. Itu sudah diatur di dalam konstitusi. Dimana pertentangannya? Pilih agama atau negara? Pilih dua-duanya!”

Agama Islam dan Budaya Indonesia

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat yang juga narasumber dalam acara itu membawakan tema tentang hubungan Islam dengan budaya.

“Saya konsen selama ini lebih pada hubungan agama dan budaya. Agama, anggap saja dari langit sedangkan orang yang beragama itu penduduk bumi. Dan sebagai penduduk bumi kita tumbuh dan diasuh oleh budaya dimana kita tumbuh.”

“Di Timur Tengah itu tempat Islam lahir itu satu bahasa, satu daratan, satu agama, tapi umat Islam di sana terbagi lebih dari 22 negara. Pecah-pecah. Ketika mereka merdeka berbeda dengan Indonesia, hasil perjuangan. Tapi mereka merdeka ketika kekuasaan kosong. Ottoman Empire, 1924 habis, oleh Jerman, Perancis, Inggris dibagi-bagi saja kepada kepala-kepala suku, sultan-sultan. Dan sultan-sultan itu kelanjutan dari tradisis-tradisi konflik lama bertahun tahun. Makanya, batas negara-negara Timur Tengah itu sebagian nggak jelas.”

“Nah, Indonesia beda lagi. Indonesia itu justru kesultanan, kekhalifahan, sejak dari Aceh sampai Yogjakarta, sampai Banten, Cirebon, semuanya lebur mendirikan rumah yang namanya NKRI. Jadi beda sekali ceritanya. Di sini, kesultanan membubarkan diri, rela diserahkan untuk membangun negara. Sementara di sana, kesultanan pilihan mereka. Sampai sekarang kesultanan-kesultanan.”

“Yang ingin saya katakan, budaya di Eropa, Timur Tengah, Indonesia, ini beda. Bukan benih Islam cintanya yang berbeda, tapi lahannya, budayanya. Lahan ini yang perlu digemburkan.”

“Islam cinta juga begitu. Islam cinta memerlukan lahan, tanah. Di antara lahan tanah itu, juga kepastian hukum, berkonstitusi, damai, dan sebagainya.”

“Salah satu penyakit budaya adalah korupsi. Ini menarik dikaji. Kenapa? Lihat saja negara yang hukumnya sekuler, tingkat korupsinya lebih rendah. Tapi justru negara yang mayoritas Muslim, korupsinya tinggi. Bisa jadi pemahaman agama hanya dijadikan sebagai mekanisme pencucian dosa. Kalau melakukan dosa lalu pergi haji, umrah, maka nanti fitrah lagi, bersih lagi. Seakan-akan hukum pidana tadi diputihkan dengan ritual. Kalau kontruksinya seperti itu, pemahaman agama tidak lagi menjadi pembangun peradaban.”

“Saya tidak mempersoalkan Islam cintanya, Islam sebagai agama yang sangat kaffah, tapi lahan budayanya yang perlu ditata. Bagi saya, pemahaman tentang Islam luas sekali. Sebatas pemahaman saya begini, Islam itu dilahirkan sebagai manifestasi cinta Allah kepada manusia. Dari 99 nama, sebagai simbol keagungan-Nya yang tak terbatas, password atau PIN yang paling disenangi Allah adalah Arrahman dan Arrahim. Jadi apapun kalau tidak ada spirit kasih sayang Tuhan, itu tidak ada maknanya.”

“Jadi ketika awal, pohon cinta terancam bahaya oleh orang-orang pengrusak ya terpaksa perang. Perang itu melindungi pohon cinta. Tapi Islam bukan agama mesin perang. Awalnya ketika Belanda datang ke Indonesia melakukan agresi, ya kita perang. Ketika meraih merdeka kita perang. Tetapi Indonesia didirikan bukan untuk mesin perang. Tapi pada fase awal, terpaksa perang.”

“Nah, sayangnya sebagian kawan-kawan kita menjadikan hujjahnya merujuk ayat-ayat perang. Padahal perang itu pada masa-masa awal waktu itu diperlukan, tapi bukan niat agama didirikan untuk perang.”

“Misi Rasul membangun Madinah, peradaban. Dan Nabi Muhammad membutuhkan teritori, yaitu Madinah. Kita pun memerlukan rumah yaitu Indonesia. Sebuah agama, cita-cita tanpa rumah repot sekali. Saya pernah baca tulisan dari Pak Agil Siraj, ulama-ulama, kiai dulu itu kalau membangun pesantren itu yang dijadikan nama kan itu daerahnya, rumahnya. Pesantren Tebu Ireng misalnya, atau Tasik, Gontor, dan lain-lain.  Jadi bukan seperti pesantren al-Mujahidin, tapi nama daerah. Di situ mengindikasikan ada apresiasi, saling mendukung ke-Islam-an dan lokalitas karena kita hidup di bumi.”

“Memang sejarah Islam itu melahirkan tekstual kultur. Kultur teks. Kuat sekali. Ada sakralisasi teks. Makanya berbagai wacana dalam Islam itu sangat kuat pada teks. Orang bisa berdebat soal teks itu berjam-jam. Tapi kadang-kadang dia tidak menyentuh realitas sosial. Mengapa? Di sini terjadi pergeseran. Islam pada awalnya sangat induktif. Inklusif, empiris pada awalnya. Jadi sabda dan peristiwa itu sejajar. Sabda melahirkan peristiwa. Peristiwa mempengaruhi sabda. Tapi kemudian terjadi pembakuan dan pembekuan. Sehingga umat Islam berpikir deduktif. Ketika berpikir deduktif itu ayat-ayat dihafalkan, tapi kemudian dia sudah terputus dengan realitas empiris. Ini kritik yang perlu kita kaji selama deduktif thinking maka sulit memahami realitas. Ini yang dilihat sebagai tekstual kultur. Islam itu sangat empiris sekali. Tapi sekarang deduktif. Mengapa sains itu berkembang? Karena empiris, induktif.”

Pendekatan Konstitusional Melawan Radikalisme

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang diwakili Prof. Dr. Irfan Idris turut meramaikan acara itu. Ia dalam pemaparannya menuturkan bahwa kehadiran negara dengan lahirnya BNPT menyiapkan tiga hal: kebijakan, strategi, dan program nasional dalam pencegahan terorisme.

“Radikalisme ini merupakan upaya untuk melakukan perubahan yang sangat cepat, cepat sih bagus, tapi kalau sudah menggunakan kekerasan dan atas nama agama ini saya kira tidak ada tempatnya dalam Islam yang ramah, tapi Islam yang marah. Islam yang merangkul bukan yang memukul. Islam yang mengajak bukan Islam yang mengejek. Kita sering bicara Islam yang rahmatan lil alamin tapi para radikalis dan teroris selalu menampilkan Islam yang laknatan lil alamin.”

“Jadi strategi yang kita laksanakan di BNPT ada dua; kontra radikalisasi dan deradikalisasi. Kontra radikalisasi menggunakan strategi pendekatan menggunakan pendekatan dengan mengelaborasi filsafat komunikasi Alquran; Islam yang dirindu, mencintai, tegas tapi bukan kasar.”

“Program nasional pencegahan terorisme yang kita lakukan di antaranya kita melakukan pemberdayaan rumah ibadah. Menurut penelitian yang dilakukan 2012, ada 29 rumah ibadah yang dikudeta kelompok radikal. Katanya taklim, tarbiyah, halaqah, tapi di dalamnya hate speech. Dulu kita senang melihat anak-anak mengaji di masjid, surau-surau, tapi sekarang harus hati-hati. Pulang-pulang tidak mau cium tangan orang tuanya, hanya gurunya yang dianggap benar. Kafirlah kita, syiriklah Pancasila, semua, negara kita negara kafir dan lain-lain. Ini yang disebarkan.”

“Kita lakukan kontra radikal, kontra propaganda, kontra ideologi dan kontra-kontra narasi. Saya kira Festifal Islam Cinta ini masuk dalam program kontra narasi. Kontra narasi itu terbagi dua; kontra informatif, dan edukatif.”

“Program kita juga masuk ke Perguruan Tinggi, karena banyak Perguruan Tinggi yang menjadi persemaian radikalisme, di dakwah kampus. Lembaga dakwah kampus itu bagus. Hanya kalau tidak diaktifkan, mereka yang akan aktifkan. Rumah ibadah, Perguruan Tinggi, pesantren juga.”

“Di tengah-tengah kita. Masyarakat. Semakin ke dalam, tidak ada pendidikan Islam yang kaffah, masyarakat simpatik karena tidak mendapat keadilan, tidak mendapat kesejahteraan akan menjadi radikal. Teroris adalah anak kandung dari radikal. Tidak semua radikal itu teroris. Tapi semua teroris berangkat dari radikalisme. Semangatnya melangit. Pemahamannya mendangkal. Kalau di masyarakat terjadi pembiaran pasti akan kacau.”

“Faktor ekonomi dan teologis. Kemiskinan dan jalan tol menuju surga. Yang dilihat hanya surga dan neraka, halal dan haram tak melihat dan membumikan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin.”

Ragam Hiburan

Tari Saman, penampilan band Simfoni, pembacaan puisi, kesenian Angklung dan ragam hiburan lain juga dihadirkan pada festival itu. Hingga puncak acaranya di malam hari, diisi dengan launching film berjudul ‘’Ayat-Ayat Adinda’’ sebuah film bertema Islami yang digarap sutradara kondang Hanung Bramantyo. (Malik/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top