Tuesday , November 19 2019
Breaking News
Filsafat Berpuasa di Bulan Ramadan

Filsafat Berpuasa di Bulan Ramadan

Puasa memiliki berbagai dimensi dan dampak yang begitu banyak, baik dari sisi materi maupun maknawi (spiritual), dan yang paling penting dari semua dimensi yang ada adalah dimensi akhlak dan pendidikannya.

Di antara manfaat penting yang ada dalam puasa adalah melembutkan jiwa, menguatkan kehendak yang ada dalam diri dan menyeimbangkan insting. Seseorang yang melakukan puasa, selain harus merasakan kelaparan dan kehausan dalam wujudnya, ia juga harus menutup matanya dari kelezatan dan kenikmatan biologis, serta membuktikan dengan amal bahwa ia tidaklah seperti hewan yang terkungkung di dalam kandang dan rerumputan. Karena ia mampu menahan diri dari godaan nafsu dan lebih dominan dari hawa nafsu serta syahwatnya.

Pada hakikatnya, filsafat terpenting puasa terletak pada dimensi rohani dan maknawi. Yaitu, seseorang yang memiliki semua ikhtiar dan kewenangan dalam berbagai macam makanan serta minuman, yang di saat merasa lapar dan haus ia langsung bisa menikmati apa yang diinginkannya. Keadaannya sebagaimana pepohonan yang tumbuh menyandar di samping dinding yang terletak di pinggiran sebuah aliran air. Pepohonan semacam ini begitu lembut, kurang mampu bertahan dan sangat rentan terhadap serangan berbagai penyakit, serta tidak mempunyai kekuatan bertahan lama. Apabila beberapa hari saja akarnya tidak menyentuh aliran air, pepohonan ini akan segera layu dan menjadi kering.

Lain halnya dengan pepohonan yang tumbuh di sela-sela bebatuan sahara atau yang tumbuh di tengah gunung tandus dan di jalanan yang gersang. Pepohonan yang batang serta dahannya senantiasa dimanjakan oleh angin topan dan teriknya panas matahari yang membakar serta dinginnya angin musim dingin serta pepohonan yang tumbuh dengan segala kekurangan sejak masa dini pertumbuhannya ini, menjadikannya sebagai batang pohon yang tegar, kuat, penuh kemandirian dan pantang menyerah.

Demikianlah halnya dengan puasa. Ia memengaruhi jiwa manusia seperti ini dan pada batasan-batasan tertentu, ia akan memberikan pertahanan dan kekuatan kemauan dan daya dalam melawan segala peristiwa yang sulit. Ketika naluri liarnya telah terkontrol dengan baik, maka puasa ini akan memancarkan pula cahaya dan kejernihan di dalam kalbunya.

Ringkasnya, puasa dapat memberikan lompatan yang menakjubkan dari alam hewani menuju ke alam malaikat. Allah Swt berfirman, ”Supaya Kamu bertakwa.”(QS. aI-Baqarah: 183) Ayat ini menjelaskan filsafat diwajibkannya puasa yang mengisyaratkan pada kompleksitas hakikat tersebut.

Demikian juga, hadis masyhur ”Puasa merupakan perisai dalam menghadapi api neraka” mengisyaratkan pula tentang persoalan ini. Dalam hadis yang lain, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as bertanya kepada Rasulullah saw “Apa yang harus kita lakukan supaya setan menjauhi kita? Rasulullah saw bersabda, “Dengan berpuasa, wajah setan akan berubah menjadi hitam, infak di jalan Allah akan melobangi punggungnya, bersahabat karena Allah dan menjaga amal yang salih akan memotong ekornya, sedangkan beristigfar akan memutuskan urat nadi kalbunya.”

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as dalam Najh al Balaghah menjelaskan filsafat ibadah. Berkenaan dengan puasa, beliau berkata;”Puasa itu untuk menguji keikhlasan seorang hamba.”

Demikian juga di hadis yang lain, Rasulullah saw bersabda; “Sesungguhnya surga mempunyai sebuah pintu yang bernama Rayyan. Tidak seorang pun yang melewati pintu itu kecuali orang-orang yang berpuasa.”

Syeikh Shaduq dalam Ma’ani aI-Akhbar-nya ketika menjelaskan hadis tersebut menulis, “latar belakang pemilihan nama Rayyan untuk salah satu pintu surga ini adalah kesulitan yang biasanya dihadapi oleh orang-orang yang melakukan puasa, yaitu rasa dahaga. Ketika orang-orang yang berpuasa memasuki surga dan melewati pintu ini, mereka akan meneguk air minum yang ada di dalamnya, sehingga setelah itu mereka tidak akan pernah merasa kehausan lagi untuk selamanya”.

Baca pembahasan sebelumnya Apakah Filsafat Syafaat itu dan Apakah Syafaat merupakan Pendorong untuk Melakukan Dosa?

Dikutip dari buku 110 Persoalan Keimanan yang Menyehatkan Akal, Ayatullah Makarim Syirazi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top